Update Corona di DI Yogyakarta

Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang sektor kesehatan dan ekonomi masyarakat, namun juga mengancam ketahanan keluarga.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM/Maruti A Husna
Cahyadi Takariawan, Direktur Jogja Family Center, saat mengisi seminar daring bertajuk "Resiliensi Kunci Mengokohkan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19" 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang sektor kesehatan dan ekonomi masyarakat, namun juga mengancam ketahanan keluarga.

Cahyadi Takariawan, Direktur Jogja Family Center, mengungkapkan terjadi peningkatan ketegangan di dalam rumah tangga yang luar biasa selama pandemi ini.

“Di Cina kasus perceraian meningkat secara signifikan. Kita tidak ingin ini terjadi di masyarakat kita,” ujarnya dalam seminar daring yang diselenggarakan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, Selasa (5/5/2020).

Selain itu, lanjut Cahyadi, Sekretaris Jenderal PBB menengarai adanya lonjakan yang besar pada kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sejak masyarakat dirumahkan selama pandemi.

BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 5 Mei 2020, Positif Bertambah 6 dari Kluster GPIB Yogyakarta

Contoh negara yang mengalami peningkatan signifikan pada KDRT ialah Australia, Italia, dan Amerika Serikat.

Cahyadi memaparkan lima penyebab hal-hal buruk itu dapat terjadi dalam sebuah keluarga.

Pertama, adanya situasi denial atau penolakan terhadap krisis yang datang tiba-tiba.

“Kalau kita menghadapi krisis, biasanya reaksi pertama adalah menolak. Kita menolak situasi terkurung di rumah tanpa direncanakan, diinginkan,” tuturnya.

Kedua, terjadi tekanan keadaan.

Persoalan menjadi terasa berat karena kita berada dalam tekanan keadaan yang tidak menyenangkan.

“Hilangnya kebebasan, tidak ada variasi kegiatan, hilangnya ruang sosial yang nyata ialah bentuk-bentuk tekanan saat ini,” ungkap penulis buku dan konsultan keluarga itu.

Ketiga, timbulnya family technostress.

Yaitu stres yang dialami anggota keluarga karena perangkap techno-cocoon di mana suami, istri, anak-anak terbungkus dalam kepompong teknologi.

Satu Keluarga Pulang Setelah Jalani Karantina di Asrama Haji

Masing-masing orang akhirnya sibuk menghabiskan waktu sendiri-sendiri dengan perangkat teknologinya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved