Fenomena Api di Seyegan
Hari ke-18 Fenomena Api di Seyegan, Peneliti Ungkap Anomali Bawah Tanah
Tim Fakultas Teknik UGM mendeteksi adanya anomali resistivitas bawah tanah melalui pemindaian metode geolistrik spasi pendek.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Namun, mulai akhir pekan lalu berkisar antara 3-5 kali kemunculan api.
"Ya mudah-mudahan itu respons dari usaha kami. Semoga trennya semakin berkurang," ungkap dia.
Simultan
Supaya metode ini efektif, pemilik rumah diminta untuk menyuntikkan air kapur tersebut secara simultan setiap 24 jam sekali.
Takarannya tidak menuntut kepresisian tinggi, yakni cukup melarutkan kapur dengan air.
Proses pengguyuran ini ditargetkan berjalan rutin setidaknya selama satu minggu ke depan, atau hingga lapisan pasir dan tanah di bawah rumah benar-benar jenuh oleh larutan basa.
Melalui cara ini produksi gas diharapkan berhenti dan letupan api mereda.
Dalam beberapa hari ke depan, tim ahli dijadwalkan kembali ke lokasi untuk mengecek penyebaran cairan basa di bawah tanah.
Putri Agusyani, Mutfiana menyambut baik upaya untuk meredam kebakaran berulang, yang dilakukan tim peneliti dari UGM.
Sesuai arahan dari peneliti, larutan air kapur secara berkala, 24 jam sekali harus rutin disuntikkan kembali ke lubang yang telah dibuat.
Fia mengaku keluarganya akan mengupayakan penyuntikan rutin itu.
"Ya kan aku bilang dari awal, apa yang kami bisa upayakan, akan kami lakukan, selagi kami mampu," kata Fia. (rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pemindaian-Geolistrik-Tim-UGM-Temukan-Anomali-Lapisan-Tanah-di-Rumah-Korban-Teror-Api-Seyegan.jpg)