Respon Sri Sultan HB X soal Insiden Penolakan Ibadah Jemaat Gereja di Bantul

Menurut Sri Sultan HB X, pemahaman akan perbedaan ras, agama, dan asal-usul yang diciptakan oleh Tuhan harus terus diajarkan kepada masyarakat

Tayang:
Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, ditemui di Kompleks Kepatihan, Senin (25/5/2026). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, angkat bicara merespons dinamika sosial terkait insiden penolakan dan penghentian kegiatan ibadah jemaat Gereja Kristen Misi Sejahtera (GMS) di Kabupaten Bantul.

Sri Sultan menegaskan bahwa keberagaman di tengah masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang harus disadari dan dipahami oleh semua pihak, alih-alih merasa menjadi kelompok yang paling benar.

Pernyataan tersebut disampaikan Sri Sultan HB X menanggapi peristiwa yang terjadi di Padukuhan Glugo, Kalurahan Panggungharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul pada Sabtu (23/5/2026) lalu.

Menurut Sri Sultan HB X, pemahaman akan perbedaan ras, agama, dan asal-usul yang diciptakan oleh Tuhan harus terus diajarkan kepada masyarakat agar tidak memicu gesekan sosial.

Terkait dengan langkah penegakan hukum atau penindakan atas insiden tersebut, Sultan menyebutkan bahwa hal itu merupakan ranah kewenangan aparat penegak hukum.

"Ya, yang namanya manusia itu perbedaan itu ada. Tapi kadang tidak memahami bahwa Allah itu memang menciptakan rasnya ya berbeda, agama ya berbeda, asal-usulnya juga dari yang berbeda. Jadi, sebetulnya perbedaan itu keniscayaan. Memang ciptaan-Nya begitu. Bukan dia yang paling benar sendiri. Enggak. Kira-kira itu saja. Ya masalah kesadaran saja, pemahaman saja. Ya bukan wewenang saya kalau itu. Itu aspek yang lain, gitu. Wewenang di tempat lain. Tapi perlu itu, pemahaman begini ini diajarkan," papar Sri Sultan HB X, Senin (25/5/2026).

Viral di Media Sosial

Sebelumnya, peristiwa di Bantul ini mencuat dan ramai diperbincangkan publik usai sebuah unggahan video dari akun Instagram @david*** pada Minggu (25/5/2026) viral di media sosial. 

Akun tersebut menarasikan adanya pembubaran paksa yang dialami oleh Jemaat GMS Bantul oleh sebuah ormas.

Guna mencegah disinformasi di tengah masyarakat, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto, meluruskan narasi tersebut.

Pemerintah memastikan ketegangan di lokasi berhasil diredam oleh aparat keamanan tanpa adanya benturan fisik sedikit pun.

Baca juga: Viral Ormas di Bantul Bubarkan Kegiatan Ibadah Jemaah GMS, Tanggapan Kesbangpol dan Pendeta

Kronologi

Lilik menjelaskan, penolakan bermula pada Sabtu (23/5/2026) sore, sekitar pukul 16.00 WIB, ketika pihak GMS berencana melangsungkan peresmian bangunan sekaligus ibadah misa perdana di Jalan Ringroad, Bantul.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 25 orang jemaat yang dipimpin oleh Pendeta Yosef Moro Wijaya.

"Kemudian saat itu juga hadir rombongan dari salah satu ormas yang berjumlah sekitar 15 orang menggunakan kendaraan motor tiba di lokasi. Kemudian ormas tersebut melakukan protes di depan bangunan," ungkap Lilik.

Untuk mencegah eskalasi, jajaran Polres Bantul yang dipimpin langsung oleh Wakapolres dan Kasat Intelkam segera mengambil alih komando pengamanan.

Aparat mencegat massa dan langsung menggelar rapat koordinasi darurat di tempat yang mempertemukan kedua belah pihak.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved