Pokdarwis Purbayan Dukung Penutupan 'Between Two Gates' Kotagede: Hargai Privasi Warga!
Pihak Pokdarwis Purbayan menyatakan dukungannya terhadap langkah spontan warga yang memilih menutup sementara akses ke lorong ikonik itu
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gelombang keresahan warga terhadap pariwisata massal di kawasan Between Two Gates (BTG) Kotagede, Kota Yogyakarta, memantik respons dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Purbayan.
Pihak Pokdarwis menyatakan dukungannya terhadap langkah spontan warga yang memilih menutup sementara akses ke lorong ikonik itu, demi mengembalikan ketenangan lingkungan.
Ketua Pokdarwis Purbayan, Nurcahyo Nugroho, meluruskan anggapan keliru yang selama ini beredar di kalangan wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.
Ia menegaskan bahwa lorong di Between Two Gates sejatinya bukanlah ruang publik atau jalan umum yang bisa diakses sesuka hati oleh siapa saja.
"Memang jalan tersebut bukan jalan umum. Jalan itu adalah bagian dari rumah penduduk, yang dalam istilah arsitektur tradisional namanya longkang (ruang terbuka di antara bangunan rumah). Jadi itu adalah area privat milik warga," ujarnya, Rabu (3/6/2026).
Nurcahyo kemudian membeberkan kronologi insiden yang menjadi pemantik ketidaknyamanan warga setempat pada Minggu (31/5/2026) pagi lalu.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, sekitar pukul 07.00 WIB, satu rombongan tur besar asal Jakarta yang hendak menuju ke Borobudur menyempatkan diri menyambangi Kotagede.
Rombongan yang diperkirakan berjumlah sekitar 70 orang tersebut langsung merangsek masuk ke kawasan BTG tanpa mengantongi izin dari pengelola setempat.
Kedatangan puluhan orang dalam waktu bersamaan di pagi buta itu praktis memicu kegelisahan warga yang sontak langsung mengambil langkah spontan.
"Mereka masuk tanpa izin pengelola jam 7 pagi. Suasananya langsung padat dan berisik. Padahal, di lokasi sudah jelas ada papan pengumuman bahwa kawasan baru dibuka mulai pukul 08.00 WIB. Terlebih untuk aktivitas rombongan atau tertentu, aturannya wajib ada izin terlebih dahulu," terangnya.
Baca juga: Kawasan Heritage Between Two Gates Kotagede Ditutup Warga, Ini Penyebabnya
Anggota DPRD Kota Yogyakarta itu menyebut, aksi penutupan oleh warga ini merupakan puncak dari akumulasi kekesalan yang sudah terpendam lama.
Sebelum insiden terkini, Pokdarwis sudah kerap menerima keluhan terkait minimnya sopan santun dari sejumlah travel agent maupun pengunjung mandiri yang datang.
"Memang sebelumnya juga ada beberapa travel lain atau pengunjung yang kurang sopan santunnya. Salah satunya, misal melihat-lihat isi dalam rumah, mendokumentasikan bagian dalam rumah, dan semua itu dilakukan tanpa permisi kepada pemiliknya," ungkap Nurcahyo.
Kondisi ini berbanding terbalik jika para wisatawan atau biro perjalanan masuk melalui prosedur resmi yang telah disediakan oleh pengelola maupun Kampung Wisata Purbayan.
Nurcahyo menjamin, setiap wisatawan yang masuk secara prosedural akan dibekali dengan edukasi mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di area warisan budaya tersebut.
| Kawasan Heritage 'Between Two Gates' Kotagede Ditutup Warga, Ini Penyebabnya |
|
|---|
| Polsek Kotagede Gelar Razia Pekat, Sasar Peredaran Miras dan Potensi Kriminal |
|
|---|
| GKJ Kotagede Gelar Pasar Murah dan Bazar UMKM di Tengah Kenaikan Harga Bahan Pokok |
|
|---|
| Kunker Tamu DPRD Kota Yogyakarta Dialihkan ke Kampung Wisata, Pelaku UMKM Ketiban Berkah |
|
|---|
| Program 'Bule Mengajar' Sasar Kampung Wisata di Kota Yogyakarta, Kotagede Jadi Pilot Project |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kawasan-Heritage-Between-Two-Gates-Kotagede-Ditutup-Warga-Ini-Penyebabnya.jpg)