Mengenal Sesar Aktif di Bogor dan Cara Masyarakat Bisa Lebih Siaga

Peringatan itu bukan sekadar teori. Guncangan pada 10 April 2025 lalu menjadi bukti nyata bahwa wilayah Bogor tidak lepas dari ancaman bencana.

Tayang:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
pixabay
Mengenal Sesar Aktif di Bogor dan Cara Masyarakat Bisa Lebih Siaga 

Selain itu, BIG juga akan memantau pergerakan sesar menggunakan teknologi geodetik. Monitoring ini dianggap krusial untuk membaca dinamika patahan dari waktu ke waktu dan memberi peringatan dini kepada masyarakat.

“Data ini akan sangat bermanfaat untuk perencanaan kota yang lebih aman. Kami ingin mendorong kewaspadaan sekaligus kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi di masa mendatang,” tegas Eka.

Mengenal Sesar Citarik

Mengenal Sesar Citarik
Mengenal Sesar Citarik (geologi.esdm.go.id)

Dilansir dari laman Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sesar Citarik dikenal melalui kelurusan aliran Sungai Citarik. 

Mengambil nama dari aliran Sungai Citarik, sesar ini telah aktif sejak zaman Miosen Tengah, sekitar 15 juta tahun yang lalu. 

Jalurnya membentang dari pantai tenggara Teluk Palabuhanratu, melewati Gunung Salak, Bogor, hingga Bekasi.

Patahan ini terbentuk sejak zaman Miosen Tengah (sekitar 15 juta tahun lalu) dan masih aktif hingga kini. 

Awalnya bergerak kombinasi mendatar dan vertikal, lalu sejak 2,5 juta tahun terakhir berkembang menjadi sesar mendatar mengiri.

Struktur ini dibagi menjadi tiga segmen utama-selatan, tengah, dan utara masing-masing dengan karakteristik seismik yang berbeda. 

Gunung Salak, yang merupakan salah satu gunung api aktif di Jawa Barat, berada di segmen tengah dari sesar ini. 

Sesar Citarik juga tercatat pernah memicu gempa di Kalapanunggal, Sukabumi pada 10 Maret 2020 dengan kekuatan M5,0.

Penelitian Sidarto dalam Jurnal Geologi dan Sumber Daya Mineral (2008) juga menegaskan dinamika pergerakan sesar ini.

Potensi Gempa di Jalur Padat

Sesar Citarik melewati kawasan strategis seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, hingga Palabuhanratu. Karena masih aktif, patahan ini berpotensi memicu gempa bumi.

Beberapa aktivitas seismik tercatat:

  • Gempa di Cidahu (Palabuhanratu)
  • Gempa Bogor pada 10 April 2025

Meski berkekuatan kecil, peristiwa ini menandakan aktivitas sesar masih berlangsung.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved