Ironi Kondisi Sungai di Sleman: Hulu yang Tercemar, Target Indeks Kualitas Air Meleset
Sumber pencemaran sungai di Sleman sekarang merata tersebar di hulu hingga hilir. Hal ini menyebabkan pencemaran sungai di Sleman tinggi.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Sungai-sungai di Sleman mengalami pencemaran serius dengan indikasi bakteri E-coli, terutama akibat limbah domestik, usaha kecil, dan aktivitas peternakan.
- Inventarisasi menemukan ribuan titik pencemar di 10 sungai, dengan Sungai Gajah Wong paling banyak tercemar karena melintas pemukiman, sementara Sungai Tepus relatif lebih bersih.
- Indeks Kualitas Air Sleman tahun 2025 belum mencapai target karena banyak parameter melebihi standar
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kualitas air sungai di Kabupaten Sleman dinilai mulai buruk seiring masifnya sumber pencemaran.
Padahal, Kabupaten yang beririsan langsung dengan Gunung Merapi ini memiliki peran vital sebagai daerah resapan dan penyangga utama pasokan air bagi wilayah Kota Yogyakarta hingga Kabupaten Bantul.
Indikasi bakteri E-coli
Uji kualitas air sungai yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengindikasikan paparan bakteri E-coli.
Limbah domestik hingga aktivitas peternakan diduga menjadi penyebab utama pencemaran air ini.
Pegiat Sungai Sleman, Agustinus Irawan mengungkapkan, sumber pencemaran sungai di Sleman sekarang merata tersebar di hulu hingga hilir. Hal ini menyebabkan pencemaran sungai di Sleman cukup tinggi.
Pihaknya mengaku pernah mencoba mengidentifikasi sumber pencemaran di 10 sungai yang ada di Bumi Sembada, sejak tahun 2021-2025. Mulai dari Sungai Bedog, Winongo, Kuning, Boyong, Tambakbayan, Gajah Wong, Tepus, Konteng, Kruwet hingga Sungai Opak. Hasilnya cukup mencengangkan.
"Rata-rata ditemukan 1.000an (seribuan) titik sumber pencemar sungai. Semua data sudah kami verifikasi bersama DLH Sleman dan tersimpan di DLH Kabupaten Sleman," kata AG Irawan, Selasa (3/3/2026).
Irawan merupakan mantan Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS). Ini adalah wadah bagi puluhan komunitas peduli lingkungan di Sleman yang aktif melakukan upaya konservasi air, biota, dan penanaman pohon untuk melestarikan alam sekitar sungai tempat tinggal para anggotanya.
Sungai Gajah Wong tercemar
Menurut Irawan, dari 10 sungai yang diidentifikasi, sumber pencemaran sungai terbanyak ada di Sungai Gajah Wong karena sungai ini melintas di wilayah pemukiman. Sedangkan sungai yang relatif minim pencemaran adalah sungai Tepus yang melintas area persawahan. Terkait sumber pencemarannya, banyak dan beragam.
Selain dari limbah domestik, UMKM seperti warung, laundry, jasa cucian mobil, motor, karpet juga dari tempat-tempat kuliner. Bahkan sumber pencemaran juga dari tempat pemotongan hewan. Modus pencemaran, sejumlah tempat usaha tersebut dibangun berada di pinggir sungai dan tanpa dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
"Sebaran sumber pencemaran sungai sekarang merata dari hulu, tengah dan hilir. Lha, sekarang laundry dan pemotongan hewan ada di banyak tempat. Dan semua menggunakan air untuk penggelontoran. Sementara tanpa IPAL, masuk ke drainase dan berakhir ke sungai," ujarnya.
Bukan hanya dari tempat usaha pinggir sungai, menurut Irawan, pihaknya belakangan ini menemukan sumber pencemar sungai yang lain, meski jumlah tidak banyak tetapi cukup berpengaruh yaitu usaha peternakan ayam, kandang ternak kelompok kambing dan sapi.
Sebab ceceran kotoran dari usaha itu jatuh ke tanah tanpa diolah, meresap dan masuk ke aliran sungai lewat rembesan di tebing-tebing sungai. Juga ada beberapa kolam ikan akibat residu pakan yang masuk sungai.
Temuan lain yang cukup mencengangkan, sejumlah mata air di Kabupaten Sleman diduga mulai tercemar dengan terindikasi mengandung bakteri E-coli. Pencemaran mata air ini diduga bersumber dari pertanian organik berbasis pupuk kandang atau kotoran hewan (kohe).
| Arus Balik via Gerbang Tol Purwomartani Mulai Padat |
|
|---|
| Puncak Kunjungan Tebing Breksi Tembus 2.000 Wisatawan saat Libur Lebaran |
|
|---|
| Sate Kelinci di Kaliurang Bikin Wisatawan Ketagihan |
|
|---|
| Antrean Kendaraan Maksimal 1,5 Km, Wisatawan Mulai Keluar Masuk DIY via Tempel |
|
|---|
| Muncul Wacana Sekolah Daring April 2026, Disdik Sleman Sebut Semua Sekolah Sudah Siap |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ironi-Kondisi-Sungai-di-Sleman-Hulu-yang-Tercemar-Target-Indeks-Kualitas-Air-Meleset.jpg)