Puluhan Warga Sleman Diduga Keracunan Setelah Makan di Acara Pamitan Calon Haji

Puluhan warga di Kepanewon Mlati, Sleman diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan syukuran pamitan calon haji

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
DUGAAN KERACUNAN - Sejumlah warga datang untuk memeriksakan kesehatan di posko darurat penanganan dugaan keracunan pangan di Toragan, Tlogoadi, Mlati, Kabupaten Sleman, Senin (4/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Puluhan warga Kecamatan Mlati, Sleman diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan di acara syukuran pamitan calon haji (Calhaj). 
  • Menurut laporan, warga rata-rata mengalami keluhan diare, pusing hingga mual setelah makan makanan yang menggunakan jasa katering tersebut. 
  • Menurut tuan rumah penyelenggara, Nayuku Bramantyo atau disapa Yoko, warga Getas Toragan, Tlogoadi, kegiatan syukuran calon haji diselenggarakan di sebuah Gedung Dakwah di Mlati, pada Minggu (3/5/2026) pagi. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Puluhan warga di Kepanewon (Kecamatan) Mlati, Kabupaten Sleman diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap hidangan di acara syukuran pamitan calon haji (Calhaj). Warga rata-rata mengalami keluhan diare, pusing hingga mual. 

Tuan rumah penyelenggara, Nayuku Bramantyo atau disapa Yoko, warga Getas Toragan, Tlogoadi, mengungkapkan, kegiatan syukuran calon haji diselenggarakan di sebuah Gedung Dakwah di Mlati, pada Minggu (3/5/2026) pagi. 

Suguhan makanan di acara tersebut menggunakan jasa katering. Keluarga maupun para tamu undangan, mulai merasakan gejala dugaan keracunan pada Minggu malam sekitar pukul 22.30 WIB. 

"Kami korban juga. Yang korban di rumah ada tiga orang. Bapak saya, saya, sama adik saya. Gejalanya ya mencret (diare) langsung. Terus ini sekarang panas juga," kata Yoko, ditemui di Posko darurat penanganan kerpang yang dibuka di Rumah Dukuh Toragan, Senin (4/5/2026). 

Peristiwa ini bermula saat keluarga yang memiliki hajat syukuran pamitan calon haji memesan camilan dan 250 kotak nasi dari layanan katering asal Klaten untuk acara yang dimulai pukul 08.00 WIB.

Katering tidak profesional

Yoko menyebut pihak katering sudah menunjukkan ketidakprofesionalan sejak awal, mulai dari keterlambatan dalam proses pengiriman hingga kondisi kemasan yang penyok.

Saat memesan nasi kotak, kata dia, dalam kesepakatannya, dikirim pukul 05.30 pagi namun baru sampai dilokasi sekira pukul 06.30 WIB. 

Menunya ada nasi, ayam panggang kecap, telur rebus, dan sambal goreng krecek jeroan rempela ati. Dilengkapi timun dan pisang. 

Ia belum bisa memastikan menu apa yang menimbulkan gejala dugaan keracunan pangan. Tetapi ia menaruh curiga pada sambal goreng krecek, karena saat hidangan itu disantap rasanya dinilai sudah berbeda. 

"Ada (yang aneh) dari krecek. (Rasanya) itu agak kecut. Bau nggak kelihatan. Tapi rasanya sudah beda," ujarnya. 

Kecurigaan tersebut makin menguat setelah sisa makanan yang ada pada Senin (4/5) pagi, kondisinya sudah berlendir dan mengeluarkan bau tidak sedap. 

Yoko menjelaskan, dari 250 porsi yang dipesan, dirinya mendapat bonus 6 porsi. Hidangan tersebut dibagikan kepada sekitar 130 tamu undangan yang hadir di lokasi, sementara sisanya dibagikan kepada tetangga dan keluarga besar.

Atas kejadian ini, keluarga merasa sangat dirugikan, terlebih di tengah kesibukan mempersiapkan keberangkatan haji tanggal 21 Mei mendatang. 

Katering diminta tanggung jawab

Yoko berharap pihak katering bertanggung jawab atas terjadinya musibah Kerpang ini. Apalagi hingga Senin siang, pihak katering diakui belum ada iktikad baik menghubungi dirinya. Ia meminta ada proses hukum. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved