Hadapi Ancaman El Nino Godzilla, DPKP DIY Dorong Petani Tanam Varietas Genjah

DPKP DIY bergerak cepat menyiapkan strategi mitigasi guna menghadapi potensi fenomena kekeringan ekstrem El Nino "Godzilla" pada tahun 2026.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
Dok Humas Pemda DIY
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho 

Ringkasan Berita:
  • DPKP DIY memitigasi kemarau ekstrem "Godzilla" 2026 yang datang lebih cepat dan diprediksi berlangsung sangat panjang hingga 190–210 hari guna mencegah gagal panen.
  • Petani didorong menanam padi varietas genjah. Stok pangan DIY dijamin aman dengan memanfaatkan karbohidrat lokal non-beras seperti talas dan ubi.
  • Warga diajak memakai teknologi hemat air seperti irigasi tetes wadah bekas. Di sisi lain, laju alih fungsi lahan di DIY dikritisi karena mencapai 1.800 hektare per tahun.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bergerak cepat menyiapkan strategi mitigasi guna menghadapi potensi fenomena kekeringan ekstrem El Nino "Godzilla" pada tahun 2026.

Pemerintah daerah berfokus pada pengamanan stok pangan melalui pemilihan varietas padi berumur pendek (genjah), pemanfaatan sumber pangan lokal non-beras, serta penerapan teknologi hemat air.

Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, SP., M.Si., mengungkapkan bahwa berdasarkan peringatan dari pemerintah pusat, kemarau tahun ini datang lebih cepat dan diprediksi berlangsung dalam durasi yang sangat panjang, berkisar antara 190 hingga 210 hari.

Aris memaparkan secara rinci mengenai kondisi anomali iklim terkini dan langkah taktis yang harus diambil oleh para petani di lapangan agar terhindar dari risiko puso atau gagal panen.

"Jadi saat ini memang pemerintah pusat selalu mengingatkan pada kita bahwa ada potensi El Nino yang luar biasa. Sebenarnya El Nino ini pernah terjadi di tahun 2023, sehingga pada waktu itu musim tanam yang di dalam satu tahun itu harusnya polanya bagus, ternyata kita terpaksa menanam mundur. Dan pada saat ini, kemarau sudah mulai terasa di bulan April. Ini satu dasarian lebih maju. Diperkirakan nanti 19 sampai 21 dasarian yang akan terjadi, artinya hampir 190 sampai 210 hari. Kalau itu terjadi, maka memang akan terjadi kekurangan air. Makanya kemudian dikatakan 'Godzilla' karena dampaknya besar," ujar Aris memaparkan ancaman kekeringan tersebut.

Menurut Aris, kunci utama dalam mempertahankan produksi pertanian di tengah cekaman iklim ekstrem ini bertumpu pada ketepatan manajemen tanam dan pemilihan benih yang adaptif terhadap kelangkaan air.

"Kata kunci pertama untuk tanaman, selain benih atau bibit, adalah air dan iklim. Tanaman itu macam-macam; ada yang tahan terhadap air yang kurang, ada yang tahan iklim ekstrem, tapi ada yang tidak. Belum tentu setiap varietas padi punya sifat yang sama. Makanya harus disiapkan betul.

Baca juga: Ancaman El Nino di DIY: Dinkes Waspadai ISPA, Penurunan Gizi, hingga Stunting

Paling tidak kita lihat evaluasi tahun 2023, ada titik-titik tertentu yang potensinya kekeringan luar biasa. Ini harus kita atasi. Selain itu, kita harus menanam padi yang genjah.

Genjah itu umurnya pendek, tetapi tahan terhadap kekurangan air dan iklim. Kalau kita salah memilih bibit, kita khawatirkan nanti tanamannya tidak tahan kekeringan dan umurnya panjang. Kalau lama mau panen ternyata airnya tidak terjaga, prediksinya bisa puso atau gagal panen," tegasnya.

Kendati dibayangi ancaman kekeringan pada komoditas padi, DPKP DIY menjamin bahwa secara umum kondisi ketahanan pangan di wilayah DIY masih berada dalam kategori aman.

Aris mengingatkan kembali pentingnya menengok kearifan lokal serta potensi pangan alternatif non-beras yang melimpah di Yogyakarta sebagai subsitusi karbohidrat yang tangguh menghadapi kemarau.

"Kalau mengenai ketahanan pangan, insyaallah aman. Selama ini untuk DIY, kaitan ketahanan kita justru banyak surplus yang keluar dari Yogyakarta. Yang menjadi kata kunci adalah pemilihan varietas yang genjah dan tahan kering. Perlu kami sampaikan juga, swasembada nasional memang andalannya padi/beras.

Tetapi nenek moyang kita sebenarnya punya tanaman lokal yang luar biasa. Ada gembili, kimpul, ubi, dan talas. Di Yogyakarta ada varietas talas unggul. Itu merupakan sumber karbohidrat alternatif yang sebenarnya bisa menggantikan beras. Kalau kita bisa mensiasati jenis tanaman dan penghematan air, insyaallah tidak masalah. Dulu leluhur kita punya konsep Lumbung Mataraman—nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur," kata Aris.

Teknologi Hemat Air dan Alih Fungsi Lahan

Guna menyiasati keterbatasan air untuk komoditas hortikultura seperti sayuran, DPKP DIY mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah dengan teknologi pertanian mikro yang murah dan aplikatif, salah satunya menggunakan sistem sumbu dari barang bekas.

"Menyambung soal kebutuhan sayuran di masa krisis air, makanya ada istilah irigasi tetes. Ada juga teknologi hidroponik yang menggabungkan air dengan budidaya ikan (aquaponik). Menanam kangkung, selada, atau bayam bisa dilakukan di lahan sempit dengan air terbatas. Ini tidak semuanya butuh anggaran besar. Dengan galon bekas dan sistem sumbu kapiler (mirip sumbu kompor), tanaman bisa menyedot air sesuai kebutuhan. Jadi masyarakat harus proaktif mencari informasi cara bercocok tanam yang adaptif," jelasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved