JOGJA HARI INI : Menyingkap Kelam Ruang Penitipan
Di balik pagar yang selalu terkunci itu, tersimpan kisah pilu tentang balita yang dibekap, diikat, hingga mengalami trauma psikis mendalam.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Bahkan, ia membandingkan situasi di dalam tempat penitipan anak di kawasan Sorosutan tersebut dengan penjara militer paling tersohor di dunia.
"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih, ya, anak yang usia bayi sampai balita itu, wah luar biasa, ternyata enggak manusiawi. Kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," katanya, seusai menemui Hasto Wardoyo.
Noorman mengaku, dirinya dan sang istri semula sangat terkesan dengan profil Little Aresha Daycare, karena di depan pintu masuk terpampang deretan pengelola dengan gelar pendidikan S2, dilengkapi klaim fasilitas serta tenaga medis mulai dari perawat hingga bidan.
Namun, sosok pemilik yayasan yang terlihat sangat komunikatif serta lihai dalam menenangkan orang tua, ternyata hanyalah kamuflase.
"Body language ibunya itu bagus, komunikatif sekali. Kita dibikin tenang terus. Ternyata fasilitas kesehatan yang dijanjikan itu tidak ada. Konyolnya, kami tidak pernah menanyakan berapa jumlah anak di dalam karena akses kami dibatasi hanya sampai depan," jelasnya.
Kenyataan pahit mulai terkuak saat Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan pada 24 April lalu.
Noorman yang semula menganggap hanya ada masalah kecil, langsung lemas saat melihat rekaman video dari pihak kepolisian.
Di dalam bangunan dua lantai yang cenderung pengap tanpa dilengkapi Air Conditioner (AC) itu, ia melihat anak-anak diperlakukan layaknya benda mati.
"Anak ditelanjangin, hanya pakai popok, kemudian diikat pakai kain (dibedong secara paksa). Tidurnya pun hanya di atas playmat, bukan kasur seperti yang dijanjikan. Ada yang masih berdiri diikat di cagak pintu," ucapnya.
Bahkan, dampak dari buruknya sanitasi dan sirkulasi udara di daycare tersebut diduga telah merusak kesehatan anak keduanya yang dititipkan sejak usia 3 bulan.
Sebagai informasi, saking percayanya pada pelayanan Little Aresha Daycare, Norman sampai menitipkan kedua anaknya sekaligus, dalam kurun waktu yang relatif panjang.
"Anak saya yang nomor dua itu setiap bulan masuk rumah sakit, divonis pneumonia sejak bayi. Kami tidak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," tambahnya.
"Kalau untuk yang cewek ini saya lebih masih ke ngompol. Nah, ternyata seiring berjalannya waktu, saya mencoba cari referensi, salah satunya adalah dampak psikologis, karena pernah ketakutan atau melihat sesuatu," lanjut Noorman.
Hingga kini, luka fisik masih membekas di tubuh anak-anaknya, mulai dari lebam di punggung hingga luka di bibir.
Setiap kali ditanya, pihak daycare selalu berkilah dengan jawaban diplomatis bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.
Secara psikologis, trauma itu nyata. Noorman bercerita, bahwa anaknya selalu menangis histeris setiap kali hendak dimandikan pada hari kerja, seolah teringat akan perlakuan kasar di daycare.
"Saya trauma kalau melihat video itu lagi, pasti menangis. Saya merasa salah, di depan Allah saya merasa tidak amanah menitipkan anak di tempat seperti itu," ucapnya.
Kini, Noorman dan para orang tua korban lainnya hanya bisa menaruh harapan pada proses hukum. Ia mengapresiasi gerak cepat Pemkot Yogyakarta dan kepolisian, serta meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya, melebihi ancaman minimal 5 tahun penjara.
Little Aresha Daycare pun telah ditutup dan dipasangi garis polisi.
Sementara itu, Pemkot Yogyakarta melalui UPT PPA telah menerjunkan tim pendampingan psikologis untuk membantu memulihkan trauma yang dialami oleh para korban kecil tersebut.
"Kita menunggu jadwal untuk pendampingan. Alhamdulillah ini Pemerintah Kota Yogyakarta sangat cepat. Kami selaku orang tua butuh pendampingan, apalagi anak. Jadi, dua-duanya kita dapat fasilitas dari Pemerintah Kota Yogyakarta," pungkas Noorman. (han/aka)
| Pengakuan Orangtua Korban Little Aresha Daycare Yogyakarta: Dari Luka Fisik hingga Khawatir Stunting |
|
|---|
| Temui Orangtua Korban Little Aresha Daycare, Hasto Sebut Ada Gejala Gangguan Psikologis pada Anak |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Bakal Usut Tuntas Kasus Little Aresha Daycare, Wali Kota Bentuk Tim Khusus |
|
|---|
| Pemkot Yogyakarta Carikan Daycare Pengganti untuk Korban Little Aresha |
|
|---|
| Penuturan Orangtua Korban Little Aresha Daycare Jogja: Tak Manusiawi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Nestapa-Luka-Trauma-Puluhan-Anak-di-Jogja-Diduga-Alami-Kekerasan-di-Daycare-Little-Aresha.jpg)