Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Analisis Terbaru Tim Peneliti UGM soal Teka-teki Kemunculan Api di Rumah Warga Seyegan Sleman

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendeteksi adanya lonjakan suhu drastis yang dibarengi dengan kenaikan volume gas Hidrogen (H2)

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: TON | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
TELITI - Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan observasi di rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman, Sabtu (30/5/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membeberkan analisis terkait fenomena kemunculan api misterius di Seyegan, Sleman.
  • Sifat gas yang dinamis disebut menjadi alasan mengapa titik kebakaran di rumah Agusyani selalu acak dan berpindah-pindah di dalam rumah.
  • Saat melakukan observasi di lokasi, tim peneliti UGM menyaksikan langsung selembar kaus yang semampir di dalam kamar ruang tengah mendadak terbakar

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada melakukan observasi dengan terjun langsung ke lokasi kemunculan api misterius di rumah warga di Seyegan, Sleman.

Fenomena titik api yang terjadi berulang di rumah Agusyani, warga dusun Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman memang memancing perhatian sejumlah pihak, termasuk kalangan akademisi.

Terbaru, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mendeteksi adanya lonjakan suhu drastis yang dibarengi dengan kenaikan volume gas Hidrogen (H2) pada barang yang terbakar di rumah tersebut. 

Fenomena ini disebut auto-ignition atau penyalaan spontan, di mana api muncul sendiri tanpa pemantik eksternal akibat unsur dalam 'segitiga api' mencapai kondisi optimum pada posisi stoikiometri.

Ketua Tim Peneliti dari Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tantowi, menjelaskan sifat gas yang dinamis menjadi alasan mengapa titik kebakaran di rumah Agusyani selalu acak dan berpindah-pindah di dalam rumah.

"Jadi ada satu kondisi mengapa barang (yang) terbakar bisa berpindah-pindah, karena berupa gas. Gas itu bisa berkonsentrasi di sana, memenuhi syarat (segitiga api), maka menyala. Nanti pindah lagi, memenuhi syarat, menyala lagi," jelas Prof. Alva, Senin (1/6/2026).

Api Tiba-tiba Menyala

Saat melakukan observasi di lokasi kejadian, tim peneliti UGM yang terdiri dari pelbagai disiplin ilmu ini menyaksikan langsung selembar kaus yang tersampir di dalam kamar ruang tengah mendadak terbakar.

Api sempat dipadamkan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), namun api di kaus tersebut kembali menyala.

Melalui instrumen alat ukur, atmosfer di dalam ruang kamar tersebut diduga mengandung unsur pemicu yang tinggi.

Namun, gas tidak dapat menyala sendiri tanpa ada media fisik.

Misalnya kain, kertas ataupun barang-barang yang posisinya tergantung.

Oleh karena itu, untuk meminimalisir risiko kebakaran susulan yang lebih besar, Prof Alva meminta agar ruangan-ruangan dengan konsentrasi gas tinggi segera dikosongkan dari segala benda yang mudah terbakar. 

"Ruangan tadi saya minta dikosongkan,  agar meminimalisir kebakaran karena di ruangan itu ada kain, media yang mudah terbakar," kata dia. 

Baca juga: Kasus Teror Api di Seyegan, Peneliti Ungkap Indikasi Rekahan Jalur Gas Alami

Suhu Gas Tinggi

Berdasarkan pengukuran instrumen di ruangan dengan konsentrasi gas tinggi tersebut, suhu terpantau terus melonjak drastis dibarengi dengan kenaikan volume gas Hidrogen (H2). 

"Ini satu kejadian yang luar biasa, kami bisa melihat langsung, dan ini pada intinya kami mengukur suhu, suhunya naik terus kemudian yang terpantau gas Hidrogen (H2) naik terus, (skala) 11-12 mulai menyala (api). Nah khusus ruangan tengah di kamar itu, tampaknya yang konsentrasinya (gas) tinggi," kata Alva.  

Secara ilmiah, fenomena api yang bisa menyala sendiri di rumah Agusyani ini disebut auto-ignition atau spontaneous ignition (penyalaan spontan).

Api akan muncul sendiri tanpa pemantik begitu unsur dalam 'segitiga api' mencapai kondisi optimum pada posisi stoikiometri. 

Kendati demikian, Alva menegaskan bahwa data-data lapangan ini baru merupakan dugaan awal. Seluruh sampel yaang telah diambil seperti bekas barang terbakar, maupun air di seputar rumah akan diuji secara mendalam di laboratorium yang rencananya dilakukan pada Selasa (2/6/2026) esok. 

"Nah sementara ini kan baru dugaan dugaan. Tetapi nanti pastinya dari (hasil) laboratorium yang telah terukur. Bukan hanya sebuah kata-kata, tapi ini sebuah angka yang bicara," jelasnya.

CARI GAS PEMICU: Prof. Alva Edy Tantowi (bertopi) saat menyampaikan keterangan setelah melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah Agusyani yang mengalami kebakaran berulang di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman
CARI GAS PEMICU: Prof. Alva Edy Tantowi (bertopi) saat menyampaikan keterangan setelah melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah Agusyani yang mengalami kebakaran berulang di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman (Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin)

Diduga Gas Hidrogen

Peneliti dari Teknik Geologi UGM, Prof. Agung Harijoko, menjelaskan bahwa dari berbagai gas yang dipantau melalui alat detektor, seperti Gas Metana (CH4) Karbondioksida (CO2) dan Hidrogen (H2) lonjakan paling ekstrem di titik kebakaran justru ditunjukkan oleh gas Hidrogen. Menurutnya, Gas Hidrogen memiliki karakteristik khusus.

Pada kondisi tertentu, gas ini dapat menyala sendiri bahkan dalam batasan suhu ruangan. 

"Jadi suspeck gasnya adalah hidrogen tapi kemudian yang kami harus berfikir lagi adalah sumbernya," kata dia. 

Pencarian sumber gas ini menjadi penting. Sebab mekanisme api bisa menyala di rumah Agusyani membutuhkan hidrogen, sehingga perlu ditelaah kembali.

Untuk mencari sumbernya, peneliti mengaku telah mengambil sejumlah sampel air di rumah tersebut. Harapannya sampel air bisa diteliti untuk mengetahui apakah ada barang-barang dari organik yang masuk ke dalam sumur atau tidak. 

"Jadi proses pembentukan (gas) hidrogen itu dari proses peluruhan atau dekomposisi pembusukan dari organik. Apakah itu yang menghasilkan hidrogen, itu yang harus kamu teliti lagi," kata dia. 

Pergeseran temuan awal dari gas metan ke hidrogen ini juga melahirkan hipotesis baru bagi Tim Teknik Kimia UGM.

Peneliti Teknik Kimia, Prof. Sarto, menyatakan sampel air telah diambil dari berbagai titik di sekitar rumah, termasuk sumur, kolam limbah, rawa, hingga area kamar mandi. Sampel tersebut akan diuji dan diperbandingkan.

Hasil laboratorium akan segera disampaikan. 

"Kalau dugaan kemarin adalah gas metan yang biasanya muncul dari pembusukan, yang ini kok ternyata hidrogen, sehingga kami akan mencari sumber yang sebenarnya apa. Disamping kejadian-kejadian kemarin yang terbakar kita kumpulkan informasinya. Jadi mudah-mudahan sumber yang kita duga dari air, besok kita bisa temukan sedangkan lainnya kami akan cari lagi," ujar Prof. Sarto. 

Pemilik Rumah Sedikit Lega

Hingga hari kesepuluh, tercatat sudah terjadi 73 kali peristiwa kebakaran di rumah Agusyani yang tersebar di 65 titik berbeda di dalam rumah.

Putri Agusyani, Mutfiana, bercerita api kerap muncul secara tiba-tiba saat ruangan kosong tidak ada orang.

Misalnya, ia menyebut ketika kaus di ruang kamar tiba-tiba terbakar, saat itu kondisinya kosong tidak ada orang.

Kebetulan saat itu sang Ibu masuk kamar hendak Salat melihat api sudah menyala besar. 

Saat ini, meski lelah ia mengaku merasa lebih tenang setelah mendengar langsung penjelasan ilmiah fenomena api ini dari para ahli.

 "Sudah lebih cerah, sudah lebih tenang, namun harus tetap waspada karena ini belum berakhir.Hanya memang lebih tenang, oh ini tidak ada kaitannya dengan mistis, tapi memag ada dan bisa dipelajari secara ilmiah. Tinggal menunggu hasil dari peneliti mungkin beberapa hari lagi," ujar dia. 

(tribunjogja.com/rif)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved