Harga Plastik Melambung

Harga Plastik Melejit, Pedagang di Pasar Beringharjo Ajak Pelanggan Bawa Tas Belanja Sendiri

Penggunaan tas belanja bukan sekadar urusan menekan biaya, tetapi juga soal kenyamanan dan kebersihan lingkungan dari timbulan sampah plastik.

|
Tribun Jogja/HANIF SURYO
HARGA NAIK - Ida Chabibah (kiri), pedagang sayuran di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, sedang melayani pembeli di kiosnya beberapa waktu lalu. Para pedagang sayur di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, kini harus memutar otak menghadapi kenaikan harga kantong plastik yang mencapai 100 persen pasca-Lebaran. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para pedagang sayur di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, kini harus memutar otak menghadapi kenaikan harga kantong plastik yang mencapai 100 persen pasca-Lebaran.

Alih-alih memicu gejolak harga di tingkat konsumen, kenaikan biaya operasional ini justru disikapi dengan efisiensi pengemasan dan penguatan kampanye penggunaan tas belanja ramah lingkungan di lingkungan pasar tradisional.

Kenaikan harga plastik kemasan ini terjadi di tengah kondisi harga sejumlah komoditas sayur yang belum sepenuhnya stabil. 

Ida Chabibah, seorang pedagang sayur di Pasar Beringharjo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi sangat tajam untuk ukuran yang paling sering digunakan pedagang.

"Harga plastik itu biasanya saya beli yang tanggung (ukuran 2 kilo) itu Rp4.500. Sekarang itu Rp9.000. Dua kali lipat, naik 100 persen berarti. Tergantung produknya," ujar Ida, Senin (6/4/2026).

Meskipun biaya pembungkus melonjak, para pedagang sepakat untuk tidak membebankan kenaikan tersebut kepada pembeli.

Langkah yang diambil adalah melakukan efisiensi distribusi plastik dengan cara mengubah pola pengemasan barang belanjaan.

"Dibikin efektif, seefektif mungkin. Kalau misalkan belinya langsung banyak, ya kita kasih kantong yang gede sekali. Enggak eceran gitu loh, enggak jadi satu-satu. Biasanya kan satu-satu gitu kan, tapi ini enggak, sekalian. Dia langsung menjadikan satu," papar Ida menjelaskan teknis efisiensi yang dilakukan.

Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Disperindag DIY Dorong UMKM Beralih ke Kemasan Ramah Lingkungan

Edukasi Pelanggan

Menariknya, lonjakan harga plastik ini menjadi momentum bagi pedagang untuk mengedukasi pelanggan, terutama pelanggan tetap dari kalangan pemilik warung lotek, gado-gado, dan rumah makan, agar beralih ke wadah yang dapat digunakan kembali (reusable).

Ida secara aktif menyarankan pembeli untuk membawa tas sendiri berbahan kain atau parasutyang lebih tahan lama dan ramah lingkungan.

Menurutnya, penggunaan tas belanja bukan sekadar urusan menekan biaya, tetapi juga soal kenyamanan dan kebersihan lingkungan dari timbulan sampah plastik.

"Terus kita sambil mensosialisasikan, besok lagi bawa tas sendiri yang kayak gini, biar enak. Pakai plastik-plastik kan banyak sampah. Kalau pakai tas yang langsung pakai lama, enak gitu loh. Tidak banyak nyampah. Pakai kantong daur ulang itu, atau yang dari parasut itu enak. Lipat sampai kecil, itu kan bisa dicuci juga yang kayak parasut itu," tambahnya.

Dinamika Harga Pangan Pasca-Lebaran

Selain isu plastik, laporan pantauan pasar menunjukkan fluktuasi harga pangan yang dipengaruhi oleh faktor cuaca di wilayah hulu seperti Bandung, Muntilan, dan sejumlah daerah lainnya. 

Beberapa komoditas yang sempat melonjak tajam saat Lebaran mulai berangsur turun, meski beberapa di antaranya masih tertahan di harga tinggi.

Beberapa komoditas yang sempat melonjak tinggi kini mulai melandai, namun gangguan distribusi di jalur utara menyebabkan fluktuasi baru.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved