Selain itu, optimalisasi "Jogja Agro Park" di Nanggulan untuk pembibitan unggul peternakan dan pertanian terus dimatangkan.
"Kita tidak bisa mengontrol faktor eksternal. Berarti yang harus diperkuat adalah internal DIY, yaitu kualitas SDM. Inovasi dan kreativitas penting agar kita bisa bertahan. Bantuan pemerintah seperti pasar murah itu insidentil sifatnya. Kita harus membentuk ekosistem mandiri, contohnya di sektor pertanian melalui program petani milenial dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahan terbatas. Masalah pupuk kimia yang impor juga bisa disiasati dengan inovasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk mandiri. Selain itu, kita menjaga kestabilan produksi di tengah perubahan cuaca, memanfaatkan lahan marginal, serta kerja sama antardaerah. Kita juga punya program unggulan: Lumbung Mataraman. Konsep dari Bapak Gubernur ini memanfaatkan tanah kas desa dan Sultan Grond yang dikelola masyarakat miskin untuk memproduksi kemandirian pangan, dari tahap cocok tanam hingga pengolahan agar tidak dijual mentah begitu saja, melainkan diolah jadi sambal kaleng, misalnya, agar nilai jualnya tetap stabil saat panen raya. Kita harus selalu siap. Kalau tidak siap, kita tidak punya semangat untuk survive. Tinggal mengukur kemampuan secara bijak. Dulu mungkin konsumtif, sekarang prioritas pada kesehatan dan kebutuhan riil. Pemda DIY sendiri terus berupaya menjaga roda pemerintahan dan pelayanan masyarakat agar tetap berkualitas di tengah penyesuaian anggaran. Hidup tidak berhenti karena ada persoalan. Masyarakat kita saya yakin cukup wise (bijak) untuk menyikapinya," tutup Ni Made.