10 Perbedaan Keraton Jogja dan Keraton Solo

Keraton Jogja dan Keraton Solo memiliki akar sejarah yang sama, tapi tradisi, budaya, sistemnya berbeda. Simak 10 perbedaannya yang menarik di sini!

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
pinterest.com
Potret sebelah kiri bangunan biru yang megah merupakan Keraton Surakarta, sementara sebelah kanan bangunan putih yang elegan adalah Keraton Yogyakarta. 

Lain halnya dengan Gamelan Surakarta yang lebih halus, nadanya lembut dengan ritme tenang, menggambarkan sifat elegan dan lembut khas Solo.

Jika dilihat dari sisi bentuk, ornamen gamelan Surakarta lebih rumit dan artistik.

Susunan gamelan pada Surakarta juga lebh rapat dengan khas warna coklat kayu bermadu dengan emas. 

Baca juga: Keraton Kasunanan Surakarta Resmi Punya Raja Baru

 

6. Arsitektur dan Tata Bangunan

Kedua bangunan keraton memiliki kompleks bangunan yang luas, indah, dan padat akan makna filosofis.

Keraton Yogyakarta mengangkat gaya arsitektur Jawa tradisional yang penuh filosofi spritiual. 

Setiap halaman dan bangunan yang disusun merujuk konsep kosmologi Jawa.

Mulai dari alun-alun utara hingga alun-alun selatan, yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal. 

Berbeda halnya dengan Keraton Surakarta yang dibangun oleh Sunan Pakubuwono II mengintegrasikan gaya arsitektur Jawa dan Eropa.

Bangunannya didominasi oleh warna putih dan biru.

Tak lupa elemen khas seperti Menara Sanggabuwanba, yang menjadi kepercayaan simbol pertemuan raja dengan Ratu Laut Selatan. 

 

7. Fungsi dan Peran Saat Ini 

Kedua keraton tersebut hingga sekarang masih berfungsi aktif dan menjadi pusat pelestarian kebudayaan Jawa.

Keraton Yogyakarta berperan sebagai kediaman resmi keluarga Sultan sekaligus lambang pemerintahan daerah istimewa,

sementara Keraton Surakarta lebih menitikberatkan perannya pada sisi spiritual dan tradisi budaya Kesunanan.

Keduanya juga dapat dikunjungi wisatawan.

Di Yogyakarta, wisatawan dapat mengikuti tur sejarah serta mengakses museum, sedangkan di Surakarta tersedia beragam pertunjukan budaya, mulai dari kirab, tarian sakral, hingga prosesi adat Malam Satu Suro.

 

8. Batik 

Batik Keraton Yogyakarta umumnya didominasi warna dasar putih dengan motif yang berukuran lebih besar dan tegas.

Corak ini mencerminkan karakter visual yang kuat serta kesan bersih dan berwibawa. 

Sementara itu, batik Keraton Surakarta identik dengan warna cokelat sogan yang lebih lembut, dengan motif berukuran lebih kecil dan detail yang lebih halus.

Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari warna dan ukuran motif, tetapi juga dari nilai filosofisnya.

Batik Yogyakarta sering merepresentasikan keteguhan, keberanian, dan kewibawaan, sedangkan batik Surakarta menonjolkan kesan kehalusan, ketenangan, dan harmoni. 

Hingga kini, kedua gaya batik tersebut tetap menjadi rujukan utama dalam perkembangan batik tradisional Jawa dan terus dilestarikan sebagai warisan budaya adiluhung.

 

9. Adat Pernikahan

Secara umum, tahapan upacara pernikahan di Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta terlihat serupa.

Keduanya sama-sama mengenal prosesi adat seperti siraman, midodareni, ijab, panggih, hingga kacar kucur.

Namun, di balik kemiripan tersebut, terdapat sejumlah perbedaan adat yang menjadi ciri khas masing-masing keraton.

Salah satunya adalah prosesi jual beli kembar mayang yang dikenal dalam tradisi Surakarta.

Namun, tidak dijumpai dalam adat pernikahan Keraton Yogyakarta.

Selain itu, perbedaan juga tampak pada detail tata rias, busana pengantin, serta makna simbolik dalam setiap prosesi.

Keraton Yogyakarta cenderung menonjolkan kesederhanaan dan keteguhan nilai filosofis.

Sementara Keraton Surakarta dikenal dengan tata upacara yang lebih variatif dan kaya simbol spiritual. 

Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana dua keraton tersebut berkembang dengan identitas budaya yang khas, meskipun berasal dari akar tradisi Jawa yang sama.

 

10. Pewayangan 

Secara visual, karakter wayang gaya Surakarta umumnya berukuran lebih kecil dan ramping, menampilkan kesan halus dan proporsional.

Sementara itu, wayang gaya Yogyakarta memiliki bentuk tubuh yang lebih berisi dan tegas dibandingkan wayang Surakarta.

Selain perbedaan fisik, perbedaan juga terlihat dalam gaya pementasan. 

Wayang Surakarta cenderung menonjolkan alur cerita yang runtut dan tempo pementasan yang lebih lembut.

Sedangkan pementasan wayang gaya Yogyakarta dikenal dengan karakter yang lebih ekspresif, gerak yang kuat, serta penekanan pada nilai-nilai filosofis dan kepahlawanan.

(MG Zahrah Suci Al Aliyah)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved