Tanah Gerak di Bantul, Area Perumahan di Triwidadi Ternyata Dulunya Tanah Miring yang Diratakan
Lokasi kejadian itu dulunya merupakan tanah miring. Kemudian diratakan menggunakan alat berat. Jenis tanahnya hampir seperti wadas.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Tanah di perumahan Triwidadi labil karena struktur mirip wadas, mudah pecah saat panas dan berlumpur saat hujan.
- Puluhan rumah terdampak retakan tanah hingga kedalaman 2–2,5 meter, sebagian warga sudah mengungsi.
- BPBD dan pemerintah daerah menyiapkan opsi rekayasa teknik, namun biaya besar dan tanggung jawab perbaikan dibebankan pada pengembang.
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul bersama jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta dan tim ahli geologi terus berupaya menelusuri kejadian gerakan tanah salah satu perumahan di Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
Jogoboyo Kalurahan Triwidadi sekaligus FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Triwidadi, Giyanta, menyampaikan, bahwa lokasi kejadian itu dulunya merupakan tanah miring. Kemudian diratakan menggunakan alat berat. Namun, jenis tanahnya dinilai hampir seperti wadas.
Kena panas pecah, kena hujan berlumpur
"Tadi, dari ahli geologi menyampaikan tanah di sana seperti wadas tetapi tidak keras. Jadi, nanti kalau kena panas pecah. Kalau kena hujan lumpur. Jadi, seakan-akan tanahnya licin. Tapi iya area itu perbukitan," katanya, saat dikonfirmasi Tribunjogja.com, Rabu (11/3/2026).
Lebih lanjut, pihak BPBD DIY dan BPBD Bantul mengimbau kepada masyarakat yang memiliki rumah di lokasi gerakan tanah untuk tidak menempati lokasi tersebut. Sebab, potensi gerakan tanah dimungkinkan masih akan terjadi lagi.
Saat ini, tanah di lokasi tersebut terpantau mengalami retakan dengan kedalaman sekitar dua meter. Untuk panjang retakan, Giyanta, tidak bisa memastikannya. Sebab, retakan itu cukup luas dan menyebar sekitar 20-30 rumah di perumahan tersebut.
"Jumlah yang dihitung itu yang ada di perumahan. Tapi, ada juga potensi retakan ke rumah warga non perumahan sekitar delapan rumah. Cuma, memang sekarang sudah ada dua rumah warga yang juga terdampak dari gerakan tanah itu," jelasnya.
Untuk dua rumah warga yang terdampak masih belum mengungsi. Mereka masih memilih tinggal di rumah masing-masing. Lain halnya untuk warga yang tinggal di perumahan, kata Giyanta, pemilik rumah sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman.
"Yang jelas untuk area perumahan yang terdampak gerakan tanah, belum bisa ditempati. Tapi, untuk delapan rumah non perumahan disarankan relokasi ke tempat yang lebih aman," ucap Giyanta.
Rekayasa teknik
Sebagai penanganan lebih lanjut, BPBD DIY, BPBD Bantul, dan sejumlah pihak terkait masih akan melakukan diskusi terkait rekayasa teknik. Hanya saja, apabila rekayasa teknik dilakukan, berpotensi menelan anggaran yang cukup banyak.
"Rekayasa teknik itu umpamanya dibuat terasering dan dibuatkan selokan besar permanen. Selokan itu untuk mengairi aliran air hujan. Karena, selama ini aliran air hujan masih liar. Jadi, kalau hujan sebelumnya nderojog (mengalir deras ke bawah) dan ada yang masuk ke rumah," ujarnya.
Untuk penanganan dampak kerusakan tanah bergerak ini dimungkinkan tidak ada alokasi dari dana pemerintah. Sebab, beberapa fasilitas umum, berupa jalan di area perumahan belum diserahkan ke pemerintah. Di mana, jalan di area perumahan juga rusak dikarenakan terkena gerakan tanah.
"Jadi, nanti penanganan kerusakan nanti pyur dari pengembang, dari developer perumahan," tandasnya.
Puluhan rumah terdampak
Diberitakan sebelumnya, puluhan rumah area perumahan di Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, rusak dikarenakan terdampak gerakan tanah. Kondisi itu terjadi dikarenakan intensitas hujan tinggi.
Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, mengatakan, intensitas hujan tinggi sejak Jumat (27/2/2026), mengakibatkan penurunan permukaan tanah sedikit demi sedikit.Bahkan, kecepatan pergerakan tanah diperkirakan mencapai 10 sentimeter dalam setiap hari ke arah bawah permukiman.
"Kedalaman tanah ambles saat ini mencapai sekitar 2,5 meter sebab, kurangnya resapan air, struktur tanah gembur dan labil (tanah berkapur), kontur lahan tidak ada sengkedan (terasering), pembatas, dan tidak adanya tanggul penahan (talud) yang memadai," ujarnya, Minggu (8/3/2026).(nei)
| Pemkot Yogyakarta Raih WTP ke-17, Perkuat Akuntabilitas dan Transparansi Keuangan Daerah |
|
|---|
| Proses Pematangan Lahan Gedung Budaya Bantul Dimulai April Ini |
|
|---|
| Dana Desa di Bantul Terjun Bebas, Kalurahan Rata-rata Hanya Kebagian Rp373 Juta |
|
|---|
| 80 Tahun Sri Sultan HB X, Bantul dan Gunungkidul Pertegas Kontribusi Pangan hingga Industri DIY |
|
|---|
| Sadis! Cuma Gara-gara Suara Knalpot, Gerombolan Pemuda di Sleman Bakar Motor Korban Pakai Petasan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tanah-Gerak-di-Bantul-Area-Perumahan-di-Triwidadi-Ternyata-Dulunya-Tanah-Miring-yang-Diratakan.jpg)