Ekonom UMBY Sebut Pelemahan Rupiah Berdampak bagi Masyarakat Desa Meski Tidak Secara Langsung

Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Widarta masyarakat di desa tetap terpengaruh gejolak dollar

Tayang:
dok.istimewa
Ilustrasi : nilai tukar Rupiah terhadap Dollar 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Prabowo menyebut masyarakat desa tidak terpengaruh pelemahan Rupiah karena tidak bertransaksi dengan dollar.
  • Ekonom UMBY menilai pelemahan Rupiah tetap berdampak, misalnya pada harga tempe yang bahan bakunya impor.
  • Pemerintah diminta menjaga daya beli masyarakat dengan langkah konkret, bukan hanya narasi positif.

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Presiden RI Prabowo Subianto memberikan tangapan soal pelemahan Rupiah. Dalam pidato peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Jawa Timur, Presiden Prabowo menyebut masyarakat di desa tidak terpengaruh gejolak dollar.

Ia menyebut masyarkat tidak terpengaruh karena rakyat di desa tidak bertransaksi menggunakan dollar. 

Masyarakat desa tetap terpengaruh gejolak dollar

Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Widarta masyarakat di desa tetap terpengaruh gejolak dollar meski tidak secara langsung. Ia mencontohkan soal tempe yang bahannya diperoleh secara impor. Sementara impor kedelai terpengaruh dolar.

Di sisi lain, tempe dan turunannya merupakan makanan tradisional masyarakat desa.

"Tempe kan bahan bakunya dari impor, dan membelinya pakai dollar. Efeknya harga tempe akan naik. Kalau harganya nggak naik, pasti produsen akan memperkecil barangnya atau kuantitasnya," katanya, Minggu (17/5/2026).

"Tempe, tahu hanya salah satu contoh, lainya ada obat-obatan dan sebagainya yang dibeli dari dollar. Jadi secara umum akan berpengaruh, meskipun tidak secara langsung," sambungnya.

Dollar pengaruhi pasokan pangan

Ia menilai pelemahan Rupiah juga sangat berpengaruh pada pasokan pangan di Indonesia. Optimisme pemerintah yang mengklaim ekonomi nasional baik-baik saja harus dibarengi dengan bantalan APBN yang tinggi.

Widarta menyebut dalam APBN, Rupiah terhadap Dollar AS sekitar Rp 15.000 - Rp 16.000, Sementara saat ini tembus di atas Rp 17.500. Belum lagi harga minyak dunia yang akhir-akhir ini  di atas 100 dolar AS per barrel. 

"Ya tidak apa-apa pemerintah menyampaikan Indonesia aman, Indonesia baik-baik saja, tetapi bantalan APBN harus kuat untuk menopang itu," terangnya.

Perhatikan daya beli

Langkah pemerintah yang memastikan kenaikan BBM subsidi hingga akhir tahun 2026 dipandang positif. Kendati demikian, keberlanjutan subsidi bukan satu-satunya yang terpenting, tetapi menjaga kestabilan harga dan ketersediaan barang, khususnya bahan pokok agar tidak timbul panic buying.

Upaya pemerintah yang memberikan narasi positif memang penting untuk menjaga iklim kondusif di dalam negeri. Hanya saja perlu ada langkah konkret yang lebih tegas.

"Pemerintah harus memperhatikan daya beli masyarakat, karena dollar tinggi juga menekan daya beli masyarakat. Perhatikan juga pendapat masyarakat soal MBG, MBG harus ditunda atau diseleksi lagi. Kemudian Koperasi Desa Merah Putih, kalau memang belum siap, sebaiknya jangan dipaksakan," pungkasnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved