Pohon Randu Alas Raksasa Ikonik Magelang Ditebang Setelah 250 Tahun

Pohon randu alas berusia 250 tahun di Desa Tuksongo, Borobudur, Magelang, akhirnya ditebang setelah dinyatakan 95 persen tak layak hidup

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja/Yuwantoro Winduajie
DITEBANG: Pohon randu alas di Lapangan Tuksongo, Borobudur, Magelang mulai ditebang pada Senin (2/2/2026) 

 

Ringkasan Berita:Pohon randu alas berusia 250 tahun di Desa Tuksongo, Borobudur, Magelang, akhirnya ditebang setelah dinyatakan 95 persen tak layak hidup. Warga memilih menyisakan batang setinggi 8 meter untuk dijadikan monumen ikon desa.

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Warga Desa Tuksongo berdiri berkelompok di tepi lapangan Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (2/2/2026) pagi. Mata mereka tertuju pada pohon randu alas raksasa yang hendak ditebang.

Ketika mesin pemotong mulai meraung, tak sedikit warga mengeluarkan ponsel untuk merekam momen tersebut.

Mereka ingin mengabadikan momen bersejarah itu, sebab pohon yang tumbuh di sudut lapangan Tuksongo tersebut bukan sekadar batang tua yang menjulang melainkan juga menjadi ikon serta saksi hidup perjalanan desa.

Pantauan Tribunjogja.com di lokasi, proses penebangan berlangsung dengan hati-hati. 

Satu unit mobile crane dikerahkan. Dua orang petugas tampak ada di atas pohon setinggi sekitar 40 meter itu lalu  memotong dahan-dahan besar satu per satu menggunakan gergaji mesin.

Setiap dahan lebih dulu diikat tali agar tidak langsung jatuh ke tanah. 

Setelah diturunkan perlahan, potongan-potongan kayu itu kembali dipotong di bawah oleh sejumlah petugas.

Proses ini diperkirakan memakan waktu beberapa hari ke depan mengingat ukurannya pohon yang tergolong besar.

Bagi warga Tuksongo, keberadaan pohon randu alas tersebut telah menjadi sebuah tetenger atau penanda yang hidup di ingatan kolektif masyarakat. 

Tak mengherankan mengingat usianya yang diperkirakan telah mencapai 250 tahun.

“Itu kan memang pohon randu yang sudah usianya ratusan tahun dan itu memang menjadi icon desa kami,” kata warga setempat, M Abdul Karim.

Ia mengenang, mayoritas masyarakat di kawasan tersebut dulunya merupakan petani tembakau sebelum beralih ke sektor pariwisata.

Pada masa kecilnya, lanjut Karim, banyak warga melakukan ngabul di Lapangan Tuksongo, yakni tradisi gotong royong masyarakat desa untuk menurunkan tembakau yang baru dipanen dari truk setelah diangkut dari ladang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved