Kebudayaan, Pariwisata dan Pendidikan di Mata Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman

Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, bicara soal isu-isu pariwisata, kebudayaan, sosial, ekonomi dan pendidikan.

Tayang:
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa/Dok. Tangkapan layar
Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman saat diwawancara bersama Tribun Jogja, Kamis (5/2/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki keunggulan dalam industri pariwisata, kebudayaan, serta kualitas pendidikan yang bagus.

Untuk memaksimalkan beragam keunggulan tersebut, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak.

Dalam kesempatan wawancara eksklusif Tribun Jogja dengan Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, muncul beberapa pemikiran positif yang berkaitan dengan isu-isu pariwisata, kebudayaan, sosial, ekonomi dan pendidikan.

Berikuti pernyataan Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, dikutip dari hasil wawancara eksklusif Tribun Jogja, Kamis (5/2/2026).

Apa keunggulan DIY terkait pariwisata dan budaya?

Keunggulan pariwisata dan budaya di DIY ini pertama memang pariwisata dan budaya ini merupakan warisan dasar kita. Ini merupakan warisan yang hanya dimiliki oleh DIY. Ini merupakan suatu warisan sejarah panjang, sehingga sampai hari ini warisan budaya itu menyatu dengan masyarakat. Ini tidak terputus sampai hari ini, langsung sudah menjadi darah daging dan perpaduan budaya sudah menjadi ciri khas kita, dan itu akhirnya keunggulan pariwisata kita salah satunya karena menyangkut kehidupan sehari-hari seperti keramahan masyarakat Jogja yang merupakan warisan dan keunggulan yang kita punyai. 

Kalau kita bicara keungulan budaya saya ingin mengatakan bahwa sumber daya itu bukan hanya sumber daya alam, budaya itu merupakan sumbur daya juga, dan Jogja memiliki sumberdaya namanya budaya yang tiddak dimiliki daerah lain. Ini merupakan warisan yang kita lestarikan, ditambah budaya ini sudah mendarahdaging, masyarakat Jogja ciri khasnya keramahan kita menyatu sehari-hari.

Selama ini apakah pemerintah telah mendorong tumbuhnya pariwisata dan pelestarian budaya? Bagaimana dukungan DPRD DIY

Kalau konteks dukungan, DPRD DIY gak henti-hentinya mensuport perda-perda yang mendukung sektor pariwisaa dan budaya. Kami banyak perda yang mendorong pariwisata berbasis kearifan lokal sekaligus budaya. Ini dalam satu tahun perda berbasis pariwisata banyak, kemarin baru disahkan perda tentang pariwisata berbasis budaya kalurahan dan kelurahan. Kami gak ada hentinya dan dalam bentuk kegiatan kita mensuport yg basisnya untuk peningkatan pariwisata dan melestarikan kebudayaan.

Bagaimana membuat wisatawan betah tinggal di Yogya, apakah lewat event, penataan tempat wisata dan lain-lain?

Rata-rata wisatawan di Jogja kalau dibandingkan Bali itu rata-rata mereka (di Bali) seminggu atau tujuh hari, tapi di Jogja ini satu setengah hari, rata-rata nih tapi kebanyakan tiga hari dua malam. Dan wisatawan mancanegara, Jogja bukan destinasi utama bagi mereka. Jogja destinasi tambahan mungkin utamanya Bali lalu meluangkan ke Jogja. Ini yang memang harus diperbaiki. Menurut saya itu harus ada penggabungan, harus ada kolaborasi antara dunia industri pariwisata dengan pemangku kebijakan. Sehingga selama ini yang tidak klop, contoh kenapa gak klop ? banyak event juga tidak tersampaikan ke industri pariwisata sehingga industri gak tahu disini ada event ini dilaksanakan pemda. Sehingga banyak event lewat wisatawan hanya itu-itu aja ke Jogja. Kalau event diberitakan, nah, itu salah satu poin yang bisa membuat mereka tinggal lebih lama. Point lain, ya, artinya sektor pendukung ini yang ada fasilitas sarpras memang harus mendukung, untuk itu kita juga harus tahu ini sebenarnya marketnya mau apa. Mereka diminta tinggal lebuh lama tapi seringkali kali di Jogja, oke aku mau ke Kraton atau Malioboro, ya, sudah itu paling lama dua hari selesai. Setelah itu wisatawan mau ke mana apa yang mau dinikmatin? nah ini belum tergali secara fokus dan belum terkoordinasi antara industri pariwisata dengan pengambil kebijakan. Ini kan masalah lama tinggal wisatawan udah dikaji sejak lama dan itu gak beranjak, nah, ini seharusnya kita memang membuat pandangan dengan paradigma baru kalau cara lama dan menghasikan hal yang berbeda kan mustahil, kita perlu terobosan baru, koordinasikan wisatawan maunya apa sih gabungin market industri dengan pemda ini bagaimana. Terus ada program desa wisata, pemda membangun desa wisata mandiri habis itu dilombakan. Tapi bagi industri wisata gak nyambung tampaknya. Ini desa wisata lomba juara satu, tapi wisatawannya bisa dihitung jari. Kan tujuan desa wisara untuk wisatawan bukan ngejar predikat desa wisata. Ini harus diubah paradigmanya supaya dunia pariwisata DIY bisa berkembang. 

Apakah pariwisata DIY sudah mampu mengungkit ekonomi, bagaimana dengan UMKM?

Ya, kalau pertanyaan sudah bisa mengungkit ekonomi jawaban sederhana, sudah. Karena kita DIY pada dasarnya perekonomian dibangun melalui UMKM. Kita tidak punya industri besar, perekonomian DIY dibangun oleh UMKM. Hubungannya selama ini UMKM banyak mendukung sektor pariwisata. Selama ini roda perekonomian DIY dari umkm, industri pariwisara baik handy craft kulinernya dan sebagainya. Permasalahannya kita ini kurang fokus untuk pariwisata dan budaya, karena kita harus sadari bahwa satu-satunya keungulan DIY dibanding 38 provinsi lain itu kita memiliki pariwisata dan budaya. Ini modal kita, potensi kita ada disitu. Kalau Jogja ingin meningkatkan kesejahteraan mari fokus ke situ. Fokus kita, gak usah malu-malu, mari kita mencotek Bali. Bali bisa meningkatkan APBD bisa sekian, dia urutan peringkat kemakmuran nomor 5, karena mengandalkan fokus disektor pariwisata, UMKM di Bali, industrinya di Bali semuanya mendukung sektor paiwisata.

Bagaimana Pak Budi Waljiman melihat pendidikan DIY hari ini? 

Pendidikan DIY hari ini, menurut saya DIY itu masih barometer pendidikan nasional dari sisi mutu dan kualitas. Ini masih salah satu barometer nasional. Nah, karena memang ini dari sejarah panjang DIY.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved