Fenomena Api di Seyegan

Hari ke-18 Fenomena Api di Seyegan, Peneliti Ungkap Anomali Bawah Tanah

Tim Fakultas Teknik UGM mendeteksi adanya anomali resistivitas bawah tanah melalui pemindaian metode geolistrik spasi pendek.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
GEOLISTRIK: Tim Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM memasang alat untuk pemindaian metode geolistrik di sekitar rumah Agusyani di Seyegan Sleman, Selasa (9/6/2026). Penelitian tim UGM ini dimaksudkan untuk memecahkan misteri api yang terus muncul di rumah Agusyani dan sekitarnya. 

Meski anomali di sisi selatan sudah tertangkap radar kelistrikan, tim peneliti belum bisa menyimpulkan dimensi, arah orientasi, maupun kedalaman pasti dari material misterius tersebut. 

"Hasil geolistrik tidak bisa langsung terlihat seperti georadar. Data yang ada saat ini barulah nilai resistivitas semu. Kami harus memodelkannya terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai resistivitas sesungguhnya, baru kita bisa tahu pasti penyebab anomalinya apa," jelas dia. 

Temuan anomali kelistrikan di selatan rumah ini menjadi petunjuk penting untuk menguji dugaan keberadaan endapan rawa purba di bawah tanah rumah Agus Yani. 

Tim UGM akan mengombinasikan seluruh data dari penelitian, baik data georadar maupun geolistrik untuk memahami lapisan yang ada di bawah permukaan tanah. 

Suntik kapur

Tim ahli DTGL UGM juga mulai menerapkan metode penjenuhan basa, atau proses penyuntikan larutan air kapur ke dalam tanah untuk meredam fenomena kebakaran berulang itu. 

Cairan air kapur disuntikkan ke dalam tanah untuk mematikan bakteri yang diduga menjadi penyebab penghasil gas pemicu api.

Dosen DTGL UGM, Dr. Sarju Winardi, mengatakan, upaya ini merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan para ahli di kantor Kapanewon Seyegan pada Kamis (4/6/2026) lalu. 

Skema ini memiliki dua tujuan utama yakni untuk merilis gas yang diduga masih terperangkap di dalam pasir di bawah rumah Agus Yani. 

Sebab, dalam prosesnya, peneliti harus membuat lubang sedalam lebih-kurang satu meter di beberapa titik yang ditengarai memiliki konsentrasi gas tinggi. Lubang lubang tersebut kemudian diberi larutan air kapur. 

"Jadi air basa ini membuat bakteri Clostridium tidak bisa berkembang dan mati, sehingga tidak ada bakteri lain yang asumsi dugaan kami menghasilkan gas H-2. Makanya tujuan kami ini mematikan bakteri ya, sehingga nanti kalau bakterinya sudah bisa ditekan, enggak ada yang tumbuh lagi. Ini harapannya tidak ada gas yang diproduksi lagi," kata Sarju, Selasa. 

Timnya telah membuat sejumlah lubang di dalam dan belakang rumah Agus Yani sejak pekan lalu. 

Pada awal pembukaan lubang pertama pada Kamis siang hingga Jumat (5/6/2026), intensitas kemunculan api sempat melonjak, diduga akibat terpicu oleh terbukanya rongga udara.

Meski demikian, tren kebakaran dilaporkan mulai melandai memasuki akhir pekan ini. Tercatat hari Sabtu (6/6/2026), Minggu (7/6/2026) dan Senin (8/6/2026) intensitas kemunculan api relatif lebih sedikit dibanding sebelumnya. 

Jika hari sebelumnya, kejadian kebakaran bisa mencapai 8 kali sehari. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved