Kenaikan Harga BBM
Harga BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik
Kendati dikonsumsi masyarakat kelas menengah atas, kenaikan harga Pertamax memberikan efek domino bagi ekonomi masyarakat.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
Oleh karena itu, ia menitipkan harapan besar kepada pihak berwenang agar pasokan BBM bersubsidi tetap terjaga di tengah fenomena migrasi konsumen ini.
"Selisih harga yang sangat jauh itu sangat membebani biaya operasional harian, apalagi untuk warga pekerja dengan mobilitas tinggi. Kalau memaksakan diri tetap memakai Pertamax di harga lebih dari Rp16.000, pengeluaran sehari-hari pasti akan terganggu. Solusi satu-satunya ya kembali beralih penuh menggunakan Pertalite dan ikut antrean. Dengan selisih harga sejauh ini, pasti antrean akan semakin panjang karena banyak warga yang beralih," tutur Adi menegaskan.
Efek domino
Kekhawatiran publik saat ini atas kenaikan harga BBM adalah efek dominonya ke sektor lain.
Banyak pihak menilai, bukan tidak mungkin kondisi itu akan berimbas ke kenaikan harga BBM bersubsidi, yang pada gilirannya juga akan mengerek tarif transportasi dan harga sembako.
Ketua Serikat Mahasiswa (SEMA) Universitas Gadjah Mada, Mesa, menyebut kenaikan Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 merupakan "lingkaran setan" kebijakan yang “sangat estetik”.
Mesa mengatakan kenaikan harga Pertamax akan mendorong migrasi ke Pertalite.
Ketika konsumsi Pertalite meningkat dan subsidi membengkak, harga Pertalite akan turut dinaikkan.
"Kita sedang diajak menikmati ‘lingkaran setan’ kebijakan yang ‘sangat estetik’.
Sebuah siklus komedi putar yang menganggap efek domino berupa ongkos transportasi mahal dan harga sembako naik hanyalah bonus tantangan hidup bagi rakyat jelata.
Padahal, kenyataannya BBM kembali naik, leher rakyat makin tercekik demi membiayai lingkaran setan yang diciptakan sendiri," katanya melalui keterangan tertulis, Jumat.
Ia melanjutkan, rakyat dipaksa mandiri menghadapi inflasi.
Rakyat pun diminta maklum karena anggaran besar negara sedang diprioritaskan untuk program ambisius seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih.
"Kita akhirnya harus menyaksikan bahwa janji manis tak lagi menarik saat disandingkan dengan realita dompet kelas pekerja yang kian mengempis demi rentetan proyek masa depan, membuat nasib kita semakin pelik," lanjutnya.
Ia juga menyoroti soal penghematan anggaran yang dimulai dari pemotongan subsidi publik. Sayangnya efisiensi tersebut tidak sejalan dengan alokasi belanja yang besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Antrean-Pembeli-BBM-Pertalite-di-SPBU.jpg)