Ledakan Mercon di Bantul
Kasus Ledakan Mercon di Srigading Bantul, Polisi Periksa Lima Saksi dan Telusuri Sumber Bubuk Mesiu
Dua pelajar mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut, yakni FZA (19), warga Gadingsari, Kapanewon Sanden dan AAN (18), warga Srigading.
Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Polisi masih mendalami kasus ledakan mercon di RT 25, Ngunan Unan, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul
- Peristiwa ledakan mercon di Bantul tersebut menyebabkan dua pelajar luka-luka dan harus dilarikan ke Rumah Sakit
- Polisi juga mendalami dan menelusuri asal sumber bubuk mesiu yang digunakan untuk meracik mercon
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Polisi masih mendalami kasus ledakan mercon di RT 25, Ngunan Unan, Kalurahan Srigading, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.
Peristiwa ledakan mercon itu sendiri terjadi pada Minggu (22/2/2026) pagi pukul 05.25 WIB.
Dua pelajar mengalami luka-luka akibat peristiwa tersebut, yakni FZA (19), warga Gadingsari, Kapanewon Sanden dan AAN (18), warga Srigading.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengungkapkan saat ini polisi memeriksa lima orang saksi terkait peristiwa tersebut.
Lima saksi tersebut adalah pihak-pihak yang mengantarkan korban ke rumah sakit hingga para tetangga di sekitar lokasi kejadian ledakan mercon.
"Sementara ini, masih proses penyelidikan. Sampai saat ini ada lima saksi yang sudah dimintai keterangan," katanya kepada Tribunjogja.com, Senin (23/2/2026).
Rita mengatakan dua pelajar korban ledakan mercon saat ini belum bisa dimintai keterangan.
Pasalnya, mereka mengalami luka cukup serius dan masih dalam proses penanganan dan perawatan medis.
"Untuk korban FZA mengalami luka di kaki dan mata. Untuk korban AAN mengalami luka pada sejumlah tubuh dan jari tengah kanan patah. Sampai saat ini, mereka masih menjalani perawatan di rumah sakit terkait," beber dia.
Polisi Dalami Sumber Bubuk Mesiu
Terkait sumber bubuk mesiu yang digunakan oleh dua korban untuk meracik mercon, sampai ini ini belum diketahui sumbernya.
Namun, pihak kepolisian tetap berusaha menelusuri hal tersebut.
Lebih lanjut, saat disinggung siapa yang akan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut, Rita mengaku belum bisa memastikannya.
"Semua masih didalami," ujar Rita.
Kendati demikian, Rita mengimbau kepada masyarakat untuk mengisi momen bulan suci Ramadan dengan kegiatan yang positif, bukan kegiatan membahayakan bagi diri sendiri, orang lain, maupun kegiatan meresahkan masyarakat.
"Kepada anak-anak, remaja, dan masyarakat agar tidak bermain mercon, karena bisa meledak kapan saja dan menyebabkan luka yang serius, bahkan kehilangan anggota tubuh. Jaga diri dan orang lain, jangan main mercon," pesan Rita.
Baca juga: Kesaksian Istri Dukuh Soal Ledakan Mercon, Korban Alami Luka Bakar Serius, Dirujuk ke Sardjito
Keterangan Panewu
Dikonfirmasi terpisah, Panewu Sanden, Linangkung Herawati, menyampaikan luka bakar yang dialami masing-masing korban tergolong parah atau dari 70 persen dan 80 persen.
Bahkan, mereka harus dirujuk ke RSUP Dr Sardjito untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Kalau enggak salah, luka bakar yang lebih dari 80 persen itu dialami oleh FZA dan dirujuk ke RSUP Dr Sardjito. Untuk AAN, kemarin informasinya enggak parah, tapi ternyata luka bakarnya lebih dari 70 persen dan dirujuk ke RSUP Dr Sardjito," papar dia.
Dikatakannya, begitu ledakan mercon terjadi ada salah satu dari korban yang sempat menolong korban satunya.
Namun, Linangkung mengaku belum bisa memastikan lebih lanjut.
Pantau Lokasi Kejadian
Linangkung turut menyampaikan, saat kejadian dirinya tidak berada di sekitar lokasi.
Sebab pada saat bersamaan, dirinya sedang memantau kondisi di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) bersama jajaran forum pemerintah tingkat kapanewon.
"Karena kami waspada dengan orang-orang yang mengisi waktu di sekitar JJLS setelah Salat Subuh. Tapi, pas di situ kaimi tidak dengar ada ledakan mercon, hanya kendaraan berlalu lalang," tuturnya.
Tiba-tiba sekitar pukul 06.00 WIB, Kapolsek Sanden mendapat telepon dari personelnya bahwa ada ledakan mercon di Ngunan Unan.
Kabar itupun didengar oleh Lingkungan, sehingga bersama-sama bergegas menuju lokasi kejadian walau pijak anggota Polsek Sanden sudah tiba terlebih dahulu di lokasi kejadian.
"Ketika kami sampai di lokasi, belum dikasih garis polisi jadi enggak berani mendekat. Terus kami tanya tetangga, ternyata memang di situ disinyalir ada perakitan mercon yang dilakukan oleh pemuda," ucap dia.
Linangkung pun menyebut bahwa ketika sudah sampai lokasi kejadian tidak melihat korban dikarenakan sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Namun, ia melihat serpihan plafon di lokasi kejadian dan darah berceceran.
"Nah, untuk bubuk mesiu dari mana saya belum tahu. Itu masih ditelusuri sama kepolisian. Karena saking parahnya, korban enggak bisa diajak komunikasi. Kayaknya pendengaran mereka terganggu karena ledakan mercon itu," urainya.
Lebih lanjut, Linangkung menyebut bahwa di lokasi kejadian tersebut tidak ada anak yang sering bermain mercon, apalagi merakit mercon.
Bahkan, dalam kejadian itu, bahan racikan mercon dibawa oleh teman AAN.
"Kemungkinan, anak-anak asli di situ relatif tidak begitu (tidak suka bermain mercon dan merakit mercon). Ya kemungkinan itu dari luar. Entah bahan dari mana, tapi ya mungkin teman-teman AAN yang bawa bahan ke lokasi kejadian," urainya.
Pengobatan Ditanggung Mandiri
Saat disinggung terkait respons masing-masing orangtua korban, Linangkung mengaku belum bertemu dikarenakan masing-masing orangtua dalam kejadian ledakan mercon syok.
"Tapi, kami sudah menelusuri orangtua dua korban ini termasuk orang mampu secara ekonomi. Melihat rumahnya kayaknya mereka orang mampu. Jadi biaya pengobatan mereka ditanggung pribadi, tidak lewat APBD. Apalagi itu merupakan korban sekaligus diduga pelaku," beber dia.
Linangkung memastikan bahwa biaya pengobatan seseorang yang diduga sebagai pelaku dalam pembuatan racikan mercon, tidak bisa ditanggung.
Dengan begitu biaya pengobatan AAN dan FZA ditanggung oleh masing-masing keluarga.
"Dan itu semua, termasuk kejadian ledakan mercon sudah kami sampaikan ke Asisten Pemerintahan Kabupaten Bantul. Pak Asek mengarahkan untuk kami pantau perkembangan kejadian itu," tandas dia.
Kronologi Peristiwa
Diberitakan sebelumnya, dua orang pelajar mengalami luka-luka dan satu bangunan rumah di RT 25, Ngunan Unan, rusak akibat terkena ledakan mercon pada Minggu (22/2/2026) pukul 05.25 WIB.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengungkapkan, dua korban luka itu tak lain FZA (19), warga Gadingsari, Kapanewon Sanden, dan AAN (18), warga Srigading.
Ledakan mercon itu terjadi saat korban bersama-sama meracik mercon di rumah AAN.
"Awalnya, sekitar pukul 05.00 WIB, korban AAN dan rekan-rekannya berkumpul di rumah AAN. Kemudian, FZA datang membawa bubuk mesiu atau mercon seberat empat ons dan beberapa plastik warna transparan," katanya, kepada awak media.
Saat itu, FZA mengajak rekan-rekannya untuk membuat mercon. Namun, hanya korban AAN yang bersedia diajak membuat mercon.
Akhirnya, AAN dan FZA membuat mercon di teras rumah sebelah selatan yang berdekatan dengan kursi, sedangkan empat rekannya duduk di kursi sebelah timur.
Rekan-rekan korban, melihat AAN dan FZA membuat mercon dengan cara memasukkan bubuk mercon ke dalam plastik dan diisi dengan batu kecil atau kerikil.
Kemudian diikat dengan plester bening serta diletakkan di dekat AAN dan FZA.
"Rekan korban melihat korban telah selesai membuat satu mercon dan sedang membuat mercon yang kedua. Namun saat mercon kedua belum sempat ditali, terdengar bunyi ledakan yang keras hingga menyebabkan atap plafon, kaca jendela, serta lantai tempat ledakan menjadi retak," beber Rita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ledakan-Mercon-Lukai-Dua-Pelajar-dan-Hancurkan-Plafon-Rumah-Warga-Srigading.jpg)