Dua Seniman Suguhkan Tafsir Kebebasan dalam Pameran Bertajuk “Freedom”
Meski berangkat dari latar gagasan yang tak sama, keduanya dipertautkan oleh semangat serupa, yakni membebaskan diri dari pakem
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Ruang lobi ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta menjadi lanskap eksplorasi visual bagi duo bertajuk “Freedom” yang menampilkan karya Hasan dan Helmi Fu.
Pameran yang berlangsung hingga 30 Mei 2026 ini menghadirkan kebebasan bukan sekadar sebagai tema, melainkan sebagai metode berkarya untuk mengekspresikan imajinasi tanpa batas.
Bertempat di Artspace hotel tersebut, pameran ini mempertemukan dua bahasa visual berbeda.
Meski berangkat dari latar gagasan yang tak sama, keduanya dipertautkan oleh semangat serupa, yakni membebaskan diri dari pakem dan menghadirkan refleksi bagi publik.
Kebebasan sebagai Cermin Diri
Bagi Helmi Fu, kebebasan lahir dari kegelisahan personal dan sosial.
Seniman kelahiran Banyuwangi 1990 yang menempuh pendidikan seni rupa di Universitas Negeri Yogyakarta ini banyak mengeksplorasi perilaku sosial, ketegangan emosional, hingga psikologi manusia.
Ia tertarik pada ruang antara apa yang terlihat, dirasakan, dan disimpulkan.
Salah satu karya yang dipamerkan adalah “Chrono Bias Prasangka”. Karya ini berangkat dari pengalaman personal terkait relasi anak dan orang tua, serta kegelisahan tentang waktu, usia, dan prasangka.
Melalui teknik kolase berlapis, menggunakan kertas daur ulang, potongan poster, cat semprot, dan akrilik, Helmi menyusun komposisi padat yang merepresentasikan akumulasi pengalaman manusia.
Selain itu, dua karya lain berjudul “Me and Devine #2” dan “Me and Devine #3”, Helmi merefleksikan relasi manusia dengan kekuatan tak terbatas di tengah derasnya arus informasi modern.
Kutipan Socrates, “I know one thing: that I know nothing,” menjadi pengingat bahwa kemudahan akses pengetahuan tidak serta-merta menjadikan manusia mahatahu.
Alam sebagai Sumber Harmoni
Sementara itu, Hasan menghadirkan kebebasan melalui eksplorasi bentuk, warna, dan sapuan yang lebih lepas dari standar akademik seni rupa.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang telah berpartisipasi dalam berbagai pameran nasional dan internasional ini menjadikan alam sebagai sumber inspirasi utama.
Melalui karya “Harmony” seharga Rp24.200.000, Hasan menggambarkan hutan sebagai metafora kehidupan yang rukun dalam keberagaman.
Ia menegaskan bahwa seperti ribuan spesies tumbuhan yang hidup berdampingan, manusia pun semestinya mampu menciptakan harmoni di tengah perbedaan budaya, agama, dan latar belakang.
| IPK Indonesia DIY Lakukan Pendampingan Psikologis Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta |
|
|---|
| Kuliner Sehat Kekinian Jogja, Menu Plant Based di ARTOTEL Suites Bianti Cocok untuk Semua |
|
|---|
| Fasilitas Meeting Room di ARTOTEL Suites Bianti, Venue Strategis untuk Acara Bisnis di Pusat Kota |
|
|---|
| Mimpi yang Terwujud dari Ketekunan Menabung Bertemu dengan Subsidi Dana Manfaat |
|
|---|
| Di Balik Inovasi Embarkasi Hotel Pertama dan Satu-satunya, Ada Dana Manfaat Bekerja Tanpa Terlihat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pameran-lukisan-fredoom-2.jpg)