JOGJA HARI INI : Pecahkan Misteri Teror Api
Selama sepekan terakhir, penghuni rumah dilanda kecemasan dan ketegangan akibat teror titik api misterius yang terus bermunculan.
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman dilanda 53 kali kemunculan titik api misterius dalam sepekan, yang membakar berbagai barang di area belakang rumah tanpa waktu yang bisa ditebak.
- PLN memastikan instalasi listrik rumah dalam kondisi baik dan menegaskan fenomena ini bukan dipicu oleh korsleting atau kebocoran arus.
- Tim FT UGM dan BPBD Sleman melakukan observasi lapangan untuk meneliti potensi anomali geologis atau sisa kantong gas metana dari septic tank yang diduga menjadi pemicu api.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rumah berlantai dua milik Agus Yani di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman, kini tak lagi menjadi tempat bernaung yang tenang.
Selama sepekan terakhir, penghuni rumah dilanda kecemasan dan ketegangan akibat teror titik api misterius yang terus bermunculan.
Titik api di rumah Agus Yani kembali menyala pada Jumat (29/5/2026) pukul 22.30 WIB. Kali ini, api membakar tas berisi wadah telur yang terbuat dari mika plastik.
Hampir serupa seperti sebelumnya, lokasi munculnya titik api ini di bagian belakang rumah.
Tas berisi wadah telur yang terkait di dinding dekat dapur tiba-tiba terbakar. Api menyala dan menghabiskan tas dan wadah tersebut.
Beruntung, api yang sempat membesar langsung diketahui penghuni rumah sehingga dapat terlokalisasi dengan baik. Api kemudian dipadamkan.
Sementara, titik api juga terjadi pada siang sekitar pukul 11.43 WIB dan 13.33 WIB. Sekitar pukul 13.33 WIB, saat sebuah wadah atau baskom plastik di bawah rak piring area dapur tiba-tiba terbakar.
Beruntung, kobaran api segera terdeteksi dan dipadamkan sebelum merembet ke peralatan masak lainnya.
Titik api kembali menyala pada pukul 14.35 dan 18.30 WIB.
Pada kejadian sore, api menyala di teras belakang. Sedangkan saat petang, titik api ada di atas sumur. Hingga menjelang malam, sudah terjadi enam kali titik api muncul. Semua terkonsentrasi di area belakang rumah.
Jika ditotal sejak Jumat (22/5/206) lalu sudah 53 kali titik api tiba-tiba berkobar dan melahap barang apa saja di rumah tersebut, mulai dari pipa air, kursi, pakaian, lap, handuk, boneka, helm, kayu, tikar, dan lainnya.
Waktu dan lokasi munculnya api sama sekali tidak bisa ditebak.
Sementara, pada Jumat (29/5/2026) dini hari, misalnya gulungan kabel di dalam plastik yang tersimpan di bawah atap belakang rumah tiba-tiba meleleh akibat terbakar.
Kejadian ini menjadi perhatian sejumlah pihak. Beberapa personel dari kampus dan instansi terkait dijadwalkan meninjau pada Sabtu (30/5/2026) hari ini, untuk mencari tahu penyebab peristiwa tersebut.
Sebelumnya, sejumlah analisa menyebutkan jika titik api ini dipicu dari bocornya gas metana yang bersumber di septic tank. Tindak lanjut yang dilakukan adalah menguras dan mengecek saluran pipanya. Termasuk, meninggikan pipa pernapasan septic tank. Namun, titik api masih sering muncul.
Pemilik rumah dan keluarga tetap siaga. Barang-barang di beberapa ruangan pun telah dikeluarkan untuk menghindari potensi terbakar seperti yang sudah-sudah.
Putri Agus Yani, H. Mutfiana, mengungkapkan, api tiba-tiba muncul begitu saja, seperti yang terjadi sepekan ini, sembari bercerita betapa melelahkannya situasi tersebut.
Teror api begitu melelahkan, karena dalam sehari, bisa terjadi hingga lima kali.
Untuk menyiasati keadaan, keluarga Agus terpaksa menguras isi rumah mereka. Barang-barang yang mudah terbakar dievakuasi ke luar ruangan.
Di setiap sudut, kini bersiap ember-ember berisi handuk basah serta Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
Mereka harus terus terjaga 24 jam, memasang mata dan telinga demi mengantisipasi kemunculan titik api baru.
Baca juga: Misteri Rumah Api Seyegan Sleman, PLN Pastikan Instalasi Listrik Aman dari Konsleting
Observasi
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada bakal melakukan observasi ke rumah Agus Yani di Seyegan, Sleman.
Koordinator Tim PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi mengatakan kunjungan tim PKPE akan dilakukan Sabtu (30/5/2026) hari ini.
Ia menyebut kunjungan tersebut bukan karena permintaan Pemerintah Kabupaten Sleman, namun empati dari para akademisi UGM.
"Enggak ada (permintaan Pemkab Sleman). Ini hanya empati ya, yang pada punya ilmu itu loh. Itu ada problem di masyarakat, ada yang bingung. Nah, ini kami membawa teman-teman yang punya ilmu, supaya bisa memberikan pencerahan," katanya, Jumat (29/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, tim PKPE UGM melibatkan berbagai departemen, seperti Teknik Mesin dan Industri, Teknik Nuklir dan Fisika, Teknik Sipil dan Lingkungan, dan Geologi. Ada sekitar tujuh yang akan terjun langsung ke lokasi.
Sebagai langkah awal, tim ini akan melakukan observasi dengan melihat sumber kebakaran, tempat yang terbakar dan lingkungannya.
"Ya observasinya nanti melihat sumbernya, terus tempat yang kebakaran, terus lingkungannya gitu. Belum (membawa alat tertentu), soalnya ini kan waktunya nyrepek (mepet) banget. Kan keputusan mau observasi itu kemarin. Jadi mungkin nanti setelah visit ini, nanti visit berikutnya mungkin (membawa alat khusus yang dibutuhkan)," terangnya.
Menurut dia, kasus serupa juga pernah terjadi di wilayah lain dan pernah ditinjau oleh tim dari Departemen Geologi UGM. Beberapa kasus sebelumnya, kebakaran terjadi karena kebocoran gas metana, biogas, SPBU, dan lain-lain.
Dalam teror api di Seyegan, pihaknya belum bisa memastikan kebakaran tersebut dipicu oleh kebocoran gas.
"Besok (hari ini) kan baru mau dilihat sumbernya, penyebabnya, lingkungannya seperti apa. Baru kemudian teman-teman yang punya ilmu itu akan menganalisis, terus nanti ada rekomendasi. Tapi ini intinya membantu untuk mencari solusi," imbuhnya.
Manager PLN UP3 Sleman, Ririn Harwati mengatakan PLN melalui Tim Teknik UP3 Sleman telah melakukan pemeriksaan ke lokasi kejadian di Seyegan Sleman, Jumat (29/5).
Dari hasil investigasi tim teknik, tidak ditemukan adanya kebocoran instalasi.
Tim teknik juga tidak menemukan kerusakan lain yang berkaitan dengan kelistrikan yang menyebabkan api.
"Dari hasil investigasi, tidak ditemukan adanya kebocoran instalasi, maupun kerusakan lain berkaitan dengan kelistrikan yang menyebabkan percikan api," katanya, Jumat (29/5/2026) malam.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, pihaknya memastikan instalasi listrik di rumah tersebut dalam kondisi baik.
Pihaknya juga menyebut tidak ada percikan api yang diakibatkan oleh konsleting.
"PLN memastikan bahwa instalasi listrik dalam keadaan baik, dan tidak ada percikan api yang diakibatkan oleh korsleting," jelasnya.
Langkah cepat
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi dampak fenomena kemunculan "api misterius" di rumah warga Dusun Kasuran tersebut.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, menyatakan, secara logika teknis non-ilmiah, tim di lapangan menduga kuat adanya kantong gas yang masih terjebak di dalam tanah di sekitar area tangki septik, meskipun pembersihan total telah dilakukan oleh pemilik rumah.
"Logikanya, seperti informasi yang disampaikan oleh Tim Gegana kemarin, dimungkinkan masih ada gas yang menyebar dan tersimpan di dalam tanah, sehingga sewaktu-waktu bisa keluar. Namun, sampai kapan gas tersebut akan habis, kita tidak tahu. Secara logika—ini bukan penjelasan ilmiah—kejadian seperti ini mungkin perbandingannya satu berbanding satu juta septic tank. Kalau semua septic tank kondisinya begitu, tentu sudah banyak yang meledak dan terbakar. Apalagi ini septic tank-nya sudah diperbarui dan diperkuat, tetapi apinya masih muncul," ungkapnya.
Jalur komunikasi
Pihaknya tengah berupaya membuka jalur komunikasi dengan sejumlah universitas dan instansi terkait untuk meneliti fenomena ini. Langkah ini diambil karena karakteristik kemunculan api dinilai tidak biasa dan memerlukan analisis ilmiah yang spesifik.
"Kami menjalin komunikasi terlebih dahulu. Pihak ITB sudah memberikan tanggapan, tetapi belum bisa meninjau langsung karena kendala jarak. Untuk UGM dan UPN, Pusdalops kami belum menerima jawaban. Basarnas juga turut menggandeng praktisi—kebetulan dari rekan Pertamina—untuk mencari tahu perkiraan penyebabnya," ujar Bambang.
Bambang menjelaskan bahwa investigasi awal telah melibatkan unsur kepolisian dan TNI, namun titik terang mengenai sifat asli sumber api belum sepenuhnya terungkap. "Berdasarkan keterangan dari Inafis dan Tim Gegana Brimob, kemungkinan sumber apinya berasal dari septic tank. Namun, septic tank tersebut sudah dibersihkan, dikuras, dan salurannya pun sudah diganti baru. Artinya kondisinya sudah bersih, tetapi api masih muncul di tempat yang tidak menentu, seperti di tembok, kamar, atau ruang tamu. Kalau membakar handuk mungkin wajar karena kain mudah terbakar, tetapi kejadian ini sampai membuat kaca akuarium ikut meleleh karena panas," tuturnya secara mendalam.
Hingga saat ini, BPBD Sleman masih menunggu respons lanjutan dari universitas lokal di Yogyakarta untuk terjun ke lapangan. Menurut Bambang, keterlibatan para peneliti sangat krusial mengingat adanya kemungkinan faktor geologis atau anomali struktur tanah di bawah bangunan.
"Belum ada respons lanjutan. Baru dari ITB, tetapi kendalanya jarak jauh. Selain itu, Basarnas berkoordinasi dengan praktisi rekanan mereka. Kami sudah mencoba menghubungi pihak Geologi UPN dan UGM melalui Pusdalops, tetapi saat saya tanyakan, belum ada laporan masuk dari mereka," jelasnya.
"Karena alasan itulah kami berkomunikasi dengan akademisi. Dalam konsep kerja sama pentahelix, akademisi turut campur tangan dengan keahlian spesifik (lex specialis) mereka.
Dimungkinkan ada sumber gas baru atau jalur gas alam di sana yang kita tidak tahu. Teman dari ITB sempat bertanya via telepon apakah sebelumnya ada gempa di wilayah tersebut. Jika ada gempa, kemungkinan ada retakan tanah yang menyebabkan gas keluar, dan itu masuk akal. Namun, nyatanya di sana tidak ada gempa. Hal-hal seperti inilah yang masih harus kami cari tahu," tambah Bambang.
Bambang menambahkan, pihaknya kini terus mengupayakan dapat menggandeng para ahli geologi dari UPN Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengkaji fenomena aneh di Seyegan ini.
Tak hanya itu, koordinasi dengan Basarnas juga dilakukan guna menghubungkan dengan Hiswana Migas agar dapat melacak apakah ada sumber gas bumi atau jalur migas di kawasan pemukiman tersebut.
"Kami masih berusaha terus, karena kok belum bisa ada jawaban (dari fenomena itu). Terus teman-teman dari Basarnas juga sudah menghubungi beberapa teman di Hiswana Migas, kaitannya apakah nanti ada sumber gas di daerah sana," ujarnya. (rif/han/maw)
| Jumlah Pasokan Gas Melon dari Agen ke Sejumlah Pangkalan di Bantul Tak Sesuai Kontrak, Ini Faktanya |
|
|---|
| Tidak Ada Kebocoran Instalasi, Tanpa Pemicu Panas, Kemunculan Api di Rumah Seyegan Masih Misteri |
|
|---|
| Dinkes Sleman Berencana Bantu Tangani Trauma Psikologis Korban Teror Api Rumah di Seyegan |
|
|---|
| Tim Teknik PLN UP3 Sleman Periksa Instalasi Listrik di Rumah yang Terbakar Api Misterius di Seyegan |
|
|---|
| Ahli Geologi UPN Veteran Jogja Sebut Kejanggalan Fenomena Api Misterius di Seyegan, Ini Analisisnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262905-Titik-api-menyala-di-Seyegan-Jumat-siang.jpg)