TKA SD di Sleman Tuai Keluhan: Soal Dinilai Susah, Disebut Mirip Hendak Olimpiade

Murid dan guru mengeluhkan bobot soal yang dianggap sulit. Bahkan soal Matematika dinilai menyerupai soal hendak mengikuti olimpiade.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
istimewa
Foto dok ilustrasi ujian sekolah 

Ringkasan Berita:
  • Pelaksanaan TKA SD di Sleman 2026 menuai keluhan karena soal dianggap terlalu sulit, terutama Matematika.
  • Murid merasa pengacakan soal tidak adil, dengan tingkat kesulitan berbeda antar paket.
  • Guru menilai soal Matematika mirip olimpiade dan tipe MCMA sangat memberatkan siswa.
  • Tes berbasis komputer ini terintegrasi dengan ANBK, disertai persiapan teknis sejak subuh dan landasan hukum dari Kemendikdasmen.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD-MI/Sederajat di Kabupaten Sleman tahun 2026 yang diintegrasikan dengan Asesmen Nasional (AN) diwarnai keluhan dari murid maupun tenaga pendidik. 

Murid dan guru mengeluhkan bobot soal yang dianggap sulit. Bahkan soal mata pelajaran Matematika dinilai menyerupai soal hendak mengikuti olimpiade.

Monitoring dan evaluasi (Monev) didorong dilakukan, meski pelaksanaan tes berbasis komputer ini berjalan lancar secara sistem. 

Pengacakan soal tidak adil

Seorang murid kelas 6 SD di Kabupaten Sleman, Disti mengaku merasakan ketidakadilan akibat pengacakan soal dalam sistem ini. Menurutnya, ada soal yang bobotnya gampang dan ada yang susah sekali.

Dirinya merasa mendapatkan, ada paket soal dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibanding teman-temannya sebelumnya. 

"Menurutku materi yang belum pernah aku pelajari, sebelumnya. Nah kata teman-temanku yang lainnya, materinya itu gampang-gampang gitu," kata dia, Kamis (23/4/2026). 

Atas hal ini Disti merasa tidak adil. Ia mencotohkan, saat mata pelajaran Bahasa Indonesia, ada soal yang membutuhkan jawaban bergambar. Akan tetapi gambarnya tidak jelas, tulisannya buram dan tidak bisa dibaca.

Ia tidak mengetahui, soal tersebut untuk sekolah tingkat SMP atau SD tetapi yang ia rasakan materi tersebut belum pernah dipelajari. 

"Jadi (merasa) gak adil. Karena ada temanku yang misalnya gak dapat Luas, sedangkan aku dapat materinya Luas yang susah banget gitu," ujarnya. 

Bukan hanya Disti, keluhan soal yang dianggap terlampau sulit juga dibenarkan oleh guru karena mendapatkan keluhan dari murid-muridnya.

Materi soal matematika mirip olimpiade

Guru SD Karitas, Shinta Hera Natalia, S.Pd membenarkan bahwa sejumlah murid di sekolahnya mengeluhkan itu, terutama pada mata pelajaran Matematika. Menurutnya, beberapa soal memiliki tingkat kesulitan setara hendak mengikuti kejuaraan olimpiade.

"Nggih, (murid mengeluh soalnya susah) terutama matematika, soalnya seperti mau mengikuti olimpiade. Siswa mengeluhnya setelah mengerjakan TKA. Karena kan yang menunggu pengawas dan selama TKA itu ada zoom," ujar dia. 

Shinta menjelaskan, pelaksanaan TKA jenjang SD berbasis komputer atau Computer Based Test (CBT) dengan token, di mana setiap siswa mendapatkan soal secara acak. Soal yang diberikan, kata dia,  kemungkinan berasal dari satu jenis paket tetapi penomorannya untuk setiap siswa berbeda- beda. Nah setelah selesai mengerjakan, ada beberapa siswa yang mengeluh karena merasa mendapatkan soal yang dinilai sulit.

Menurut Shinta, pelaksanaan tes pada tahun ini memang berbeda. TKA kini menjadi integrasi dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) menggantikan peran ASPD yang telah ditiadakan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved