Mengenal Sesar Aktif di Bogor dan Cara Masyarakat Bisa Lebih Siaga

Peringatan itu bukan sekadar teori. Guncangan pada 10 April 2025 lalu menjadi bukti nyata bahwa wilayah Bogor tidak lepas dari ancaman bencana.

Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
pixabay
Mengenal Sesar Aktif di Bogor dan Cara Masyarakat Bisa Lebih Siaga 

TRIBUNJOGJA.COM – Kota dan Kabupaten Bogor kini mendapat sorotan serius dari Badan Geologi. 

Kawasan urban padat aktivitas ini ternyata berdiri di atas sejumlah patahan aktif yang meningkatkan risiko gempa bumi.

Peringatan itu bukan sekadar teori. Guncangan pada 10 April 2025 lalu menjadi bukti nyata bahwa wilayah Bogor tidak lepas dari ancaman bencana.

Hal ini diungkapkan Penyelidik Bumi Ahli Madya, Sukahar Eka Adi Saputra, dalam kegiatan Sosialisasi dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi Sesar Citarik Segmen Kota-Kabupaten Bogor di Sentul, Kamis (2/10/2025).

“Badan Geologi mengingatkan bahwa kondisi ini membuat Bogor rawan gempa bumi,” jelas Eka melalui keterangan tertulis, Jumat (3/10/2025).

Pemetaan Sesar Aktif di Bogor

Pusat Survei Geologi bersama Badan Informasi Geospasial (BIG) tengah melakukan pemetaan patahan aktif dengan skala 1:100.000.

Penelitian ini memakai teknologi modern, mulai dari LiDAR, seismik, gaya berat, hingga magnetik, untuk mendeteksi jalur sesar di bawah tanah.

Menurut Eka, pola sesar yang teridentifikasi di antaranya Sesar Citarik, Cisadane, Jasinga, Ciomas, hingga Sesar Baribis (Back Arc Thrust).

Fakta geologi menunjukkan Bogor tersusun atas batuan sedimen tua, batuan vulkanik, dan endapan terbaru. 

Kondisi ini semakin menambah kerentanan jika terjadi gempa, apalagi dengan kepadatan penduduk serta pembangunan pesat di kawasan tersebut.

Baca juga: Gempa Bumi Hari Ini Pukul 23:49 WIB di Sumenep Jatim Kekuatan 6,5M Pusat di Laut Kedalaman 11KM

Mitigasi Bencana Jadi Kunci

Pemetaan lapangan dilakukan oleh PT Oseanland, termasuk analisis struktur geologi permukaan.

“Tim kami terus melakukan penyelidikan lapangan dan analisis struktur geologi permukaan, termasuk gravity atau gaya berat, untuk menghasilkan peta patahan aktif yang lengkap dan akurat,” ungkap Eka.

Hasil pemetaan ini diharapkan jadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang ramah bencana.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved