Senin Siang, Gunung Merapi Teramati Muntahkan 13 Kali Guguran Lava

Gunung Merapi teramati mengalami 13 kali guguran lava ke arah Barat Daya dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter, Senin (18/5/2026) siang

Tayang:
Penulis: TON | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/magma.esdm.go.id
Aktivitas Gunung Merapi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi teramati mengalami 13 kali guguran lava ke arah Barat Daya ( Kali Sat/Putih Kali Krasak) dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.

Hal itu berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hingga siang hari ini, Senin (18/5/2026), pukul 06.00-12.00 WIB.

Sementara untuk pengamatan kegempaan, tercatat 45 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-20 mm dan lama gempa 49.31-151.18 detik.

Selain itu, tercatat pula 9 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 9-33 mm, S-P 0.2-0.9 detik dan lama gempa 9.93-20.77 detik.

Serta 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 3 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 72.16 detik.

Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.

Baca juga: Aktivitas Gunung Merapi Senin 18 Mei 2026 Pagi Ini: BPPTKG Catat Ada 20 Kali Guguran Lava

Untuk pengamatan visual, Gunung api tertutup Kabut 0-III. Asap kawah nihil.

Sementara cuaca teramati berawan hingga mendung, angin tenang ke arah utara.

Suhu udara sekitar 23.3-24°C. Kelembaban 77-83.9 persen. Tekanan udara 872.2-916 mmHg.

Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved