Begini Cerita Dewi Astutik Bisa Terjerumus Dalam Jaringan Narkoba Internasional

Dewi menjadi aktor utama penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun di wilayah Indonesia pada Mei 2025 lalu.

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Dok BNN
Dewi Astutik, gembong narkoba Internasional tiba di Jakarta, Selasa (2/12/2025) malam, usai ditangkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). 

Ringkasan Berita:
  • Dewi Astutik, buronan kasus penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp5 triliun, ditangkap BNN dan aparat lintas negara di Kamboja setelah lama masuk jaringan narkoba internasional Golden Triangle.
  • Mantan TKW di Taiwan–Hongkong itu awalnya terlibat scamming, lalu direkrut DON, warga Nigeria, untuk merekrut kurir narkoba sejak awal 2024.
  • Keluarga mengaku tidak tahu Dewi terseret bisnis narkoba; suaminya terkejut dan pasrah setelah penangkapan.
 

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Bagaimana kronologi Dewi Astutik, warga Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo,bisa terjerat dalam bisnis narkoba jaringan internasional?

Nama Dewi Astutik beberapa hari terakhir tengah menjadi sorotan setelah berhasil diamankan oleh tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan sejumlah institusi lintas negara pada 1 Desember 2025 di Sihanoukville, Kamboja

Dewi Astutik sebelumnya sudah ditetapkan menjadi buronan terkait dengan penyelundupan narkoba dalam jumlah besar ke Indonesia.

Dewi menjadi aktor utama penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun di wilayah Indonesia pada Mei 2025 lalu.

Perburuan terhadap Dewi Astutik pun dilakukan oleh BNN hingga akhirnya diamankan di Kamboja.

Dikutip dari Kompas.com, berikut kronologi terjerumusnya Dewi Astutik menjadi bagian dari sindikat narkoba internasional di kawasan Golden Triangle.

Kawasan Golden Triangle (Segitiga Emas) Narkoba adalah sebuah wilayah di Asia Tenggara yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat terbesar produksi dan peredaran narkotika dunia, terutama opium dan heroin.

Kawasan ini mencakup perbatasan tiga negara yakni Myanmar (Burma), Laos, dan Thailand.

Kondisi geografisnya yang bergunung-gunung, sulit dijangkau, serta minim kontrol pemerintah membuat kawasan ini menjadi tempat yang subur bagi aktivitas sindikat narkoba.

Sejak tahun 1950-an, Golden Triangle berkembang menjadi pusat produksi opium terbesar kedua di dunia setelah Golden Crescent (Iran–Afghanistan–Pakistan).

Wilayah ini menjadi basis kelompok-kelompok bersenjata dan jaringan kriminal transnasional yang memproduksi, menyelundupkan, dan mendistribusikan narkoba ke seluruh Asia hingga pasar internasional.

Saat ini, selain opium dan heroin, kawasan ini juga dikenal sebagai pusat produksi metamfetamin (sabu)berskala besar.

Meskipun pemerintah di ketiga negara telah melakukan berbagai upaya penindakan, proyek pembangunan, dan program penghentian budidaya opium, aktivitas narkoba di Golden Triangle masih terus berlangsung karena tingginya permintaan global, lemahnya penegakan hukum di beberapa area, serta keterlibatan jaringan kejahatan terorganisasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved