Rupiah Melemah, Enam Risiko Berat Intai Proyek Infrastruktur DIY

Lonjakan harga yang mencapai 200 persen ini memberikan ancaman serius terhadap tata laksana pembangunan dan infrastruktur di DIY

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, Anna Rina Herbranti 
Ringkasan Berita:
  • Pelemahan nilai tukar rupiah memicu eskalasi harga material konstruksi dan alat laboratorium di DIY hingga mencapai 200 persen.
  • Lonjakan harga ini mengancam tata laksana pembangunan karena berisiko meningkatkan biaya operasional hingga menghambat penyelesaian proyek.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Anna Rina Herbranti, mengungkapkan adanya eskalasi harga material yang signifikan pada proyek-proyek di DIY. 

Lonjakan harga yang mencapai 200 persen ini memberikan ancaman serius terhadap tata laksana pembangunan dan infrastruktur di daerah.

Kondisi tersebut selaras dengan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Berdasarkan data perdagangan pasar uang pada Jumat (5/6/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah 74,5 poin atau 0,41 persen ke level Rp 18.110 per dollar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Dampak rupiah melemah, harga-harga melonjak

Anna merinci bahwa lonjakan harga ini tidak hanya menyasar satu sektor, melainkan merata mulai dari infrastruktur jalan, utilitas umum, hingga pengadaan di laboratorium.

"Tidak hanya pekerjaan jalan yang terdampak, tapi hampir semua pekerjaan konstruksi mengalami kenaikan harga materialnya. Pada beberapa paket pekerjaan jalan dan jembatan terjadi kenaikan harga mata pekerjaan antara 10 persen sampai dengan lebih dari 80 persen dibandingkan harga kontrak. Sedangkan pada pekerjaan Penyediaan Prasarana, Sarana dan Utilitas Umum (PSU) terjadi kenaikan harga pekerjaan antara 10 persen sampai dengan 43 persen, terutama pada pekerjaan baja tulangan, beton, pipa baja dan pekerjaan perkerasan jalan," jelas Anna.

Lebih lanjut, Anna menegaskan bahwa pengadaan alat-alat operasional spesifik juga terkena imbas yang jauh lebih besar dan memicu sejumlah risiko berantai bagi para penyedia jasa maupun berjalannya proyek.

"Selain itu pada pengadaan beberapa bahan kimia laboratorium terjadi kenaikan harga yang sangat besar sekitar 200 persen. Berdasarkan kenaikan tersebut ada beberapa resiko yang dapat timbul berupa peningkatan biaya operasional pekerjaan, keterlambatan pelaksanaan pekerjaan, terganggunya arus kas penyedia, penurunan kualitas pekerjaan, potensi klaim kontraktual, dan terganggunya operasional laboratorium balai Paljk," tegas Anna.

Pelemahan nilai tukar rupiah di level Rp 18.110 per dollar AS ini terjadi di tengah pergerakan mata uang yang fluktuatif di tingkat regional maupun global.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved