Wacana MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, Warga Jogja Harap Anggaran Dialihkan untuk Pendidikan & Kesehatan

Wacana pemangkasan durasi program MBG dari 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan mendapat respons positif

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Dok. Pemkab Bantul
PENGURANGAN MBG: (Ilustrasi) Menu MBG yang disajikan oleh SPPG Argosari Sedayu, Kabupaten Bantul pada Sabtu (7/3/2026). Wacana pemangkasan durasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan mendapat respons positif dari publik. 

Ringkasan Berita:
  • Kabar pemangkasan durasi program MBG dari 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan mendapat respons positif.
  • ​Untuk sebagian warga, wacana ini dinilai sebagai langkah yang jauh lebih realistis ketimbang memaksakan program berjalan penuh hingga akhir pekan.
  • Menurut ​Azzahra, seorang warga Kota Yogyakarta, durasi lima hari MBG sudah selaras dengan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah.

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Wacana pemangkasan durasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan mendapat respons positif dari publik.

​Bagi sebagian warga, wacana ini dinilai sebagai langkah yang jauh lebih realistis ketimbang memaksakan program berjalan penuh hingga akhir pekan.

​Azzahra, seorang warga Kota Yogyakarta, menyampaikan, durasi lima hari MBG sudah selaras dengan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Toh, berdasarkan pengalaman sejauh ini, kualitas makanan yang disajikan dapur terkesan mengalami penurunan akibat kendala logistik yang terlalu luas.

​"Saya setuju lah. Bukan karena tidak setuju dengan programnya, tapi kita harus realistis. Lima hari itu pas dengan hari sekolah," ujarnya, Kamis (26/3/26).

​Ia menilai, jika makan bergizi gratis dipaksakan tetap didistribusikan pada akhir pekan, justru akan menambah kerumitan operasional di lapangan.

Selain itu, terjadi pula tumpang tindih mengenai peran pemberian gizi antara pemerintah dan keluarga dari anak-anak sasaran program tersebut.

​"Kalau dipaksakan sampai akhir pekan, selain operasionalnya makin rumit, fungsinya jadi tumpang tindih dengan peran keluarga di rumah," cetusnya.

​Terlebih, berdasarkan data yang disampaikan Menteri Keuangan RI, pemangkasan hari ini diprediksi mampu menghemat anggaran hingga Rp40 triliun. 

Akan tetapi, angka yang cenderung fantastis tersebut diharapkan tidak menguap begitu saja, melainkan dialihkan ke sektor publik yang lebih mendesak.

​"Misalnya, perbaikan infrastruktur sekolah yang sudah rusak atau penambahan alat kesehatan di faskes atau Puskesmas di daerah-daerah," terangnya.

Butuh lingkungan layak

​Menurutnya, pemenuhan gizi melalui MBG memang penting, namun anak-anak juga memerlukan lingkungan belajar yang layak dan akses kesehatan yang mumpuni.

Sebab, jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, kualitas belajar mengajar di sekolah akan terganggu, dan berdampak pada tingkat kecerdasan siswa.

​"Anak-anak juga butuh ruang kelas yang tidak bocor dan buku-buku gratis. Kalau dananya bisa dibagi untuk hal-hal teknis seperti itu, dampaknya akan lebih terasa dalam jangka panjang," tegasnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved