Ekonomi DIY Triwulan I 2026 Tumbuh 5,84 Persen

Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,84 persen (yoy) pada triwulan I 2026. 

Tayang:
Tribun Jogja/HANIF SURYO
EKONOMI DIY - (Dokumentasi) Pelaksana Tugas Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih ditemui seusai audiensi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis Kompleks Kepatihan, Selasa (7/4/2026). Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,84 persen (yoy) pada triwulan I 2026.  
Ringkasan Berita:
  • Pada triwulan I 2026, ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,84 persen (yoy). 
  • Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan I 2026 menjadi yang paling tinggi dibandingkan triwulan I sejak 2023.
  • Di triwulan I 2023, ekonomi DIY tumbuh 5,31 persen, triwulan I 2024 tumbuh 5,04 persen, dan triwulan I 2025 tumbuh 5,11 persen.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tumbuh 5,84 persen (yoy) pada triwulan I 2026. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan I 2026 menjadi yang paling tinggi dibandingkan triwulan I sejak 2023.

Pada triwulan I 2023, ekonomi DIY tumbuh 5,31 persen, triwulan I 2024 tumbuh 5,04 persen, dan triwulan I 2025 tumbuh 5,11 persen.

Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih mengatakan sebesar 53,60 persen ekonomi DIY diperoleh dari lapangan usaha utama yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan,  industri pengolahan, penyediaan akomodasi dan makan minum, informasi dan komunikasi, serta konstruksi.

"Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum (11,59 persen), diikuti jasa lainnya (10,34 persen), dan konstruksi (7,60 persen). Sedangkan kontraksi dialami oleh jasa keuangan sebesar 0,79 persen," katanya, Selasa (5/5/2026).

Ia menerangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh melambat pada triwulan I 2026 sebesar 2,25 persen. Produksi padi tumbuh 3,58 persen, didorong oleh dimulainya puncak panen raya di beberapa wilayah lumbung pangan DIY

Perlambatan pada sektor ini terjadi karena adanya pergeseran waktu tanam dibandingkan triwulan I 2025 lalu. Selain itu, curah hujan yang relatif lebih tinggi pada awal tahun turut memengaruhi produktivitas dan aktivitas pertanian.

Sementara itu, produksi peternakan meningkat sejalan dengan peningkata permintaan domestik daging dan telur pada saat Ramadan dan Idulfitri, termasuk untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pada sektor industri pengolahan tercatat tumbuh membaik sebesar 5,94 persen. Industri makanan dan minuman tumbuh ditopang oleh permintaan domestik dan aktivitas produksi seiring meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.

Industri tekstil dan pakaian jadi, industri kertas dan barang dari kertas, serta industri furniture juga tercatat mengalami peningkatan yang didorong oleh naiknya permintaan. Di samping itu, nilai ekspor luar negeri untuk pakaian dan aksesorisnya rajutan meningkat sebesar 15,52 persen, sedangkan produksi barang anyaman meningkat sebesar 38,45 persen.

Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tercatat tumbuh signifikan yaitu 11,59 pada triwulan I 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan konsumsi masyrakat selama Ramadan dan Idulfitri. Hal ini pun berdampak pada penerimaan pajak restoran yang tumbuh 19,60 persen.

Kinerja jasa boga pun ikut terkerek karena adanya peningkatan jumlah penerima manfaat program MBG.

"Sumber pertumbuhan ekonomi DIY triwulan I 2026 adalah penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu 1,13 persen," terangnya.

Pengeluaran juga tumbuh positif

Pihaknya mencatat seluruh komponen pengeluaran juga tumbuh positif. Penyumbang utama pertumbuhan ekonomi DIY menurut pengeluaran pada triwulan I 2026 adalah konsumsi rumah tangga dengan distribusi 60,91 persen  dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan distribusi 33,12 persen. 

"Pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen konsumsi pemerintah (20,08 persen), diikuti LNPRT (Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga) (9,11 persen) namun distribusinya masih 14,36 persen, dan PMTB (7,35 persen)," paparnya.

Endang menyebut konsumsi rumah tangga tumbuh membaik menjadi 5,02 persen. Pertumbuhan ini didorong faktor musiman Ramadan dan Idulfitri serta didukung pencairan THR dan bantuan sosial. Selain itu, jumlah perjalanan wisatawan nusantara asal DIY juga tumbuh tinggi.

Pembentukan Modal Tetap Bruto juga tumbuh positif yang didorong oleh pelaksanaan proyek infrastruktur pembangunan, seperti pembangunan jalan tol dan proyek pemerintah lainnya. Pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih juga berkontribusi meningkatkan PMTB lantaran nilai konstruksi fisik rata-rata Rp 1,8 miliar per unit.

Selain itu juga didorong oleh realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tumbuh 10,68 persen, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) terkontraksi 19,88 persen.

Sedangkan konsumsi pemerintah tumbuh signifikan karena percepatan penyerapan APBN, baik untuk pembangunan infrastruktur, penyaluran bantuan sosial, maupun pelaksanaan program strategis pemerintah, termasuk program MBG.

Di samping itu juga ada kenaikan balanja pegawai seiring dengan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), yang juga berimbas terhadap kenaikan pemberian THR untuk ASN.

"Pada triwulan I 2026, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu 2,66 persen," imbuhnya.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved