Disdikpora Bantul Prihatin Atas Tewasnya Pelajar Ilham Dwi Saputra: Peran Keluarga Jadi Kunci

Nugroho mengingatkan kembali pentingnya sinergi antara tiga pilar utama pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, Nugroho Eko Setyanto 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus penganiayaan maut yang menewaskan Ilham Dwi Saputra (16), pelajar asal Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandak.

Kepala Disdikpora Kabupaten Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menyebut bahwa meskipun korban merupakan siswa jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), kejadian ini tetap menjadi duka bagi warga Bantul secara keseluruhan.

"Komentar singkat kami, kasus itu sangat memprihatinkan. Walaupun itu bukan siswa kami dalam artian di pendidikan dasar, tapi itu juga warga Kabupaten Bantul," kata Nugroho, Selasa (21/4/2026).

Nugroho menilai, tragedi ini merupakan tanggung jawab bersama. Ia pun mempertanyakan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan di balik aksi kekerasan tersebut.

"Akar masalahnya sebetulnya apa sih alasannya sampai bisa terjadi seperti itu. Kenapa sekarang ini, kejadian itu kemudian menggambarkan rasa kemanusiaan, rasa kesetiakawanan yang tergerus. Tapi untuk kasus itu, bukan secara umum ya," papar dia.

Menyikapi kondisi ini, Nugroho mengingatkan kembali pentingnya sinergi antara tiga pilar utama pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Baca juga: Terungkap, Motif Balas Dendam Jadi Pemicu Penganiayaan Maut Pelajar di Bantul

Ia menekankan bahwa pengawasan terhadap anak tidak boleh kendur, terutama saat di luar jam sekolah.

"Dalam kejadian itu, walaupun tidak terjadi pada jam sekolah tetapi menjadi perhatian kita karena mereka juga masih anak sekolah. Dan inilah kita mempertanyakan peran keluarga seperti apa," jelas Nugroho.

Ia menambahkan, peran keluarga sangat vital dalam mengendalikan putra-putrinya saat berada di rumah.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk tidak bersikap apatis terhadap perilaku menyimpang di lingkungan sekitar.

"Dan sebetulnya, masyarakat tidak boleh abai terhadap indikasi perilaku dari sekolompok anak yang mungkin kurang pas. Inilah yang sebetulnya harus kita ketuk bersama. Termasuk dari sekolah harus senantiasa memberikan pendidikan yang baik pada anak-anak kita," harapnya.

Nugroho memperingatkan, ketidakpedulian salah satu pihak dalam memantau perkembangan anak dapat menjadi celah munculnya kasus kekerasan serupa.

"Jadi, harapan kami adalah keluarga menjadi peran vital ketika anak-anak berada di rumah keluarga. Ya arahan kami dari Disdikpora dan dinas terkait juga harus senantiasa berpadu dan harus dikuatkan lagi terhadap peran masing-masing pihak," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Ilham Dwi Saputra (16) tewas setelah dikeroyok sekelompok orang di Lapangan Gadung Mlaten, Selasa (14/4/2026) malam.

Korban mengalami penyiksaan berat menggunakan pipa paralon hingga dilindas sepeda motor sebelum akhirnya meninggal dunia di RS PKU Jogja.

Hingga kini, polisi baru mengamankan dua pelaku dan masih memburu lima orang lainnya yang masuk dalam DPO. (nei)


 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved