Belajar dari Gempa Jogja 2006, Pengamat Ungkap Modal Utama Hadapi Megathrust Jawa

Dahsyatnya Gempa Yogyakarta 2006 tidak hanya meluluhlantakkan ratusan fasilitas publik dan ribuan rumah warga

Tayang:
Tribun Jogja/HANIF SURYO
SEMINAR - Seminar sinergi UGM-Kagama bertajuk "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa" di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Gempa Yogyakarta 2006 tidak hanya meluluhlantakkan ratusan fasilitas publik dan ribuan rumah warga, tetapi juga mengubah wajah tata kelola kebencanaan di Indonesia secara permanen.
  • Pemerintah daerah memadukan pendekatan sains dan teologis dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dari akar rumput.
  • Setelah bencana multidimensi yang merenggut lebih dari 6.000 korban jiwa tersebut, pengalaman empiris Yogyakarta kini diposisikan sebagai rujukan krusial nasional.

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dahsyatnya Gempa Yogyakarta 2006 tidak hanya meluluhlantakkan ratusan fasilitas publik dan ribuan rumah warga, tetapi juga mengubah wajah tata kelola kebencanaan di Indonesia secara permanen.

Kesadaran bahwa pemerintah tak bisa bekerja sendiri mendorong transformasi masif, dari pemerintah daerah hingga organisasi keagamaan, untuk memadukan pendekatan sains dan teologis dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat dari akar rumput.

Dua dekade setelah bencana multidimensi yang merenggut lebih dari 6.000 korban jiwa tersebut, pengalaman empiris Yogyakarta kini diposisikan sebagai rujukan krusial nasional. Khususnya dalam merumuskan strategi kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust di sepanjang selatan Pulau Jawa.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar sinergi UGM-Kagama bertajuk "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa" yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).

Dalam forum tersebut, keberhasilan Yogyakarta untuk bangkit dari keterpurukan pascagempa ditegaskan bukan semata-mata karena kontribusi eksternal seperti aliran bantuan finansial pemerintah atau lembaga kemanusiaan internasional.

Faktor determinan yang mempercepat proses penyelamatan, pemulihan, hingga rekonstruksi justru terletak pada kokohnya modal sosial yang dimiliki oleh komunitas lokal.

Dewan Pakar Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Rahmawati Husein, memaparkan bukti otentik bagaimana tingginya determinasi dan solidaritas organik masyarakat Yogyakarta bekerja seketika setelah guncangan hebat melanda wilayah tersebut dua puluh tahun lalu.

"Pada hari pertama setelah Gempa Yogyakarta 2006, di depan kantor sudah tersedia delapan mobil lengkap dengan sopir yang siap digunakan untuk respons bencana. Banyak relawan yang langsung bergerak tanpa menanyakan biaya operasional atau bensin. Hal seperti ini jarang terjadi di daerah lain," papar Rahmawati Husein.

Sebelum mendedikasikan keahliannya di Yogyakarta, Rahmawati memiliki rekam jejak sebagai koordinator program Muhammadiyah di Aceh pascatsunami.

Refleksi komparatif tersebut membuatnya melihat secara jelas perbedaan karakter serta pola adaptasi kultural masyarakat dalam merespons situasi krisis. Berdasarkan pengamatannya, aspek yang paling impresif dari ekosistem sosial Yogyakarta adalah akselerasi gotong royong yang muncul secara spontan.

"Solidaritas sosial yang terbangun membuat proses tanggap darurat berlangsung lebih cepat dan efektif," tandasnya.

Pengalaman berharga dari eskalasi gempa 2006 kemudian memicu rekonstruksi struktural internal di tubuh organisasi kemanusiaan dan keagamaan besar seperti Muhammadiyah. Sebelum Muktamar Muhammadiyah tahun 2010, belum ada lembaga khusus yang didesain secara terstruktur untuk menangani mitigasi dan respons kebencanaan secara komprehensif.

Padahal, urgensi penguatan kelembagaan ini sangat mendesak. Berdasarkan data internal, Muhammadiyah terlibat aktif dalam merespons lebih dari 100 kejadian bencana setiap tahunnya. Bahkan, penetrasi penanganan krisis ini melonjak signifikan pada tahun 2022, di mana jumlah respons yang dilakukan mencapai lebih dari 200 kejadian di berbagai wilayah Indonesia.

"Kami menyadari bahwa bencana tidak akan berkurang, bahkan cenderung bertambah. Karena itu yang harus ditingkatkan adalah kapasitas masyarakat. Semakin tinggi kapasitas masyarakat, maka risiko yang dihadapi akan semakin rendah," kata Rahmawati.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved