Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Para Pakar UGM Saksikan Langsung Api Menyala Sendiri di Rumah Seyegan, Pemicu Diduga Gas Hidrogen

Para peneliti tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung mengukur parameter gas pemicu kebakaran. 

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
CARI GAS PEMICU: Prof. Alva Edy Tantowi (bertopi) saat menyampaikan keterangan setelah melakukan observasi dan pengambilan sampel di rumah Agusyani yang mengalami kebakaran berulang di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman 
Ringkasan Berita:
  • Tim pakar FT UGM menyaksikan langsung kemunculan api spontan dan mendeteksi lonjakan suhu serta gas hidrogen di lokasi kebakaran.
  • Peneliti menduga gas hidrogen menjadi pemicu utama karena konsentrasinya meningkat tajam saat api muncul.
  • Sampel air, gas, dan material terbakar telah diambil untuk diuji di laboratorium guna mencari sumber hidrogen secara pasti.
  • Pemeriksaan awal menunjukkan faktor kelistrikan dan infrastruktur eksternal tidak menjadi penyebab utama kebakaran berulang tersebut.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Teka-teki fenomena langka berupa kebakaran berulang secara tiba-tiba di rumah Agusyani di Mriyan X, Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman, mulai menemui titik terang secara ilmiah. 

Tim pakar lintas disiplin ilmu dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) yang turun observasi ke lokasi kejadian menyaksikan langsung bagaimana proses kemunculan api membakar barang di rumah dua lantai tersebut.

Menyala, peneliti cari gas pemicunya

Para peneliti tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan langsung mengukur parameter gas pemicu kebakaran

Saat kejadian, Tim Pakar atau Para Peneliti UGM ini sedang berada di ruang depan rumah, mereka telah selesai mengambil sampel, saat api tiba-tiba menyala dan membakar selembar kaos yang semampir di dalam kamar di ruang tengah.

Berdasarkan pengukuran instrumen di ruangan dengan konsentrasi gas tinggi tersebut, suhu terpantau terus melonjak drastis dibarengi dengan kenaikan volume gas Hidrogen (H2). 

"Ini satu kejadian yang luar biasa, kami bisa melihat langsung, dan ini pada intinya kami mengukur suhu, suhunya naik terus kemudian yang terpantau gas Hidrogen (H2) naik terus, (skala) 11-12 mulai menyala (api). Nah khusus ruangan tengah di kamar itu, tampaknya yang konsentrasinya (gas) tinggi," kata Ketua Tim Peneliti UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tantowi, Senin (1/6/2026). 

Secara ilmiah, fenomena api yang bisa menyala sendiri di rumah Agusyani ini disebut auto-ignition atau spontaneous ignition (penyalaan spontan). Api akan muncul sendiri tanpa pemantik begitu unsur dalam 'segitiga api' mencapai kondisi optimum pada posisi stoikiometri. 

Kendati demikian, Alva menegaskan bahwa data-data lapangan ini baru merupakan dugaan awal. Seluruh sampel yaang telah diambil seperti bekas barang terbakar, maupun air di seputar rumah akan diuji secara mendalam di laboratorium yang rencananya dilakukan pada Selasa (2/6/2026) esok. 

"Nah sementara ini kan baru dugaan dugaan. Tetapi nanti pastinya dari (hasil) laboratorium yang telah terukur. Bukan hanya sebuah kata-kata, tapi ini sebuah angka yang bicara," jelasnya. 

Diduga Gas Hidrogen

Peneliti dari Teknik Geologi UGM, Prof. Agung Harijoko, menjelaskan bahwa dari berbagai gas yang dipantau melalui alat detektor, seperti Gas Metana (CH4) Karbondioksida (CO2) dan Hidrogen (H2) lonjakan paling ekstrem di titik kebakaran justru ditunjukkan oleh gas Hidrogen. Menurutnya, Gas Hidrogen memiliki karakteristik khusus. Pada kondisi tertentu, gas ini dapat menyala sendiri bahkan dalam batasan suhu ruangan. 

"Jadi suspeck gasnya adalah hidrogen tapi kemudian yang kami harus berfikir lagi adalah sumbernya," kata dia. 

Pencarian sumber gas ini menjadi penting. Sebab mekanisme api bisa menyala di rumah Agusyani membutuhkan hidrogen, sehingga perlu ditelaah kembali. Untuk mencari sumbernya, peneliti mengaku telah mengambil sejumlah sampel air di rumah tersebut. Harapannya sampel air bisa diteliti untuk mengetahui apakah ada barang-barang dari organik yang masuk ke dalam sumur atau tidak. 

"Jadi proses pembentukan (gas) hidrogen itu dari proses peluruhan atau dekomposisi pembusukan dari organik. Apakah itu yang menghasilkan hidrogen, itu yang harus kamu teliti lagi," kata dia. 

Pergeseran temuan awal dari gas metan ke hidrogen ini juga melahirkan hipotesis baru bagi Tim Teknik Kimia UGM. Peneliti Teknik Kimia, Prof. Sarto, menyatakan sampel air telah diambil dari berbagai titik di sekitar rumah, termasuk sumur, kolam limbah, rawa, hingga area kamar mandi. Sampel tersebut akan diuji dan diperbandingkan. Hasil laboratorium akan segera disampaikan. 

"Kalau dugaan kemarin adalah gas metan yang biasanya muncul dari pembusukan, yang ini kok ternyata hidrogen, sehingga kami akan mencari sumber yang sebenarnya apa. Disamping kejadian-kejadian kemarin yang terbakar kita kumpulkan informasinya. Jadi mudah-mudahan sumber yang kita duga dari air, besok kita bisa temukan sedangkan lainnya kami akan cari lagi," ujar Prof. Sarto. 

Analisa sampel fisik yang terbakar 

Di sisi lain, proses pengumpulan sampel fisik dari material yang telah hangus terbakar juga terus dilakukan. Peneliti dari Teknik Mesin UGM, Prof. Deendarlianto, memastikan seluruh sampel benda dan gas yang terperangkap pada objek terbakar akan dianalisis secara simultan di laboratorium pada hari Selasa besok. Sementara itu, untuk memastikan tidak ada penyebab lain dari faktor eksternal, Pakar Elektro UGM, Iswandi, turut memeriksa potensi gangguan medan magnet atau jaringan listrik di sekitar pemukiman. Hasil sementara menunjukkan tidak ada infrastruktur tegangan tinggi maupun menara (tower) pemancar yang besar dj seputar rumah Agusyani.

"Keluhan pemilik rumah mengenai listrik yang tidak stabil saya kira bukan menjadi penyebab kemunculan api. Saya kira selanjutnya, terbakarnya satu gas ada kemungkinan bisa muncul karena tidak perlu pemantik. Kalau disini kelistrikan cenderungnya hanya pemantik saja," terang Iswandi. 

Kehadiran tim ilmiah ini diharapkan dapat meredam spekulasi liar yang berkembang di tengah masyarakat. Dr. Ahmad Agus Setiawan dari Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM menyampaikan bahwa jajaran pakar senior termasuk mantan Rektor UGM dan mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menaruh perhatian besar pada kasus yang menyita perhatian publik ini.

"Kemarin kami sudah diskusi intens para pakar, termasuk mantan Rektor dan mantan Kepala BMKG Dwikorita dan ada konsen yang dimunculkan, bagaimana tim ini membawa informasi kebakaran berulang ini bisa lebih ilmiah. Sebab kasus ini sudah mulai dibawa ke ranah yang agak mistis. Semoga dengan informasi yang fiks, bisa menjembatani ini semua," harap Agus.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved