Sampah Plastik di Bantul Kini Diolah dan Disulap Jadi Bahan Bakar Petasol
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyampaikan apresiasi pengelolaan sampah plastik menjadi petasol atau bahan bakar yang setara dengan solar
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pertamina, dan sejumlah pihak meluncurkan inovasi manajemen sampah terpadu dan pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar petasol di Pendopo Puroloyo Kanjengan Wetan, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Selasa (9/6/2026).
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyampaikan apresiasi kepada BRIN dan Pertamina yang telah inisiatif meluncurkan satu temuan sangat bagus, yakni pengelolaan sampah plastik menjadi petasol atau bahan bakar yang setara dengan solar dan memiliki kualitas bagus.
Inovasi itu dinilai akan menjawab masalah sampah yang dihadapi dikarenakan naiknya volume sampah pada setiap harinya.
"Pertama, volume sampah yang setiap hari itu naik, meningkat. Di mana, plastik ini mengambil proporsi 31 persen dari timbunan sampah. Kalau setiap hari 600 ton sampah yang terproduksi di Kabupaten Bantul, maka sekitar 180 ton sampah plastik tersedia dan ini potensi untuk kita kembangkan menjadi petasol," ucapnya, saat peluncuran pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar petasol.
Dikatakannya, jumlah penduduk Bumi Projotamansari saat ini berada di angka sekitar satu juta jiwa.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, produksi sampah per kapita per hari Bangsa Indonesia 0,68 kilogram.
Apabila dikalikan satu juta jiwa Kabupaten Bantul per hari, maka produksi sampah sekitar 680 ton per hari.
Namun, jika dipukul rata-rata, sampah tersebut berkisar 600 ton per hari.
"Dan menurut penelitian Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul dari tumpukan sampah itu sebesar 31 persen sampah plastik. Kira-kira kalau kita kumpulkan sampah plastik di Kabupaten Bantul per hari sebanyak 31 persen dikalikan dengan 0,68 kilogram sampah dan dikali satu juta jiwa menjadi sekitar lebih dari 200 ton sampah plastik per hari di Kabupaten Bantul," jelasnya.
Solusi Masalah Sampah
Selama ini, sampah yang ada di Bantul dikelola oleh berbagai belah pihak termasuk padukuhan, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) tingkat kalurahan, KSM Pilah Berkah, hingga Pemkab Bantul sendiri.
Namun, kehadiran pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar petasol diharapkan sampah plastik tidak perlu lagi dibuang atau dikirim ke TPST maupun TPA, melainkan dapat diolah dan disulap menjadi petasol.
Lebih lanjut, Halim menilai, program itu setidaknya dapat mengurangi dua masalah berupa timbunan sampah dan subsidi energi atau pengurangan kebutuhan energi yang berbahan fosil.
Jika masyarakat Bumi Projotamansari yang setiap harinya memproduksi sampah plastik diserap semuanya, maka akan menjadi potensi perbaikan lingkungan signifikan sekaligus menyediakan bahan bakar minyak (BBM) alternatif berkualitas bagus.
"Ini (inovasi sampah menjadi solar) kan baru demplot di KSM Pilah Berkah. Nanti, Insyaallah akan kami kembangkan di KSM-KSM yang lain. Mesinnya itu kan seharga kurang lebih Rp150 juta. Jadi, pastilah nanti kami kembangkan, mana KSM yang siap, yang komitmen. Nanti akan kami berikan fasilitas mesin mengolah sampah plastik menjadi petasol," tutur dia.
Baca juga: Dukung IKM Kulit Naik Kelas, Disperindag DIY Gelar Temu Kemitraan dan Pameran di NKJ Bantul
Manfaat Ekonomi
Teknologi pirolisis Fastpol yang dikembangkan BRIN bersama para mitra menjadi salah satu solusi strategis.
Teknologi ini mampu mengubah sampah plastik low value yang selama ini menjadi residu menjadi produk bahan bakar cair Petasol yang memiliki nilai manfaat ekonomi.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengembalikan limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, berujar, inovasi sampah plastik menjadi Petasol paling tidak sebagai salah satu opsi mengatasi masalah sampah di daerah-daerah.
Selain mengurangi beban TPA, teknologi ini juga membuka peluang terbentuknya unit-unit usaha berbasis masyarakat yang mampu meningkatkan nilai tambah dari sampah yang selama ini tidak memiliki pasar.
"Kami dari BRIN sebenarnya membuka banyak opsi terkait inovasi-inovasi teknologi yang siap untuk dikerjasamakan dengan daerah dan kita siap membangun kolaborasi dengan masyarakat, pemerintah daerah, dan dari industri yayasan atau foundation. Supaya ini (masalah sampah) diselesaikan secara bersama-sama, tidak satu pihak, tapi ini merupakan tanggung jawab kita semua agar permasalahan sampah terselesaikan dengan baik," ujar dia.
Namun, perlu dipahami bahwa pengembangan bahan bakar dari sampah plastik melalui teknologi pirolisis bukanlah untuk menjadi pesaing atau kompetitor bahan bakar minyak yang diproduksi Pertamina.
Volume sampah plastik yang tersedia dan layak diolah menjadi bahan bakar relatif sangat kecil dibandingkan kebutuhan BBM nasional yang mencapai jutaan kiloliter setiap tahun.
Bahkan jika seluruh sampah plastik low value dapat dikumpulkan dan diolah secara optimal, kontribusinya tetap hanya menjadi pelengkap dalam bauran energi dan solusi pengurangan sampah, bukan sebagai pengganti utama BBM konvensional.
Maka, teknologi ini lebih tepat dipandang sebagai solusi lingkungan yang menghasilkan manfaat energi tambahan (co-benefit), bukan sebagai industri energi skala besar yang akan menggantikan sistem penyediaan BBM nasional.
Kurangi Pembakaran Sampah
Pemanfaatan sampah plastik low value melalui teknologi pirolisis juga diharapkan mampu mengurangi praktik pembakaran sampah secara terbuka yang masih banyak ditemukan di berbagai wilayah.
Praktik tersebut tidak hanya menghasilkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga melepaskan partikel dan senyawa pencemar yang dapat menurunkan kualitas udara dan berdampak pada kesehatan masyarakat.
"BRIN selalu siap membantu apapun masalah yang menjadi permasalahan masyarakat, daerah-daerah. Kita punya BRIN Innovation Village. Ya nanti kita buka pintu kerja sama dengan semua pihak. Kita akan kerja sama dengan memberikan opsi-opsi atau solusi bagi masyarakat," jelas dia.
Kolaborasi Pertamina
Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengaku senang bahwa saat ini, Bantul memiliki petasol yakni bahan bakar setara solar dari hasil proyek kompetisi inovasi teknologi yang dilaksanakan oleh Pertamina Foundation. Inovasi itu bermanfaat langsung kepada masyarakat marginal.
"Hari ini kolaborasi kami di Pertamina Foundation dan yang paling penting adalah di komunitas tempat pengolahan sampah, Bupati Bantul, dan BRIN. Ini kolaborasi yang sangat nyata, bagaimana semuanya kita laksanakan untuk sepenuhnya mendukung asta citra pemerintah dan Pertamina itu sendiri sangat bagus dalam mendukung swasembada energi," paparnya.
Melalui program PFsains, pihaknya hadir untuk mendukung inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, mudah diadopsi, dan mampu memberikan dampak nyata. Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Sejak 2020, program PFsains telah mendukung 45 inovator dan peneliti dari berbagai bidang, mulai dari energi terbarukan, pertanian, perikanan, hingga pengelolaan limbah.
Program ini tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, tetapi juga pendampingan pengembangan model bisnis, implementasi, serta evaluasi agar inovasi dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Inilah bentuk inovasi yang kami dorong, yaitu solusi yang hadir dari kebutuhan masyarakat dan dapat dimanfaatkan secara langsung. Lewat program PFsains, kami menjembatani hasil riset dan inovasi agar tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat hingga ke pelosok desa," pungkasnya.(*)
-
| DLH Bantul Sebut Pembuang Sampah di Lahan Warga Selopamioro Diduga dari Luar Daerah |
|
|---|
| BRIN Ikut Terjun ke Lapangan, Teliti Fenomena Teror Api Misterius di Rumah Warga Seyegan Sleman |
|
|---|
| Tahun Ini, Pemkab Bantul Targetkan Perbaikan 88 Unit RTLH Tahan Gempa |
|
|---|
| Target PAD Parkir di Bantul Tahun 2026 Naik Jadi Rp1,1 Miliar |
|
|---|
| Lacak Sumber Pemicu Api Misterius di Seyegan, BPBD Sleman Koordinasi Pertamina hingga Ahli Geologi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260906-Sampah-Plastik-di-Bantul-Disulap-Jadi-Petasol.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.