Menanam Asa di Tanah Handayani, Kala Petani Punk Gunungkidul 'Gerilya' Pasok Dapur MBG

Komunitas Petani Punk Gunungkidul siap berkolaborasi dengan SPPG untuk menyuplai kebutuhan sayuran

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Realisasi sinergitas pasokan bahan pangan hasil pertanian komunitas Petani Punk Gunungkidul untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Panas terik matahari yang menyengat di bumi Handayani sama sekali tidak menyurutkan langkah sekumpulan anak-anak muda ini 

Di balik penampilan nyentriknya, terdapat hentakan yang lebih garang dari sekadar alunan musik distorsi, yakni semangat mendorong kedaulatan pangan.

​Mereka adalah Komunitas Petani Punk Gunungkidul, yang menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung menyokong dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sinergi dengan program lokal Lumbung Mataraman.

​Komunitas tersebut bergerilya di Kalurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunungkidul, yang belakangan denyut nadi pertaniannya terasa lebih kencang. 

Lurah Ngleri, Supardal, menyadari bahwa wilayahnya punya harta karun berupa potensi pertanian yang melimpah untuk menyokong kebutuhan gizi anak sekolah.

Demi memuluskan langkah itu, pemerintah kalurahan telah membangun 12 sumur tegalan dan akses jalan usaha tani, agar distribusi hasil panen tak lagi terhambat sulitnya medan.

"Selain itu, kami lakukan penguatan kelompok tani di setiap dusun, termasuk kelompok tani dari kalangan milenial dan wanita," tandasnya, Selasa (24/2/2026).

Meski infrastruktur mulai tertata, ia tetap mewanti-wanti pentingnya pendampingan berkelanjutan, baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

Khususnya, mengenai ketersediaan bibit, pupuk, sampai akses lahan bagi warga masyarakat yang memutuskan terjun ke dunia pertanian.

"Kami dorong petani untuk berinovasi melalui penanaman berbagai jenis tanaman hortikultura (sayur-mayur) sesuai musim agar pasokan bahan baku tetap stabil," ucapnya.

Baca juga: Kebebasan Perdana Arie Dinilai Bisa Jadi Preseden Terhadap Keadilan dan Kebebasan Berekspresi

Sementara, bagi SiBagz, salah satu motor penggerak Petani Punk Gunungkidul, dapur MBG jadi jawaban atas keresahan menahun para petani muda. 

Pasalnya, momok terbesar mereka bukanlah hama, melainkan rantai distribusi yang relatif panjang dan ketergantungan pada pengepul atau tengkulak.

​"Selama ini hasil petanian sayur di Gunungkidul luar biasa, namun terkadang bingung untuk pemasaran, harus bergantung pada pengepul," keluhnya.

Oleh sebab itu, menurutnya, sinergitas semacam ini bukan sekadar transaksi jual-beli bahan pangan semata, melainkan momentum regenerasi. 

Ia bermimpi 20 tahun ke depan, anak muda tak lagi malu memegang cangkul, karena mereka tahu ladang adalah sumber kehidupan sekaligus pilar ketahanan pangan nasional.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved