Bertahan Selama 3 Generasi, Pengolah Lele Asap di Kulon Progo Kini Kesulitan Dapatkan Penerus
Lele Asap sudah menjadi makanan ikonik di Kapanewon Galur, Kulon Progo sejak era 1970-an hingga sekarang.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Lele Asap sudah menjadi makanan ikonik di Kapanewon Galur, Kulon Progo sejak era 1970-an hingga sekarang.
Produknya dibuat oleh warga di Kalurahan Banaran dan Kalurahan Kranggan, di mana kebanyakan produsen berada di Banaran.
Sedangkan di Kranggan, hanya ada 1 produsen Lele Asap bernama Lele Asap Sumarsih. Berada di Padukuhan Nepi, usaha ini dijalankan oleh Sumarsih dan suaminya, Mujazin.
Mujazin menuturkan bahwa usaha Lele Asap tersebut sudah dirintis sejak dari Kakek Sumarsih, istrinya. Lalu berlanjut ke ibu dari Sumarsih, hingga ke istri dan dirinya saat ini.
"Usaha Lele Asap ini sudah bertahan selama 3 generasi," ungkapnya ditemui beberapa waktu lalu.
Adapun Mujazin dan Sumarsih mulai merintis usaha Lele Asap sendiri sejak 2011 silam.
Tidak banyak yang berubah dari teknik pembuatan Lele Asap yang mereka lakukan, kecuali prosesnya yang lebih modern.
Sebab usaha keduanya mendapat bantuan berupa fasilitas Unit Pengolahan Ikan (UPI) dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Pembangunannya mengandalkan Dana Keistimewaan.
Proses pengasapan sendiri tetap menggunakan teknik warisan dari Kakek Sumarsih. Pengasapan menggunakan pembakaran dari batok kelapa sehingga Lele Asap yang dibuat memiliki rasa khas.
"Sehari rata-rata bisa produksi 60 sampai 70 kilogram (kg), tiap kilo ada sebanyak 9 sampai 14 Lele Asap," jelas Mujazin.
Baca juga: Pemkab Kulon Progo Usulkan Indikasi Geografis untuk Kampung Lele Asap Jati demi Jaga Ikon Kuliner
Per kilo Lele Asap dijual seharga Rp 60 ribu, dengan pemasaran ke area Bantul, Kota Yogyakarta, dan Semarang. Bahkan mereka pernah melayani pesanan dari Palembang, Sumatra Selatan.
Sayangnya, usaha Lele Asap yang dijalankan oleh Mujazin dan Sumarsih kini berhadapan dengan ketidakpastian di masa depan.
Sebab ketiga anak mereka lebih memilih bekerja ketimbang melanjutkan usaha kedua orang tuanya.
"Anak-anak tidak ada yang mau meneruskan, jadi belum tahu ke depannya harus bagaimana," ujar Mujazin.
Meski begitu, ia tetap berharap usaha yang sudah bertahan selama 3 generasi itu tetap bertahan.
| Pemkab Kulon Progo Ingin Tiru Lembur Pakuan Jabar, Padukan Daya Tarik Wisata dan Pelestarian Budaya |
|
|---|
| BMN Kemenag RI Dorong Kankemenag Kulon Progo Amankan Aset Negara |
|
|---|
| Ada Geblek, Growol, Tempe Benguk, Besengek hingga Sego Tiplek di Pasar Jadul Kulon Progo |
|
|---|
| Ajang Lari SermoRun 2026 Akan Digelar Juli Mendatang di Waduk Sermo Kulon Progo |
|
|---|
| Ibu-ibu di Depok Kulon Progo Serbu Paket Sembako Murah, Inisiasi Pelajar SMP Al-Azhar Jakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Bertahan-Selama-3-Generasi-Pengolah-Lele-Asap-di-Kulon-Progo-Kini-Kesulitan-Dapatkan-Penerus.jpg)