Nilai Tukar Petani DIY Merosot, Terhimpit Kenaikan Harga BBM dan Plastik

Stabilitas produksi pertanian di DIY rupanya belum mampu menjadi jaminan bagi kesejahteraan para petaninya

Tayang:
Dok. Humas Pemda DIY
NASIB PETANI - Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, Selasa (5/5/2026), membenarkan bahwa kenaikan bahan baku plastik yang didorong oleh biaya energi dan transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar meningkatnya beban hilir petani. 

Tekanan tak berhenti di ongkos angkut. Petani juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan karung plastik dalam distribusi hasil panen, yang harganya melonjak sekitar 8,7 persen.

"Kalau pada 2025 biaya karung plastik berada di angka Rp4.380 per kuintal, pada 2026 naik menjadi Rp4.764 per kuintal," jelasnya.

Meski demikian, Aris menilai bahwa kenaikan biaya secara makro belum berdampak signifikan terhadap seluruh komoditas pertanian secara merata di DIY.

"Mungkin juga disebabkan faktor pengeluaran petani pada momen hari raya yang turut mempengaruhi biaya distribusi," ungkapnya.

Untuk menjaga stabilitas sektor pertanian, pemerintah terus berupaya memberikan bantalan (shock absorber ) agar lonjakan harga tak langsung meruntuhkan pilar produksi. Saat ini, subsidi pupuk dari pemerintah pusat—meski harganya secara umum ikut naik—masih disalurkan berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 1360/Kpts/HK.150/M/12/2025.

"Untuk DIY, alokasi pupuk bersubsidi pada 2026 meliputi urea sebanyak 45.524 ton, NPK 42.777 ton, NPK kakao 9 ton, pupuk organik 648 ton, serta ZA sebanyak 10 ton," paparnya.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY kini memfokuskan intervensi pada dua aspek krusial yakni produksi dan stabilitas harga. Di ranah produksi, dukungan sarana terus digulirkan untuk mengerek produktivitas lahan.

"Beberapa program yang dilakukan antara lain pemberian benih unggul, pupuk dan pestisida, bantuan alat dan mesin pertanian hingga penyediaan pompa air," ungkapnya.

Sementara untuk mengamankan tata niaga, pemerintah daerah melaksanakan operasi pasar dan program penyerapan gabah petani guna menjaga keekonomian harga jual di tingkat bawah. Aris juga menekankan bahwa kunci pertahanan jangka panjang petani terletak pada solidaritas kelompok.

"Penguatan kelembagaan petani penting agar mereka memiliki posisi tawar dalam pemasaran dan penentuan harga," ungkapnya.

 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved