JOGJA HARI INI : Menyingkap Kelam Ruang Penitipan

Di balik pagar yang selalu terkunci itu, tersimpan kisah pilu tentang balita yang dibekap, diikat, hingga mengalami trauma psikis mendalam.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Hanif Suryo
DUGAAN KEKERASAN: Tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, digerebek aparat kepolisian. Penggerebekan tersebut terjadi lantaran adanya dugaan penganiayaan kepada balita yang dititipkan di daycare tersebut. 

"Selama sekolah itu, dia enggak pernah bilang apa-apa. Jadi setiap pulang sekolah itu dia kayak bengong. Kayak hilang ingatan sementara gitu loh. Cuman bengong, enggak ada reaksi sama sekali. Enggak ada reaksi happy, enggak ada reaksi marah. Jadi cuman flat (datar) aja anaknya. Keluar dari pintu (daycare) itu flat, ditanya apa-apa enggak pernah mau jawab. Setiap berangkat itu kan dia ngamuk, kadang saya kasih waktu sebentar dulu buat dia cerita, 'Emang ada apa sih kok sampai takut?', tapi dia enggak pernah mau cerita," ujarnya.

Seusai kasus ini mencuat, Erika pun kaget.

Ia lalu bertanya ke sang anak, barulah kemudian terungkaplah adanya tindakan keji.

A mengungkapkan pernah mengalami perlakuan di mana kaki, badan, hingga mulutnya dibekap dan diikat. Erika mencurigai kondisi fisik A yang sering sakit berkaitan dengan perlakuan tersebut.

"Ya, sebagaimana di video yang saya unggah di Instagram, A bercerita bahwa ia mendapat perlakuan keji seperti diikat kaki, badan bahkan mulutnya pun dibekap agar suara tangisnya tak terdengar," jelas wanita yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan itu.

"Anak saya kan saat itu sering pilek. Saya kan sering libur juga, ya, kalau misalkan masuk malam. Pagi itu kan libur 2-3 hari. Kalau lagi libur dia fit, tapi kalau masuk daycare, satu hari masuk sekolah langsung pilek. Kalau saya sih curiga pileknya itu bukan ketularan, tapi mungkin karena dia terlalu banyak nangis. Karena anak dibekap, ya. Yang di foto-foto itu kan juga kelihatan bayinya juga diikat," tambahnya.

Baca juga: Pengakuan Orangtua Korban Little Aresha Daycare Yogyakarta: Dari Luka Fisik hingga Khawatir Stunting

Kasus ini tidak hanya menimpa A.

Keponakan Erika yang masih bayi dan telah dititipkan selama hampir tiga tahun juga kerap ditemukan dengan luka lebam dan bekas cakaran.

Saat dikonfirmasi kepada pihak pengasuh, mereka selalu memiliki jawaban yang telah disiapkan untuk menenangkan orang tua.

"Kalau pas bayi itu kan banyak luka cakar, banyak lebam. Mereka ngomongnya itu karena adiknya kukunya belum dipotong terus cakar-cakar sendiri. Terus kalau lebam, katanya waktu belajar melangkah itu kejedot lantai. Dan kita itu selalu diyakinkan. Mungkin ada unsur psikologis juga, jadi setiap pengasuhnya berbicara itu meyakinkan banget. Jadi banyak yang bertahan sampai bertahun-tahun di sekolah itu," tutur Erika.

Kejanggalan lain yang terungkap adalah tingginya tingkat perputaran tenaga kerja di fasilitas tersebut. Erika menyebut bahwa daycare ini sangat sering membuka lowongan kerja, mengindikasikan adanya ketidakstabilan di internal pengelola.

Erika kini berharap agar para pelaku dihukum setimpal atas perbuatannya.

Ia juga mendesak pemerintah untuk lebih selektif dalam memberikan izin operasional daycare dan mewajibkan adanya CCTV yang bisa diakses dan dipantau guna menjamin transparansi serta keamanan anak-anak. 

Terpukul

Raut sedih tampak jelas di wajah Anto, salah satu orang tua siswa yang menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Little Aresha.

Ditemui seusai melakukan pertemuan dengan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, di Rumah Dinas Wali Kota, Minggu (26/4) sore, ia mengungkapkan harapannya agar pemkot memberikan atensi serius terhadap pemulihan anak-anak mereka.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved