Ramadan 2026

Pengalaman Mistis dan Mendebarkan Petugas Pemeriksa Jalur KA di Yogyakarta

Menjalani ibadah puasa tidak menghalangi Rahmat Haryanto menjalankan tugasnya sebagai Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) di wilayah Daop 6 Yogyakarta.

|
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
PETUGAS JALUR KA - Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) di wilayah Daop 6 Yogyakarta, Rahmat Haryanto (36) melakukan pemeriksaan jalur dengan berjalan kaki, bertugas di petak Lempuyangan-Maguwoharjo, Selasa (24/2/2026). 

Cukup istirahat juga menjadi kunci agar staminanya terjaga ketika bertugas, termasuk mengonsumsi vitamin.

Hujan tak jadi penghalang

Hujan pun tidak menghalangi pekerjaannya. Ketika hujan, ia menggunakan jas hujan dan payung untuk mengantisipasi hujan disertai petir.

“Tantangannya harus konsentrasi penuh dan tetap fokus dalam melakukan pemeriksaan jalur. Jangan sampai temuan kecil tidak terekspos, tidak terlaporkan. Takutnya, begitu kita melewati temuan itu semakin membahayakan perjalanan kereta api,” terangnya.

Sekitar 13 tahun ia menekuni profesi ini. Tentu ada banyak cerita yang berkesan.

Tak sekadar mengecek dan memastikan jalur KA, ia juga memberikan edukasi kepada anak-anak yang ada di sekitar jalur.

Memberikan edukasi justru menjadi pengalaman menyenangkan baginya.

Pengalaman tak terlupakan

Pengalaman mendebarkan juga pernah ia alami. 

Ia pernah bertemu dengan seseorang yang ingin mengakhiri hidup di petak yang diperiksa.

Beruntung ia akhirnya berhasil menggagalkan niatan orang itu.

Selain itu, ia pun pernah mengalami pengalaman mistis. 

Ketika bertugas di Solo, ia hampir tertemper kereta karena tidak mendengar suara kereta.

Padahal, seharusnya suara kereta terdengar, pun lampu kereta juga mestinya menyorot terang.

Pengalaman mistis lainnya ia alami saat melakukan pemeriksaan di petak Purwosari-Gawok.

Di sekitar jalur tersebut ada gubuk di tengah-tengah kebun tebu.

Kala itu, sekitar 03.00 dini hari, ia mendengar suara orang yang sedang asyik mengobrol.

Awalnya merasa senang karena merasa ada teman. Ia pun menyapa orang yang berada di gubuk itu. 

Namun hingga tiga kali sapaan tak ada jawaban. Ketika menyoroti area gubuk, rupanya tidak ada siapapun. Tak ambil pusing, ia melanjutkan pekerjaannya. 

“Setiap penugasan yang diterima oleh pekerja kereta api adalah amanah, dan harus diselesaikan dengan baik,” pungkasnya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved