JOGJA HARI INI : Menyingkap Kelam Ruang Penitipan

Di balik pagar yang selalu terkunci itu, tersimpan kisah pilu tentang balita yang dibekap, diikat, hingga mengalami trauma psikis mendalam.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
DUGAAN KEKERASAN: Tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, digerebek aparat kepolisian. Penggerebekan tersebut terjadi lantaran adanya dugaan penganiayaan kepada balita yang dititipkan di daycare tersebut. 
Ringkasan Berita:
  • Polresta Yogyakarta menetapkan 13 tersangka dalam kasus kekerasan anak di daycare Little Aresha, di mana korban bayi hingga balita diikat, hingga mengalami luka.
  • Meski tampak profesional, pengelola menerapkan sistem tertutup guna menutupi kondisi fasilitas yang pengap, tidak manusiawi, dan membatasi akses orang tua untuk memantau anak.
  • Para korban mengalami trauma psikis berat, gangguan tumbuh kembang, hingga sakit kronis. Pemkot Yogyakarta kini memberikan pendampingan psikologis.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinding-dinding fasilitas penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, yang selama ini tertutup rapat bagi orang tua, akhirnya disingkap oleh kepolisian.

Di balik pagar yang selalu terkunci itu, tersimpan kisah pilu tentang balita yang dibekap, diikat, hingga mengalami trauma psikis mendalam.

Polresta Yogyakarta kini telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak ini.

Erika, salah satu orang tua, masih mengingat jelas bagaimana perubahan perilaku putrinya, A (3,5), selama satu tahun dititipkan di Little Aresha.

 A masuk sejak usia 2 tahun dan baru keluar pada Oktober lalu karena berpindah ke jenjang Taman Kanak-Kanak (TK).

Meski sudah berbulan-bulan meninggalkan tempat itu, jejak trauma masih membekas.

Kejanggalan utama yang dirasakan para orang tua adalah sistem operasional yang sangat tertutup.

Tidak ada grup komunikasi antar-wali murid/orang tua, sehingga setiap wali/orang tua merasa terisolasi satu sama lain.

Komunikasi hanya dilakukan secara satu arah melalui pesan pribadi (japri) menggunakan satu nomor admin.

Erika menceritakan betapa sulitnya orang tua untuk memantau kondisi nyata di dalam daycare tersebut.

"Di sana itu pintu depan selalu tertutup dan dipagar. Kalau kita jemput aja, kita hanya panggil nama terus anak itu keluar. Setelah keluar, pintunya ditutup lagi. Jadi kita nengok sedikit aja ke dalam enggak boleh. Bahkan waktu survei, saya mau lihat-lihat bagian dalam pas ada anak-anak itu enggak boleh. Bisanya pas libur, dan itu pun hanya lihat bagian luar aja, bagian dalam kita enggak boleh lihat. Bahkan ketika anak di sana pun kita tidak boleh video call. Foto-foto yang dikirimkan itu pokoknya foto pas pembelajaran aja. Kita enggak bisa sewaktu-waktu minta foto atau minta video call sama anak. Alasannya 'Nanti kalau misalkan di-video call terus, anaknya jadi ingat orang tuanya dan minta pulang.' Katanya gitu, nanti anaknya terganggu enggak bisa berbaur sama teman-temannya karena ingat orang tuanya terus," ungkap Erika, kemarin.

Trauma psikis

Harga yang relatif murah, yakni Rp500.000 per bulan kala itu untuk layanan setengah hari, jauh di bawah rata-rata daycare lain di Yogyakarta yang mencapai Rp700.000 hingga Rp800.000, awalnya menjadi daya tarik.

Namun, harga murah itu dibayar mahal dengan kesehatan mental sang anak. Setiap pulang sekolah, Erika menemukan A dalam kondisi psikis yang tidak wajar.

Anak yang biasanya ceria berubah menjadi pendiam dan menunjukkan reaksi emosional yang datar.

"Selama sekolah itu, dia enggak pernah bilang apa-apa. Jadi setiap pulang sekolah itu dia kayak bengong. Kayak hilang ingatan sementara gitu loh. Cuman bengong, enggak ada reaksi sama sekali. Enggak ada reaksi happy, enggak ada reaksi marah. Jadi cuman flat (datar) aja anaknya. Keluar dari pintu (daycare) itu flat, ditanya apa-apa enggak pernah mau jawab. Setiap berangkat itu kan dia ngamuk, kadang saya kasih waktu sebentar dulu buat dia cerita, 'Emang ada apa sih kok sampai takut?', tapi dia enggak pernah mau cerita," ujarnya.

Seusai kasus ini mencuat, Erika pun kaget.

Ia lalu bertanya ke sang anak, barulah kemudian terungkaplah adanya tindakan keji.

A mengungkapkan pernah mengalami perlakuan di mana kaki, badan, hingga mulutnya dibekap dan diikat. Erika mencurigai kondisi fisik A yang sering sakit berkaitan dengan perlakuan tersebut.

"Ya, sebagaimana di video yang saya unggah di Instagram, A bercerita bahwa ia mendapat perlakuan keji seperti diikat kaki, badan bahkan mulutnya pun dibekap agar suara tangisnya tak terdengar," jelas wanita yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan itu.

"Anak saya kan saat itu sering pilek. Saya kan sering libur juga, ya, kalau misalkan masuk malam. Pagi itu kan libur 2-3 hari. Kalau lagi libur dia fit, tapi kalau masuk daycare, satu hari masuk sekolah langsung pilek. Kalau saya sih curiga pileknya itu bukan ketularan, tapi mungkin karena dia terlalu banyak nangis. Karena anak dibekap, ya. Yang di foto-foto itu kan juga kelihatan bayinya juga diikat," tambahnya.

Baca juga: Pengakuan Orangtua Korban Little Aresha Daycare Yogyakarta: Dari Luka Fisik hingga Khawatir Stunting

Kasus ini tidak hanya menimpa A.

Keponakan Erika yang masih bayi dan telah dititipkan selama hampir tiga tahun juga kerap ditemukan dengan luka lebam dan bekas cakaran.

Saat dikonfirmasi kepada pihak pengasuh, mereka selalu memiliki jawaban yang telah disiapkan untuk menenangkan orang tua.

"Kalau pas bayi itu kan banyak luka cakar, banyak lebam. Mereka ngomongnya itu karena adiknya kukunya belum dipotong terus cakar-cakar sendiri. Terus kalau lebam, katanya waktu belajar melangkah itu kejedot lantai. Dan kita itu selalu diyakinkan. Mungkin ada unsur psikologis juga, jadi setiap pengasuhnya berbicara itu meyakinkan banget. Jadi banyak yang bertahan sampai bertahun-tahun di sekolah itu," tutur Erika.

Kejanggalan lain yang terungkap adalah tingginya tingkat perputaran tenaga kerja di fasilitas tersebut. Erika menyebut bahwa daycare ini sangat sering membuka lowongan kerja, mengindikasikan adanya ketidakstabilan di internal pengelola.

Erika kini berharap agar para pelaku dihukum setimpal atas perbuatannya.

Ia juga mendesak pemerintah untuk lebih selektif dalam memberikan izin operasional daycare dan mewajibkan adanya CCTV yang bisa diakses dan dipantau guna menjamin transparansi serta keamanan anak-anak. 

Terpukul

Raut sedih tampak jelas di wajah Anto, salah satu orang tua siswa yang menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha.

Ditemui seusai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, di Rumah Dinas Wali Kota, Minggu (26/4) sore, ia mengungkapkan harapannya agar pemkot memberikan atensi serius terhadap pemulihan anak-anak mereka.

Anto mengaku sangat terpukul, mengingat sang buah hati telah dititipkan di daycare tersebut dalam kurun waktu cukup lama.

"Anak kami kebetulan sudah tiga tahun di sana, sejak usia dua bulan. Jadi dari usia dua bulan sudah kami titipkan di sana sampai kemarin kasus ini mencuat," ungkapnya.

Selama masa penitipan tersebut, Anto tak menampik adanya beberapa kejanggalan yang dirasakan, seperti mendapati luka-luka fisik pada tubuh anaknya.

Meski pihak daycare kerap memberikan alasan yang bervariasi untuk melegakan orang tua, dirinya merasa lega kasus ini akhirnya terungkap ke publik.

"Memang ada beberapa kejadian berkaitan dengan luka-luka fisik yang tentunya kami selaku orang tua tidak mengharapkan itu," jelasnya.

Selain luka fisik, Anto juga menyoroti kondisi tumbuh kembang anaknya karena perlakuan yang cenderung kurang manusiawi selama dititipkan di Little Aresha.

Ia mengaku khawatir terhadap risiko stunting lantaran adanya penurunan berat badan yang drastis pada sang anak selama berada dalam pengasuhan lembaga tersebut.

"Itu kekhawatiran kami selaku orang tua pasti, ketika anak tidak sesuai dengan standar (berat badan) kan tentu ada kekhawatiran ke arah sana (stunting)," tambahnya.

Kini, fokus utama para wali murid adalah pemulihan psikis anak-anak, agar trauma yang dialami tidak berkepanjangan dan bisa kembali tumbuh dengan normal.

Terkait proses hukum yang tengah berjalan di Polresta Yogyakarta, Anto menyatakan apresiasinya atas penetapan 13 orang tersangka dalam kasus ini.

“Apa pun prosesnya kami ikuti. Harapan kami, pemkot bisa memberikan titik terang, bantuan hukum, dan pengawalan proses hukum ini seadil-adilnya," pungkasnya.

Penyesalan

Raut penyesalan tak dapat disembunyikan dari wajah Noorman Windarto, salah satu orang tua korban dalam kasus ini.

Di teras Rumah Dinas Wali Kota Yogyakarta, Minggu (26/4) sore, suara pria itu bergetar saat menceritakan nasib malang yang menimpa dua buah hatinya.

Dia tak pernah menyangka, tempat yang ia percayai karena citra mewah dan keramahan pengelolanya, ternyata menyimpan praktik yang disebutnya jauh dari kata manusiawi.

Bahkan, ia membandingkan situasi di dalam tempat penitipan anak di kawasan Sorosutan tersebut dengan penjara militer paling tersohor di dunia.

"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih, ya, anak yang usia bayi sampai balita itu, wah luar biasa, ternyata enggak manusiawi. Kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," katanya, seusai menemui Hasto Wardoyo.

Noorman mengaku, dirinya dan sang istri semula sangat terkesan dengan profil Little Aresha Daycare, karena di depan pintu masuk terpampang deretan pengelola dengan gelar pendidikan S2, dilengkapi klaim fasilitas serta tenaga medis mulai dari perawat hingga bidan.

Namun, sosok pemilik yayasan yang terlihat sangat komunikatif serta lihai dalam menenangkan orang tua, ternyata hanyalah kamuflase.

"Body language ibunya itu bagus, komunikatif sekali. Kita dibikin tenang terus. Ternyata fasilitas kesehatan yang dijanjikan itu tidak ada. Konyolnya, kami tidak pernah menanyakan berapa jumlah anak di dalam karena akses kami dibatasi hanya sampai depan," jelasnya.

Kenyataan pahit mulai terkuak saat Polresta Yogyakarta melakukan penggerebekan pada 24 April lalu.

Noorman yang semula menganggap hanya ada masalah kecil, langsung lemas saat melihat rekaman video dari pihak kepolisian.

Di dalam bangunan dua lantai yang cenderung pengap tanpa dilengkapi Air Conditioner (AC) itu, ia melihat anak-anak diperlakukan layaknya benda mati.

"Anak ditelanjangin, hanya pakai popok, kemudian diikat pakai kain (dibedong secara paksa). Tidurnya pun hanya di atas playmat, bukan kasur seperti yang dijanjikan. Ada yang masih berdiri diikat di cagak pintu," ucapnya.

Bahkan, dampak dari buruknya sanitasi dan sirkulasi udara di daycare tersebut diduga telah merusak kesehatan anak keduanya yang dititipkan sejak usia 3 bulan.

Sebagai informasi, saking percayanya pada pelayanan Little Aresha Daycare, Norman sampai menitipkan kedua anaknya sekaligus, dalam kurun waktu yang relatif panjang.

"Anak saya yang nomor dua itu setiap bulan masuk rumah sakit, divonis pneumonia sejak bayi. Kami tidak nyangka kalau kondisi di sanalah yang menjadi penyebabnya," tambahnya.

"Kalau untuk yang cewek ini saya lebih masih ke ngompol. Nah, ternyata seiring berjalannya waktu, saya mencoba cari referensi, salah satunya adalah dampak psikologis, karena pernah ketakutan atau melihat sesuatu," lanjut Noorman.

Hingga kini, luka fisik masih membekas di tubuh anak-anaknya, mulai dari lebam di punggung hingga luka di bibir.

Setiap kali ditanya, pihak daycare selalu berkilah dengan jawaban diplomatis bahwa luka tersebut sudah ada sejak dari rumah.

Secara psikologis, trauma itu nyata. Noorman bercerita, bahwa anaknya selalu menangis histeris setiap kali hendak dimandikan pada hari kerja, seolah teringat akan perlakuan kasar di daycare.

"Saya trauma kalau melihat video itu lagi, pasti menangis. Saya merasa salah, di depan Allah saya merasa tidak amanah menitipkan anak di tempat seperti itu," ucapnya.

Kini, Noorman dan para orang tua korban lainnya hanya bisa menaruh harapan pada proses hukum. Ia mengapresiasi gerak cepat Pemkot Yogyakarta dan kepolisian, serta meminta agar para pelaku dihukum seberat-beratnya, melebihi ancaman minimal 5 tahun penjara.

Little Aresha Daycare pun telah ditutup dan dipasangi garis polisi.

Sementara itu, Pemkot Yogyakarta melalui UPT PPA telah menerjunkan tim pendampingan psikologis untuk membantu memulihkan trauma yang dialami oleh para korban kecil tersebut.

 "Kita menunggu jadwal untuk pendampingan. Alhamdulillah ini Pemerintah Kota Yogyakarta sangat cepat. Kami selaku orang tua butuh pendampingan, apalagi anak. Jadi, dua-duanya kita dapat fasilitas dari Pemerintah Kota Yogyakarta," pungkas Noorman. (han/aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved