Update Corona di DI Yogyakarta

Membangun Ketahanan Keluarga di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang sektor kesehatan dan ekonomi masyarakat, namun juga mengancam ketahanan keluarga.

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM/Maruti A Husna
Cahyadi Takariawan, Direktur Jogja Family Center, saat mengisi seminar daring bertajuk "Resiliensi Kunci Mengokohkan Keluarga di Masa Pandemi Covid-19" 

Berikutnya, kehilangan keseimbangan pada keluarga.

Selama ini, keseimbangan di antara keluarga muncul karena adanya waktu togetherness (kebersamaan) dan separateness (keterpisahan) antara suami dan istri.

“Adanya dua jenis waktu ini membentuk keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga kita. Di kondisi saat ini separateness menjadi hilang. Kita semua berada dalam togetherness di dalam rumah,” jelasnya.

Terakhir, keluarga kehilangan homeostatis.

Homeostatis keluarga adalah kecenderungan suatu keluarga untuk memelihara keadaan ekuilibrium dinamik dan melakukan upaya-upaya untuk memulihkan ekuilibrium ini ketika terganggu.

“Kalau orang bertemu terus-menerus maka akan bosan, jenuh dengan keadaan seperti itu. Mekanisme homeostatis berupaya menjaga relasi dalam keluarga dengan mengaktifkan aturan yang telah disepakati dalam keluarga, maupun menciptakan kesepakatan dan komitmen baru. Dalam pandemi, situasi ini tidak mudah untuk dilakukan,” paparnya.

Sebagai solusi atas semua itu, Cahyadi mengatakan kuncinya adalah resiliensi atau kelentingan sebagai benteng pertahanan keluarga.

Warga Sleman Lakukan Salat Tarawih bersama Keluarga dan Tetangga

Dia menjelaskan, resiliensi ialah kemampuan individu atau komunitas untuk mengatasi dan beradaptasi terhadap kejadian yang berat atau masalah dan penderitaan yang terjadi dalam kehidupan.

“Kalau orang punya resiliensi, ketika mengalami situasi tidak menyenangkan akan cepat kembali pada penerimaan,” ungkapnya.

Adapun menurut Cahyadi, cara untuk membentuk resiliensi ada tujuh hal.

Pertama, regulasi emosi. Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan.

“Kepanikan tidak menyelesaikan masalah, justru menambah persoalan. Suami sebagai pemimpin keluarga tidak boleh tampak panik, harus tenang, agar memberi ketenangan pula bagi anggota keluarga yang lain,” beber Cahyadi.

Kedua, pengendalian impuls. Yaitu kemampuan untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri sendiri.

Menghadapi masa pandemi ini, setiap orang harus mampu menahan berbagai keinginan.

Ketiga, sikap optimistis.

Hadapi Pandemi Virus Corona, Warga Karangwaru di Yogyakarta Adakan Gerakan Sosial Gelar Gulung

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved