Bendung Tekstil Printing, Dispar DIY Pacu Sertifikasi Kompetensi Perajin Batik Cap

Dispar DIY menggelar "Sertifikasi dan Pelatihan Berbasis Kompetensi Skema Pembuatan Batik Cap

Tayang:
Tribun Jogja/HANIF SURYO
SERTIFIKASI - Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta DIY) Imam Pratanadi bersama Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian Zya Labiba berfoto bersama para peserta seusai pembukaan Sertifikasi dan Pelatihan Berbasis Kompetensi Skema Pembuatan Batik Cap di Yogyakarta, Senin (8/6/2026). Agenda yang berlangsung hingga 12 Juni 2026 dan diikuti oleh 20 perajin lokal ini diinisiasi untuk mendongkrak kualitas, standardisasi kompetensi, serta daya saing produk kriya batik cap DIY di pasar global guna membendung maraknya gempuran produk tekstil bermotif cetak (printing). 

"Batik masih menjadi produk andalan dari DIY. Kita harus mengejar laju produksi yang luar biasa dari daerah-daerah tetangga kita. Sentra-sentra produksi terdekat di kota-kota lain juga memiliki standar yang luar biasa, dan secara kualitas, mereka merupakan pesaing yang kuat bagi kita. Oleh karena itu, kami mengharapkan Bapak/Ibu sekalian sungguh-sungguh mengikuti pelatihan dan sertifikasi ini agar kita dapat bersaing secara nasional maupun internasional, serta mengukuhkan kembali posisi DIY sebagai pusat batik di Indonesia dan dunia," ujar Imam.

Ia berharap agar materi yang disampaikan oleh para narasumber dapat diserap dengan baik dan diaplikasikan langsung dalam pengerjaan produk-produk batik cap di daerah. Ia meyakini bahwa investasi terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah investasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, perpaduan antara SDM yang unggul dan kekayaan budaya yang luar biasa akan melahirkan produk-produk kreatif yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga mampu mengangkat nama DIY di tingkat nasional maupun global.  

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Pemda DIY memberikan perhatian yang sangat besar terhadap sektor ekonomi kreatif. Keberadaan industri yang digerakkan oleh para pelaku usaha ini sangat diandalkan untuk menjadi lokomotif perekonomian di DIY. 

"Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, yang telah menjadi mitra strategis kami dalam pengembangan SDM Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Yogyakarta. Terjalinnya kolaborasi antara Dinas Pariwisata dengan Balai Besar ini merupakan wujud nyata sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam memperkuat kualitas pelaku ekonomi kreatif. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus diperluas melalui berbagai program peningkatan kapasitas, pendampingan usaha, standardisasi produk, hilirisasi industri kreatif, serta penguatan jejaring pemasaran, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat dan pelaku ekraf di DIY," kata Imam.
Penguatan teknik pembuatan batik cap dinilai sebagai strategi transisional yang sangat cerdas. Di satu sisi, teknik cap memungkinkan eskalasi jumlah produksi secara lebih masal guna memenuhi kebutuhan industri pariwisata yang bergerak dinamis. Di sisi lain, penggunaan malam panas tetap menjaga esensi craftmanship tradisional yang bernilai tinggi.

Status kelulusan berpredikat kompeten (certified) yang akan dinilai oleh para asesor pada tanggal 12 Juni menjadi instrumen hukum dan profesional yang kuat. Sertifikat tersebut bukan sekadar selembar kertas formalitas, melainkan sebuah aset niaga yang mampu meningkatkan nilai tawar, omzet, serta memperluas penetrasi pasar produk kriya Yogyakarta secara akuntabel di tingkat global.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved