Human Interest Story

Cerita Santri Darul Ashom di Godean Sleman, Mengejar Cita-cita Jadi Pengajar Agama bagi Tunarungu 

Pondok Pesantren Darul Ashom, pondok pesantren tunarungu pertama di Indonesia yang berlokasi di Sidomoyo, Godean, Sleman

Tayang:
Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani
BACA ALQURAN - Santri di Pondok Pesantren Darul Ashom membaca Alquran dengan bahasa isyarat Hijaiyah, Jumat (20/2/2026). 

Pondok pesantren Darul Ashom didirikan pada 19 September 2019 di Srandakan, Bantul.

Kemudian pada tahun 2021 pindah ke Condongcatur, Sleman, dan pada September 2025 memiliki tempat baru di Sidomoyo, Godean, Sleman.

Sepuluh tahun sebelum mendirikan pondok pesantren di Yogyakarta, pendiri sekaligus pengasuh Darul Ashom, Abu Kahfi sudah menyiarkan agama Islam kepada anak tunarungu di Bandung.

Pada akhir tahun 2009, Abu bertemu dengan seorang tunarungu di Jakarta.

Kala itu ia kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa bahasa isyarat.

Ia pun berkomunikasi dengan mengetik pesan di ponsel. 

“Kemudian mendalami dunia mereka, ternyata mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan agama. Kalau anak dari sekolah, dari masa belajar nggak mengenal agama, maka sangat berisiko ketika dewasa, blank sekali, nggak ada dasar sama sekali,” tuturnya.

Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi, Jumat (20/2/2026).
Pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi, Jumat (20/2/2026). (Tribun Jogja/Christi Mahatma Wardhani)

Sekembalinya dari Jakarta, ia mencoba merangkul tuna rungu yang ada di Bandung, kota asalnya.

Tidak langsung mengajak belajar agama, ia justru mengajak latihan olahraga.

Ada sekitar 8 anak berkumpul untuk berolahraga bersama.

Satu bulan kemudian, ia mengajak anak-anak itu belajar agama di rumahnya.

Gayung bersambut, anak-anak itu datang dan antusias belajar.

Abu memang tidak bisa bahasa isyarat, namun karena sering berkomunikasi dengan tunarungu, ia bisa belajar.

“Ternyata kata mereka, baru ada ustaz yang mengajari agama buat saya. Jadi dari dulu enggak ada ustaz yang ngajarin agama. Dari situ, saya tambah mendalami dunia mereka,” lanjutnya.

Dari Dua Santri Kini Ratusan Santri

Dari situlah ia merasa perlu membuat madrasah untuk anak-anak tunarungu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved