10 Perbedaan Keraton Jogja dan Keraton Solo
Keraton Jogja dan Keraton Solo memiliki akar sejarah yang sama, tapi tradisi, budaya, sistemnya berbeda. Simak 10 perbedaannya yang menarik di sini!
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Raja di Keraton Surakarta hanya sebagai simbol budaya, tidak memiliki jabatan politik.
2. Gelar Sapaan Raja
Raja di Yogyakarta secara formal disapa dengan sebutan Ngarsa Dalem.
Istilah Ngarsa Dalem ini secara harfiah berarti “beliau yang berada di depan” atau di hadapan rakyat.
Hal ini mencerminkan sosok pemimpin yang mengayomi dan menjadi teladan masyarakat.
Sementara itu, di Keraton Solo raja disapa dengan sebutan Sinuhun.
Istilah Sinuhun berasal dari kata “Suhun” yang berarti dijunjung/diletakkan di atas kepala.
Hal tersebut melambangkan penghormatan tinggi pada raja sebagai pusat spiritual dan pemegang legitimasi adat yang sangat dihormati.
3. Tradisi dan Adat Istiadat
Perbedaan lainnya antara Keraton Yogyakarta dan Surakarta yakni pada budaya dan ada istiadat.
Yogyakarta tetap mempertahankan tradisi lama sejak zaman Mataram Islam.
Beberapa hal seperti Grebeg Maulud, Sekaten, dan Labuhan Parangkusumo dilakukan sesuai aturan lama tanpa diubah-ubah.
Prosesi tradisi budaya di Yogyakarta lebih ditekankan prihal makna spiritual dan nilai moral.
Sedangkan Keraton Surakarta lebih menerima perubahan atau terbuka modernisasi, tetapi tetap berpegang teguh akar Jawa.
Tradisi Surakarta yakni seperti tarian, pakaian adat, dan upacara adat lebih dikembangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kraton-jogja-soloo.jpg)