Mengenang Jejak Perjuangan, Komisi A DPRD DIY Napak Tilas ke Rumah Pengasingan Bung Karno

Di dalamnya, masih tersimpan koleksi asli seperti sepeda, ranjang, buku, hingga surat cinta untuk Fatmawati. 

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/HAS
NAPAK TILAS : Anggota Komisi A DPRD DIY tengah melihat koleksi yang ada di Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu, Kamis (11/6/2026) siang. 

TRIBUNJOGJA.COM, BENGKULU – Sebelum Indonesia merdeka, Bung Karno berulang kali diasingkan oleh Belanda. 

Langkah itu dipilih oleh Belanda untuk memadamkan api perjuangan Sang Proklamator sekaligus untuk memutus komunikasi dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya.

Salah satu lokasi pengasingan Bung Karno adalah Bengkulu. Bung Karno diasingkan di Bumi Raflesia ini selama empat tahun, mulai 1938-1942.

Selama di Bengkulu, Bung Karno tinggal di sebuah rumah yang kini terletak di Jalan Soekarno Hatta No.8, Anggut Atas, Kec. Gading Cemp., Kota Bengkulu, Bengkulu.

Hingga saat ini, rumah yang menjadi saksi sejarah perjuangan Bung Karno di pengasingannya masih berdiri kokoh. 

Rumah berarsitektur Eropa dan China itu saat ini menjadi salah satu cagar budaya di Kota Bengkulu.

Di dalamnya, masih tersimpan koleksi asli seperti sepeda, ranjang, buku, hingga surat cinta untuk Fatmawati. 

Keberadaan rumah pengasingan Bung Karno ini menjadi bagian dari sejarah penting kemerdekaan Indonesia.

Hal itulah yang menjadi alasan bagi Komisi A DPRD DIY untuk melakukan kunjungan napak tilas ke sejumlah situs bersejarah di Bengkulu, Kamis (11/06/2026). 

Rombongan Komisi A DPRD DIY dipimpin langsung oleh Sekretaris Komisi A DPRD DIY, Syarif Guska Laksana.

Politisi Partai Golkar ini menyebut kunjungan ke rumah tempat pengasingan Bung Karno ini bertujuan memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, serta semangat kebangsaan yang diwariskan Sang Proklamator.

Menurut Guska, Bung Karno selama menjalani pengasingan di Bengkulu tetap menunjukan jiwa nasionalismenya melalui gagasan dan pemikirannya kepada masyarakat. 

"Pak Karno tetap teguh dalam prinsip dan pendiriannya. Walaupun berada dalam pengasingan dan ruang geraknya dibatasi, beliau tetap berkarya serta menyampaikan ide-ide perjuangannya melalui berbagai aktivitas yang dapat diterima masyarakat saat itu. Semangat seperti inilah yang patut menjadi teladan," ungkap Guska. 

Baca juga: 97 SPPG di DIY Berhenti Beroperasi, 42 di Antaranya Akibat Dana dari Pusat Belum Cair

Guska menyebut, melalui kegiatan napak tilas ini, bisa menjadi sarana pembelajaran sejarah sekaligus implementasi Peraturan Daerah DIY Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. 

Harapannya, nilai-nilai Pancasila, nasionalisme, dan semangat perjuangan para pendiri bangsa dapat terus ditanamkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved