Ironi Kondisi Sungai di Sleman: Hulu yang Tercemar, Target Indeks Kualitas Air Meleset

Sumber pencemaran sungai di Sleman sekarang merata tersebar di hulu hingga hilir. Hal ini menyebabkan pencemaran sungai di Sleman tinggi.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
ALIRAN SUNGAI: Air dari wilayah pemukiman masuk ke aliran sungai di Kabupaten Sleman 

Alurnya, kohe yang masih baru diambil dari kandang diletakkan di petak sawah atau kebun tanpa melalui proses fermentasi. Lalu kohe tersebut terkena embun atau hujan lalu meresap ke tanah bercampur dengan air tanah dan mengalir lewat kapiler air tanah kemudian muncul sebagai mata air yang terkontaminasi bakteri E-Coli. Temuan ini menurut Irawan masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Pihaknya mengaku akan meneliti hal ini. 

"Ini perlu kita teliti lagi. Upaya preventifnya, kita coba lakukan edukasi kepada para peternak untuk melakukan fermentasi kohe sebelum diletakkan di ladang, sawah atau kebu," katanya. 

Indeks Kualitas Air di Sleman

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanta mengatakan bahwa Indeks Kualitas Air (IKA) di Kabupaten Sleman sebagai bagian dari indikator untuk mengukur Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) memang masih terus dikejar.

Ia menyebut, indeks kualitas air tahun 2025 di Kabupaten Sleman baru bisa mencapai 72,32 dari target 75,43. Artinya masih butuh 3 poin yang butuh dikejar, di mana hasil uji kualitas air sungai ternyata banyak parameter yang masih melebihi standar, terutama kaitannya bakteri e-coli. 

"Nah inilah sebagai faktor, kenapa indeks kualitas air di Kabupaten Sleman ini belum bisa tercapai," kata dia. 

Pihaknya mengaku telah berupaya agar kualitas air sungai bisa mendekati standar kualitas air yang ideal. Satu di antaranya membentuk Forum Komunitas Sungai Sleman, dengan jumlah anggota di dalamnya 31 komunitas. Forum ini membantu dalam upaya pengendalian kualitas air sungai. Melalui kegiatan kebersihan sungai, edukasi lingkungan dan penghijauan sempadan sungai, termasuk inventarisasi sumber sumber pencemaran sungai kemudian mengedukasinya. 

Berdasarkan hasil inventarisasi dan edukasi, kata dia, ternyata ditemukan banyak sekali sumber pencemaran air sungai. Selain pembuangan limbah domestik rumah tangga juga pembuangan limbah dari aktivitas pariwisata seperti hotel dan restoran. Kemudian limbah dari kegiatan pertanian yang turut mempengaruhi kualitas air sungai di Sleman. Kegiatan di kesehatan seperti Rumah Sakit dan klinik juga ditemukan ada yang pembuangannya langsung ke sungai. Temuan ini kemudian dilakukan pencermatan untuk perbaikan. 

"Jadi ketika kami lakukan pencermatan terhadap laporan itu, ketika itu melebihi standar baku mutu, ini menjadi target untuk pengawasan kami. Kemudian kita adakan tindakan untuk perbaikannya,"kata dia. 

Peternakan Sumbang Pencemaran Kualitas Air 

Plt. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andriyanto mengaku sudah 'menyentil' peternakan khususnya di wilayah hulu sungai agar melakukan perbaikan budidaya. Sebab kegiatan peternakan diduga turut menyumbang pencemaran kualitas air. Menurut dia, peternakan di wilayah Sleman utara yang cukup banyak adalah peternakan ayam petelur, ayam potong, peternakan sapi dan kambing. Perbaikan budidaya ini dengan mensyaratkan Nomor Kontrol Veteriner (NKV). 

"Jadi kalau di sektor peternakan, keabsahan sebuah produk sebagai produk pangan adalah mendapat nilai kontrol veteriner, nah ini mencakup termasuk dalam pengelolaan atau manajemen limbah yang ditimbulkan dari budidaya. Ini kita sudah mulai khususnya untuk peternakan besar yang sudah punya NIB, kita awali dari yang punya NIB lalu (didorong) NKV. Kita kontrol juga limbahnya. Itu tidak boleh lagi dibuang ke saluran terbuka," katanya. 

Ia mengamini bahwa yang terjadi kebanyakan peternakan membuang kotoran ternak dengan cara 'dikocor' dibuang ke saluran terbuka, yang akhirnya mencemari kualitas air. Sekarang, pihaknya mengaku mendorong agar peternakan mempunyai semacam Biodigester untuk pembuangan limbah sekaligus sumber energi gas. 

"Karena memang koli itu tinggi dari kohe. kita akui itu. Cuman ini kita mulai untuk menggencarkan nomor kontrol veteriner. Kita dengan keterbatasan SDM dan anggaran nomor kontrol veteriner tetap harus bisa," ujar Rofiq.(rif) 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved