Perang Amerika Vs Iran

Sekolahan di Iran Jadi Target Serangan Udara Israel, 57 Siswa Gugur

Sebuah serangan udara Israel yang menargetkan sekolah putri di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran menewaskan sedikitnya 57 siswa dan melukai 60 lainnya

|
Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja/IST
Gambar udara Minab, Provinsi Hormozgan, Iran 

Ringkasan Berita:Serangan udara Israel menghantam sekolah putri di Minab, Iran, menewaskan 57 siswa dan melukai puluhan lainnya. Iran merespons dengan serangan balasan serta menutup Selat Hormuz, memicu kekhawatiran lonjakan harga minyak global.

 

Tribunjogja.com --- Sebuah serangan udara Israel yang menargetkan sekolah putri di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran menewaskan sedikitnya 57 siswa dan melukai 60 lainnya.

Gubernur Provinsi Minab, Mohammad Radmehr, mengonfirmasi kepada kantor berita IRNA pada Sabtu (28/2/2026), sekolah Shajareye Tayabeh terkena serangan langsung. 

Ia menyebut sejumlah siswa telah gugur, sementara 53 lainnya masih tertimbun reruntuhan.

Radmehr menambahkan, operasi penyelamatan dan bantuan sedang berlangsung, dan situasi keamanan di kota berada dalam kendali.

Serangan ini terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan aksi militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu dini hari.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan serangan besar-besaran menggunakan rudal balistik dan drone, menargetkan wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan.

Waspada Lonjakan Harga Minyak

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dikerahkan untuk menutup Selat Hormuz, demikian disampaikan Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari pada Sabtu.

“Penutupan Selat Hormuz kini dilakukan oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ujarnya kepada Al-Mayadeen.

Langkah ini memicu kekhawatiran serius di pasar energi global. 

Menurut Dr. Hriday Sarma, pakar urusan internasional dan geoekonomi energi, para analis telah memperingatkan adanya premi geopolitik sebesar 10–25 persen bahkan tanpa blokade penuh. 

Jika gangguan semakin dalam, harga minyak berpotensi naik ke kisaran 100–120 dolar per barel.

Bagi negara-negara pengimpor minyak mentah, kondisi ini berarti inflasi bahan bakar dan pangan yang lebih tinggi, defisit transaksi berjalan yang melebar, serta risiko depresiasi mata uang.

Selain itu, lonjakan biaya asuransi, tarif pengangkutan, dan biaya lindung nilai hampir pasti terjadi. Dr. Sarma menegaskan bahwa tidak ada jalur perdagangan minyak yang dapat menjadi pengganti nyata bagi Selat Hormuz.

“Ketergantungan pada konvoi yang dikawal atau pengalihan sebagian hanya akan memperlambat arus, meningkatkan premi asuransi, dan menanamkan premi harga struktural ke dalam pasar minyak dan LNG,” jelasnya dikutip dari Sputnik.

Ia menambahkan, para pemangku kepentingan global harus bersiap menghadapi pasokan yang lebih ketat, biaya yang lebih tinggi, dan volatilitas berkepanjangan. (*)

Iran Digempur Amerika Serikat dan Israel, 53 Orang Dilaporkan Tewas

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved