Sambut Libur Lebaran, Juru Parkir di Kota Yogya Serukan Lawan Praktik 'Nuthuk'
Para jukir di TKP Ngabean menyatakan komitmennya untuk memberikan layanan istimewa, tanpa embel-embel tarif selangit atau nuthuk.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Juru parkir TKP Ngabean berkomitmen memberikan layanan istimewa tanpa tarif tinggi demi menjaga kenyamanan wisatawan dan citra positif Yogyakarta sebagai kota wisata.
- Pengelola menerapkan aturan ketat berupa larangan konsumsi miras saat bertugas. Personel yang melanggar atau tidak profesional akan langsung diberhentikan
- Wisatawan diimbau jeli membedakan lokasi parkir resmi dan liar, karena insiden tarif mahal sering terjadi di titik ilegal.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Para juru parkir (jukir) di Kota Yogyakarta memiliki peran krusial sebagai orang pertama yang menyambut wisatawan, termasuk saat libur lebaran mendatang.
Menyadari hal itu, para jukir di Tempat Khusus Parkir (TKP) Ngabean menyatakan komitmennya untuk memberikan layanan istimewa, tanpa embel-embel tarif selangit atau nuthuk.
Perwakilan Juru Parkir TKP Ngabean, Anton Wahyudi, menegaskan, bahwa menjamin kenyamanan pengunjung yang singgah di Kota Yogyakarta adalah harga mati.
Baginya, tugas sebagai juru parkir bukan sekadar menata kendaraan, tapi juga mengemban amanah untuk menjaga citra kota sebagai daerah tujuan utama pariwisata di tanah air.
"Kita ini dipasrahi tugas, ya sebisa mungkin membuat pengunjung nyaman. Kalau mereka diperlakukan spesial, pasti akan senang dan ingin datang lagi ke Yogya," ujarnya, Senin (16/3/2026).
Langkah konkret pun diambil untuk memastikan personel di lapangan tetap profesional, dengan menekankan kedisiplinan dalam bekerja.
Sejak awal bulan ini sterilisasi internal dilakukan ketat, di mana salah satu yang menjadi sorotan utama adalah larangan keras mengonsumsi minuman keras (miras) saat bertugas.
"Kalau sampai ketahuan (mabuk), langsung tak keluarkan. Saya tanya mereka, nuwun sewu, kowe niat dadi preman opo dadi tukang parkir? Kalau sehat posisinya kan enak, kalau 'bau naga' itu bikin tidak nyaman pengunjung," tegasnya.
Di sisi lain, pria yang akrab disapa Pongge ini juga mengingatkan wisatawan untuk jeli membedakan TKP resmi dengan parkir liar yang sering muncul saat musim libur lebaran.
Bukan tanpa alasan, seringkali insiden nuthuk terjadi di titik-titik ilegal, namun yang terkena imbas negatifnya justru parkir resmi layaknya TKP Ngabean.
"Kadang ada yang buka parkir sendiri di luar, itu liar. Pernah ada kejadian tarifnya beda, dikiranya itu di Ngabean, padahal bukan. Kami selalu jelaskan ya, pelan-pelan, kepada para pengunjung," cetusnya.
Baca juga: Kisah Momi Kiti Jogja: Buka Penitipan Kucing Buat Biayai Rescue, Kini Kebanjiran Order
Komitmen melawan nuthuk dari para jukir TPK Ngaben pun mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta, Agus Arif Nugroho.
Menurutnya, pemerintah kota memposisikan diri sebagai "orang tua" yang tidak bosan-bosannya mengingatkan agar aktivitas parkir dijaga kredibilitasnya.
"Harapan kami ini bukan hidup musiman, tapi benar-benar menjadi lapangan pekerjaan yang berkelanjutan. Maka, harus dijaga dan dirawat. Kadang bukan soal duitnya (tarif), tapi perilakunya yang bikin orang nggak nyaman," katanya.
| Buntut Dugaan Keracunan Menu MBG, Penyaluran Dana ke SPPG Srihardono 1 Dihentikan Sementara |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta vs PSM Makassar, Rahmatsho Kembali ke Skuad Laskar Mataram |
|
|---|
| Trah Sri Sultan HB II Bawa Kasus Geger Sepehi ke Mahkamah Internasional, Desak Pengembalian Rampasan |
|
|---|
| Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Jumat 10 April 2026 |
|
|---|
| Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sambut-Libur-Lebaran-Juru-Parkir-di-Kota-Yogya-Serukan-Lawan-Praktik-Nuthuk.jpg)