Ada Temuan Roti MBG Berjamur, Guru Besar UGM Desak Evaluasi  Sistem Pengadaan hingga Pengawasan Mutu

Guru Besar UGM, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D mendesak evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, dan pengawasan mutu makanan dalam program MBG

dok.https://farmasi.ugm.ac.id/
EVALUASI SISTEM MBG - Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Zullies Ikawati, PhD, Apt. Ia mendesak adanya evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG, menyusul adanya temuan roti berjamur di sejumlah daerah. 
Ringkasan Berita:
  • Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D mendesak evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG menyusul temuan roti berjamur di sejumlah daerah.
  • Zullies menyebut, roti yang sudah berjamur memperlihatkan adanya pertumbuhan mikroorganisme. Artinya, produk tersebut tidak layak untuk konsumsi.
  • Menurutnya, roti yang berjamur biasanya ditumbuhi oleh kapang (mold) seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D mendesak adanya evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG, menyusul adanya temuan roti berjamur di sejumlah daerah.

Zullies mengatakan roti yang sudah berjamur memperlihatkan adanya pertumbuhan mikroorganisme. Artinya, produk tersebut tidak layak untuk konsumsi.

Roti yang berjamur biasanya ditumbuhi oleh kapang (mold) seperti Aspergillus, Penicillium, atau Rhizopus. 

Selain pertumbuhan jamurnya sendiri, beberapa jenis kapang, disebutnya, dapat menghasilkan mikotoksin, yaitu senyawa toksik yang dihasilkan oleh jamur

“Meski tidak semua jamur menghasilkan toksin, secara prinsip makanan yang sudah berjamur tidak boleh dikonsumsi, karena secara awam kita tidak bisa memastikan jenis jamur yang tumbuh dan apakah sudah menghasilkan toksin atau belum," katanya, Jumat (6/3/2026).

Ia menerangkan temuan roti berjamur pada program MBG seharusnya menjadi perhatian serius oleh banyak pihak. 

Sebagai program prioritas untuk meningkatkan gizi masyarakat, aspek keamanan pangan menjadi prioritas utama. 

Untuk itu, ia mendorong adanya pengawasan kualitas pangan lebih ketat, mulai dari produksi hingga distribusi. 

Kontrol masa simpan 

Tak hanya itu, diperlukan kontrol masa simpan dan tanggal produksi pada setiap produk yang didistribusikan dan melakukan penyimpanan yang sesuai.

Sebelum didistribusikan ke sekolah pun harus ada pengawasan, sehingga dapat mendeteksi makanan tidak layak lebih awal.

"Kejadian seperti ini umumnya berkaitan dengan masalah penyimpanan, distribusi, atau masa simpan yang tidak terkontrol dengan baik. Oleh karena itu, evaluasi sistem pengadaan, penyimpanan, serta pengawasan mutu makanan dalam program MBG perlu diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang,” terangnya.

Ia menambahkan roti berjamur dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan, dan pada sebagian orang bisa menyebabkan gangguan saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, atau diare. 

Untuk beberapa individu yang sensitif, jamur bisa memicu reaksi alergi. Bahkan jika makanan yang terkontaminasi mengandung mikotoksin dalam jumlah tertentu, dalam jangka panjang dapat berdampak lebih serius, misalnya gangguan hati atau efek toksik lainnya. 

"Pada anak-anak, yang sistem imunnya masih berkembang, risiko efek kesehatan bisa lebih besar dibandingkan orang dewasa,” imbuhnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved