Kisah Seorang Bule Amerika Jatuh Cinta pada Budaya Gotong Royong

Perempuan itu adalah Isabel Anne Friedl, 23 tahun, lulusan Fakultas Ekonomi Occidental College, Los Angeles.

Ist
Kisah Seorang Bule Amerika Jatuh Cinta pada Budaya Gotong Royong 

TRIBUNJOGJA.COM – Pemandangan tak biasa terekam dalam sebuah video reels Instagram berdurasi 1 menit 30 detik di akun @helloxizzzy.

Seorang perempuan bule tampak ikut bergotong royong memperbaiki waduk dan saluran irigasi bersama puluhan warga desa.

Dengan pakaian sederhana, ia menjelaskan, “Hari ini pertama kalinya kami semua bekerja di dam. Kami membuat kanal lebih dalam, membuang banyak batu supaya air bisa masuk sungai selama off season.”

Perempuan itu adalah Isabel Anne Friedl, 23 tahun, lulusan Fakultas Ekonomi Occidental College, Los Angeles.

Datang dari Amerika, Isabel justru jatuh cinta pada budaya Indonesia, hingga terjun langsung membantu memperbaiki sistem irigasi tradisional Bali, yakni subak.

Isabel mengaku terkesan dengan budaya gotong royong masyarakat Indonesia. Menurutnya, orang Indonesia memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

“Di sini semua orang saling memperhatikan satu sama lain, dibandingkan di Amerika. Dalam melakukan upacara agama misalnya, mereka memberikan yang terbaik tanpa mengeluh,” ujarnya.

Kecintaannya pada Indonesia bermula dari sebuah program beasiswa singkat. Ia sempat ragu memilih antara Vietnam atau Indonesia, namun akhirnya memilih Indonesia karena ingin tinggal dekat laut.

Dari situlah perjalanannya dimulai, dari program School For International Training 2023 di Bali, Yogyakarta, dan Surabaya, hingga penelitian di Malang, lalu belajar bahasa Indonesia di Universitas Negeri Surabaya.

Puncaknya, bersama rekannya Alice Kephart Carlson, Isabel berhasil mendapatkan pendanaan Davis Projects for Peace senilai 10.000 dolar AS.

Dana itu digunakan untuk proyek lingkungan di Desa Adat Munduk Pakel, Bali, dengan fokus pada sistem irigasi subak yang telah rusak sejak 1970-an.

Dalam survei bersama warga, Isabel menemukan waduk desa mengalami patahan besar yang menyebabkan air terbuang.

Bersama sekitar 80 warga, ia kemudian ikut memperbaiki waduk, menambah ketinggian bendungan 25 cm, memasang semen dan besi, hingga mengangkut material konstruksi.

“Semua dilakukan dengan gotong royong. Kami ikut membangun, juga bolak-balik mengambil bahan konstruksi bersama bapak-bapak desa,” kenangnya.

Selama hampir sebulan proyek berlangsung, banyak kisah menarik terjadi. Salah satunya ketika seorang warga jatuh ke bebatuan, lalu sehari setelahnya ada bapak tua yang kesurupan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved