Indonesia dan Tiongkok Perkuat Ekosistem Pendidikan Vokasi Melalui CITIEA 2026
Melalui kerja sama Indonesia dan Cina, diharapkan tenaga kerja Indonesia relevan dengan kebutuhan industri, masyarakat, dan menciptakan lapangan kerja
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA) 2026.
- Forum internasional ini menjadi ruang pertemuan strategis antara pemerintah, perguruan tinggi vokasi, dan mitra industri dari Indonesia dan Tiongkok.
- Rektor UGM, Ova Emilia menilai kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjawab perubahan industri yang berlangsung cepat
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah Annual Conference of China–Indonesia TVET Industry–Education Alliance (CITIEA) 2026.
Forum internasional ini menjadi ruang pertemuan strategis antara pemerintah, perguruan tinggi vokasi, dan mitra industri dari Indonesia dan Tiongkok.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangungan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, mengatakan kerja sama strategis ini harus meningkatkan pendidikan dan pelatihan yang berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan peluang kerja.
Menurut dia, disrupsi teknologi, perubahan iklim, hingga kondisi geopolitik saat ini harus diubah menjadi peluang.
"Ada disrupsi teknologi, apakah artificial intelligence, kemudian perubahan iklim yang mengakibatkan krisis pangan, krisis kesehatan, bahkan bencana. Dan juga disrupsi geopolitik, misalnya perang. Semua itu harus kita lihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi sebagai peluang bagiaman pendidikan tinggi kerja sama dengan industri untuk menemukan solusi," katanya dalam pembukaan CITIEA 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, Senin (27/4/2026).
Melalui kerja sama Indonesia dan China ini, ia berharap tenaga kerja Indonesia relevan dengan kebutuhan industri, masyarakat, hingga menciptakan lapangan kerja baru.
"Karena sekarang ini kan kita bonus demografi, kita harus benar-benar menyiapkan SDM unggul. Bukan hanya siap kerja, tetapi juga mampu untuk menciptakan lapangan kerja baru, bermanfaat bagi masyarakat. Jadi link and match," ujarnya.
Kolaborasi
Staf Khusus Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Oki Earlivan Sampurno, menerangkan kolaborasi dengan perusahaan maupun institusi internasional merupakan kunci agar pendidikan Indonesia berdaya saing global.
"Saat ini yang dilakukan oleh Kemendikti bagaimana membuka akses dan peluang antara perguruan tinggi dan juga industri internasional," terangnya.
Sementara itu, Rektor UGM, Prof Ova Emilia, menilai kolaborasi internasional menjadi kunci dalam menjawab perubahan industri yang berlangsung cepat.
Ova menyoroti pentingnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri serta penguatan riset terapan.
Transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan disebut sebagai faktor yang mendorong perubahan tersebut.
Karena itu, perguruan tinggi perlu beradaptasi melalui kemitraan lintas negara yang konkret.
| Waspada Strain Andes, Dosen FKKMK UGM Sebut Hantavirus Bisa Menular Antarmanusia lewat Kontak Erat |
|
|---|
| UAJY dan IAI DIY Gelar Seminar Nasional Bahas Kepatuhan Pajak dan Organisasi Publik |
|
|---|
| Ada Bayang-bayang Fenomena Politisasi Koperasi di Kopdes Merah Putih, Ini Penjelasan Pakar UGM |
|
|---|
| Nonton Bareng Film 'Pesta Babi' di Fisipol UGM, Diskusi Ruang Solidaritas dan Luka di Tanah Papua |
|
|---|
| Pemotongan Sapi Lokal Diperkirakan Meningkat, Guru Besar UGM Dorong Penguatan Populasi Sapi Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262704-Pratikno-di-GIK-UGM.jpg)